APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 14


__ADS_3

Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Aku dan Bian sampai di lokasi diadakannya event. Bian sengaja parkir di lokasi yang cukup jauh dari Villa. Dia bilang takut nanti rame yang datang dan mobilnya nggak bisa keluar.


Tapi Aku pikir itu alasan aja, dia seorang anggota DPR, kalaupun mau keluar pasti nanti ada yang bantu. Kalau kayak gini kita jadi harus jalan cukup jauh untuk sampai di Villa.


“Aku udah liat susunan acaranya, semoga peserta disini pada suka dan menikmati,” ujar Bian tiba-tiba saat kita jalan.


“Aku masih belum liat sih, cuma kalau dilihat dari pembukaannya tadi aja udah keliatan kalau acaranya bakal beda.” Aku terus melihat lurus ke depan nggak berani melihatnya.


“Kalau emang nggak seru kamu bisa protes ke aku,” kata Bian yang Aku rasa dari tadi menatapku.


Aku mencibir, “Mana berani Aku,” gumamku pelan.


Untung saat Aku sampai di dekat Villa kondisi sepi, jadi Aku rasa tidak ada yang tahu kalau Aku datang bersama Bian. Setelah mengucapkan terimakasih dan berbasa basi sedikit Aku pamit ke Bian dan langsung ke panitia, mencari tahu kamarku.


“Nara…” panggil Rima heboh. Ternyata Rima dan Aida menunggu di lobi hotel.


“Kita sekamar, ditambah sama Fira Jombang,” seru Rima seperti tau apa yang aku pikirkan.


“Wah, bakal seru dong.” Aku jelas semangat mendengar kabar itu.


“Campur tangan si Aida nih,” seloroh Rima.


Ternyata koperku sudah diangkut anak-anak ke kamar, jadi kita jalan bareng sambil bercanda. Untuk saat ini kegiatan masih free, karena kita harus beres-beres kamar. Baru nanti sore  acara kembali digelar, karena para cowok juga harus sholat jum’at.


“Lo datang sama panitia?” selidik Aida saat Aku dan yang lain rebahan sebentar di ranjang.


Di setiap kamar diisi oleh dua bed besar, tiap bed diisi  dua orang, jadi total ada 4 orang di setiap kamar. Ini Villa baru, bangunannya besar dan bersih. Fasilitas di kamar juga lengkap, ada kamar mandi, lemari, meja dan cermin besar.


“Nggak, Sama PAk Fabian.” jawabku santai.


“Hah? serius lo? Pak DPR yang gantengnya MasyaAllah itu?” Rima heboh, bahkan dia yang awalnya rebahan langsung duduk.

__ADS_1


“Hadeeeh.” Aku memutar mataku jengah, “Iya.”


Disini Aku baru sadar kalau ternyata memang Bian populer, banyak yang mengidolakannya. Wajar sih, dia ganteng banget, keliatan bak, dewasa, di umurnya yang masih muda sudah jadi anggota DPR, gimana nggak cemerlang tuh.


“Kok bisa sih Na?” Fira yang dari tadi sibuk main ponsel ikut nimbrung.


“Bisa lah, tadi waktu Aku protes ke panitia kebetulan ada orang itu. Tapi kalian nggak usah ember ke yang lain ya, entar ada yang julid.” Aku memperingatkan mereka.


“Aman Na,” sahut Aida.


“Lagian kalian ya, udah tau Aku tadi ke toilet malah ditinggalin.” heranku sambil menatap Aida dan Rima gantian.


“tadi tuh kita udah bilang ello masih di toilet, terus ada yang nyeletuk kalau elo udah berangkat ikut rombongan pertama.” jelas Rima nggak mau disalahkan.


“Dasar tuh orang, mulutnya nggak bisa ngomong bener,” gerutuku kesal.


Setelah acara menggosip bentar di kamar, kita berempat milih keluar kamar. sekedar ingin menikmati suasana, Aku sendiri sebenarnya sudah tidak sabar untuk bermain di pantai.


Kita mulai membaur dengan peserta yang lain,  mulai berkenalan dengan anggota baru. Sampai sejauh ini semuanya terlihat baik-baik saja, tapi biasanya nggak lama baru keliatan siapa yang julid. 


Dari sekian banyak anak cowok, Aku malah tertarik ke satu orang yang dari tadi terlihat akrab dan ngobrol bersama peserta lain, dia adalah Bian. Aku sekarang sadar kenapa banyak yang menyukainya, dia terlihat sangat berbeda. Apalagi saat ini dia memakai Sarung dan baju koko, jangan lupakan peci hitam yang bertengger di kepalanya, gantengnya jadi berlipat ini sih.


“Pada ngapain disini? Ayo masuk bentar lagi makan siang,” ujar Bian saat melewati kami.


Kebetulan Aku sedang berdiri di pinggir,  Dia mengangguk dan tersenyum kepadaku. Dan lagi-lagi hatiku meleleh dengan sikap sederhananya. Bahkan anak-anak sudah heboh berkasak kusuk tentang anggota DPR itu.


Aku sampai bingung dengan diriku sendiri, Aku yang awalnya merasa kesal karena sikapnya yang menyebalkan, semakin kesini jadi ikutan meleleh. aku akui dia memang punya daya tarik sendiri, apalagi setelah tadi kita berangkat kesini bareng.


Setelah makan siang, kita semua dikumpulkan di halaman Villa. Kegiatan siang ini kita terjun ke pantai. Mengambil sampah yang berada di sekitar pantai.


Dengan peserta yang lumayan banyak kita dibagi ke beberapa lokasi. Kebetulan lokasiku berada di pinggir pantai yang cukup sepi. Ada sekitar 15 orang yang berada di lokasi yang sama denganku. 

__ADS_1


Kami mengambil sampah dengan santai dan ngobrol ringan. Cuaca cukup panas siang ini, untung kita semua memakai topi. 


"Capek?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangku.


Aku sedikit kaget karena orang itu adalah Bian. Dia memakai baju yang sama dengan kami semua, bahkan juga ikut memungut sampah. 


Aku tolah toleh, memastikan apa dia sedang menanyai ku. Takut aja kalau Aku GR, padahal dia sedang ngobrol dengan orang lain. 


"Aku nanya ke kamu Ra." Bian terkekeh melihat respon ku. 


Dan aku benar-benar terlihat begoo disini. "Owh, enggak Pak, udah biasa." Jawabku mencoba santai. 


Bian ngangguk-ngangguk, "Kalau capek istirahat, jangan dipaksa. Nanti aku dihajar lagi sama kakak kamu," sindirnya yang membuatku berdecak kesal. 


"Ck. Nggak gitu lah," sangkal ku. 


"Yaudah, jangan dipaksa pokoknya, kalau kamu pingsan nanti saya yang repot," imbuhnya dengan berlalu pergi. 


Aku menghela nafas panjang, tuh orang beneran usil dan nyebelin, rasanya aku pengen getok kepalanya, untung dia ganteng dan Anggota DPR, kalau bukan pasti sudah habis kena omelin. 


Selesai bersihkan sampah kita bermain dan bersantai dulu di pantai. Setelah puas kita kembali ke villa, bersih-bersih serta bersiap untuk makan malam dan kegiatan lainnya. 


 "Na, elo kenal sama Pak Bian?" Bisik Aida saat kita sedang di kamar berdua. 


Aku mengernyit, "Kenapa emangnya?" tanyaku heran. 


"Gue liatnya kalian tuh kayak yang udah kenal lama gitu." ujar Aida santai. 


"Kalau nggak salah Minggu lalu kita ketemu di Surabaya, kebetulan memang ada acara di sana. Sempet ngobrol juga, terus tadi kita berangkat bareng, wajar sih kalau kelihatan dekat padahal ya biasa menurutku," kataku menjelaskan. 


Aida mengangguk, "Dia tuh banyak fansnya, para panitia sudah mulai gosipin lo, mereka bilang elo kegatelan, godain Pak Bian. Jadi elo hati-hati ya, telinga sama mental lo kudu tahan banting. " Aida mengingatkan. 

__ADS_1


"Siap!" kataku dengan tersenyum lebar. 


***


__ADS_2