
Aku sedang menikmati panggung rakyat di acara puncak hari jadi kota Surabaya. Kak Dio dari awal sudah bilang kalau tidak bisa menemaniku. Kak Niko dan Syahnaz juga sedang ada acara. Kalau Aku nggak datang pasti nggak enak sama yang lain.
Akhirnya Aku datang, sepanjang acara gak pernah lepas dari temen-temen di Organisasi. Kebetulan juga Ivon datang sendirian, jadi kita liat dan nyanyi bareng.
Saat Ivon bilang harus pergi Aku mulai merasa nggak nyaman, ada teman yang lain tapi mereka ada pasangan. Dan saat itu ada orang yang mendekatiku, rasanya Aku pengen nangis saat ini juga.
"Kamu?" Kaget ku dan mundur satu langkah.
Orang itu tersenyum dan langsung menarik tanganku untuk kembali duduk. Aku masih belum bisa berkata, rasanya masih kaget. Dan nggak tahu harus berbuat apa.
"Kamu kok takut gitu?" Tanyanya lagi.
Aku langsung noleh, "Gimana gak takut, kamu tiba-tiba disini, pake topi gitu. Mana gelap mana tau kalau itu kamu." Cerocosku.
Orang itu tersenyum, "Maaf ya udah bikin takut,"
"Ck, kamu kok disini?" Heran ku.
"Aku diundang," Jawabnya santai.
"Ya tau, maksudnya kursi VIP kan disana, kamu kesasar?" Tebak ku bercanda.
Orang itu tersenyum, "Sengaja kabur, disana bosen." Alasannya.
"Nggak dicariin sama team?" Pancing ku.
"Tadi Aku udah pamit, bilang ada urusan dadakan. Sakti sama Yusman udah pada nyebar gak tau kemana." Jawabnya kembali pakai topi.
"Owh… " Aku mengangguk dan kembali menikmati acara konser.
"Apa sih Bi," Protes ku karena ngerasa daritadi Bian memperhatikanku.
Ya, cowok itu adalah Fabian Pradipta. Dia memang mendapat undangan di acara ini, tapi Aku nggak nyangka aja dia bisa ada di tempatku.
"Apa? Aku kan lagi melihat keindahan," Godanya.
"Astaga, tuh liatnya ke depan." Seloroh ku.
Bian terkekeh, "Apa kabar?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Alhamdulilah Baik kok," Jawabku.
"Aku senang akhirnya kamu bisa kembali aktivitas di organisasi," Ucapnya tulus.
Aku senyum, "Iya, setelah telpon sama kamu waktu itu, terus Aku juga konsul sama beberapa orang, kayaknya emang jiwaku ada di disini," Jawabku sambil tersenyum.
"Jangan senyum gitu Ra," Dia mendesah dan menunduk.
Aku mengernyit, "kenapa?"
"Kalau Aku jadi cinta, kamu mau tanggung jawab," Godanya dengan tatapan dalam.
__ADS_1
Blussh…
Aku langsung menunduk dengan senyum-senyum nggak jelas. Pipiku pasti memerah karena gombalan receh dari Bian tadi. Dia nggak tau aja kalau jantungku dari tadi sudah berdetak gak karuan.
"Pinter banget ya Bapak ngegombal," Sindirku.
"Hahaha, Gak gombal dong, Aku serius Ra," ucapnya.
"Haissh, ya ya ya," Aku pilih mengalah daripada menanggapi ucapannya.
Bian tersenyum, senyuman yang begitu manis. Cowok ini benar-benar mempesona, kalau dia senyum itu seperti ada magnet yang terus menarikku. Bahaya ini, Aku bisa hanyut dalam pusaran pesona Bian.
Kita berdua sama-sama diam, menikmati hiruk pikuk suara musik dan kehebohan yang terjadi. Aku memang penyuka musik, dan suka mendengarkan. Acara musik seperti ini memang lagi digandrungi oleh banyak orang.
Sesekali kulirik Bian yang juga terlihat fokus melihat ke panggung. Aku mencibir dasar cowok, pasti dia sedang melihat host acara yang merupakan artis terkenal dengan wajah cantik dan pakaiannya yang seksi.
“Kenapa? kok kayak sebel?” tanya Bian tiba-tiba.
“hah? Nggak apa-apa,” jawabku cuek, “Cantik ya si Arsya, dia kan penyanyi asal kediri yang lagi rame itu,” sindirku tiba-tiba.
“cantiklah, masa penyanyi sekelas Arsya nggak cantik,” sahutnya.
Mendengar jawaban Bian entah kenapa Aku jadi makin kesal, moodku mendadak ambyar. Kuambil ponselku dan langsung mencari nama Kak Dio, sepertinya dari tadi dia belum chat, Aku hanya ingin menanyakan kondisinya.
“Jalan aja yuk! Udah mulai nggak kondusif” Ajaknya dan langsung menggenggam tanganku.
“Eh bentar,” Aku masih kaget dan syok dengan sikap dia yang menggenggam tanganku.
Aku tersenyum dan mengangguk, Bian menuntunku untuk mencari jalan. Semakin malam acara memang akan semakin rame, dan rawan keributan. Sepertinya saran Bian memang ada benarnya, daripada nanti Aku kayak orang ilang sendirian.
Kita berdua jalan menerobos keramaian, Untung ada Bian, jadi Aku hanya bisa pasrah mengikutinya. Dari arah belakang Bian masih terlihat tampan, posturnya yang tegap benar-benar nyaman dijadikan tempat sandaran.
“Dimana?” tanya Bian saat menerima telepon.
“(---)”
“Gue lagi mau nyulik anak gadis orang,” ujar Bian sambil meliriku, aku hanya manyun.
“(---)”
“Oke,” sahut Bian dan menutup telponnya.
Bian menatapku, “teman-teman masih di dalam ternyata, nggak apa-apa kan kita nunggu, nanti aku antar balik,” ucapnya.
“Nggak usah diantar juga nggak apa-apa kok, Aku bisa minta jemput,” kataku merasa tidak enak.
“Eh jangan, kalau kamu dijemput gantian aku yang kayak orang ilang sendirian,” seru Bian dengan wajah melas.
Aku senyum, “oke-oke,”
“Tapi jam malam aman ya?” tanya Bian sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
Akhirnya Aku menelpon Bunda, dan Bian sendiri yang berbicara dengan Bunda untuk meminta izin. Karena memang dari awal Aku sudah ijin pulang malam dan nanti dijemput Pak Slamet, akhirnya Bunda mengijinkan dan meminta tolong Bian untuk nanti mengantarku pulang.
Aku dan Bian berdua menyusuri jalanan kota Surabaya, suasana masih ramai karena memang ada acara, sepanjang jalan juga disulap jadi lahan parkir. Kita berdua sepakat mau mencari Cafe yang ada di ujung jalan. Cafe itu memang buka 24 jam.
“Tempatnya enak,”ucap Bian sambil melihat ke sekeliling Cafe.
“Biasanya ada live music juga,” imbuhku.
“sekarang juga kedengaran live musicnya,” ucap Bian sambil tersenyum. Samar memang terdengar suara music di konser.
Aku ikut tersenyum, “Gimana Kabar tante sama Fio?”
“Mama masih tetap bawel, kalau Fio masih tetap menjengkelkan,” kelakar Bian.
aku ketawa, “Kamu nih! nanti langsung balik Malang?”
“Enggak, besok siang kayaknya,” ujar Bian. “kenapa? Mau ajak jalan?” pancingnya.
“Hah?” Aku jadi bingung ditodong Bian seperti itu.
Bian tertawa, “Besok pagi Aku ada janji sama Niko, kalau mau ikut aja,”
“Kak Niko? kalian mau ada bisnis apa sih?” tanyaku penasaran.
“Niko nggak cerita?” Bian balik nanya.
“Enggak,” jawabku sambil makan roti bakar.
Bian menopang dagunya, “Cerita nggak ya,” godanya.
“Haiiish, kalian itu ya, para cowok suka banget bikin penasaran,” sindirku.
“Hahaha, Mangkannya besok ikut aja, siapa tau kamu juga mau gabung, lumayan investasi masa depan.” rayunya.
“Hmm, ngerayu, emang butuh investasi berapa? Uangku minim,” ucapku.
“Ck, keluarga Lazuardi mana bisa uang minim,” selorohnya.
Aku mendelik kesal, bagaimana orang ini bisa tahu. Aku jadi salah tingkah sendiri, pasti ini ulah Kak Niko.
“Ya ya ya, nanti kalau projectnya sesuai Aku bisa gabung,” ucapku dengan tersenyum.
"Ra," Panggil Bian tiba-tiba.
"Ya?" Sahutku dengan merapikan rambut di belakang telinga.
"Aku boleh ngomong sesuatu?"
***
__ADS_1