Aviza (Cinta Yang Hilang)

Aviza (Cinta Yang Hilang)
episode 19 kedatangan pelatih silat di desa aviza


__ADS_3

Setibanya di kelas aku menangis,Diana mencoba menenangkan ku. Aku sangat sedih kenapa harus ada yang mengungkit-ungkit tentang ardan lagi dan mempermalukan ku di kelasnya Imas padahal sejak kelas 3 hidupku sudah tenang tanpa kata Ardan.


Tiba-tiba Imas datang dan bertanya padaku


" siapa viz yang berani membuatmu menangis,jangan takut. Katakan saja padaku."


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.

__ADS_1


Imas terlihat sangat marah dan kembali ke kelasnya. Kalau saja Imas seorang cowok mungkin aku akan mencintainya karena dia sangat memperhatikanku dan melindungiku. Aku selalu aman dan nyaman di sampingnya.


Setelah kejadian itu entah kenapa tidak ada lagi yang menyebut nama Ardan di depanku. Walau Imas satu kelas sama Ardan,Imas juga tak pernah menyebut nama Ardan.


Hari-hari berlalu dengan kesendirianku.


Aku pun minta kepada ayahku untuk mendaftarkan diriku ikut pelatihan silat,karena aku tidak ingin di bully selamanya,aku ingin bisa silat untuk membela diriku sendiri. Sayangnya pelatih senior bilang bahwa aku belum cukup umur untuk ikut pelatihan silat karena minimal harus ber umur 16 tahun agar bisa masuk ikut latihan silat. Masih kurang 2 tahun lagi agar aku bisa ikut latihan silat.

__ADS_1


Setiap malam Minggu aku selalu melihat latihan silat di depan rumah shiv,temannya sepupuku iman dan juga aku mulai berani melirik cowok-cowok pelatih silat. Ternyata ganteng-ganteng juga pikirku. Setelah latihan silat teman-teman iman selalu selalu menginap di rumah iman. Hari minggunya mereka selalu bermain bola volley di depan rumah iman. Karena rumah iman tak jauh dari rumahku aku selalu melihat mereka bermain volly dari balek jendela. Ibuku dan kakakku jelita yang melihat itu mulai mengejekku dan bercanda denganku. Mereka kompak untuk membully ku. Walaupun tak bisa ku sangkal aku mulai tertarik pada cowok-cowok itu dan mulai memandangi mereka satu per satu mencari seseorang yang mungkin bisa menggoyahkan hatiku dari Ardan.


Ternyata teman-temannya iman banyak juga yang titip salam kepadaku lewat iman. Mendapat salam dari mereka hatiku berbunga-bunga. Aku tak lagi memperdulikan Ardan,aku mulai mencari kebahagiaanku sendiri.


Malam Minggu ini setelah menonton latihan silat. Tiba-tiba iman memanggilku dan menyuruhku untuk mampir ke rumahnya dan memperkenalkan teman-temannya padaku. Aku yang sedikit malu-malu berkenalan pada mereka dan langsung pulang karena aku nerves dan salting menghadapi mereka yang kebanyakan cowok semua.


Ada satu cowok yang perhatian sama aku,dia berkulit putih,tinggi walau tak begitu tampan tapi dia baik padaku. Dia teman iman dan juga pelatih silat. Dia adik pendiri silat di desaku yang baru pindah 5 bulan yang lalu. Pantesan aku tak pernah melihatnya. Walaupun keluarganya dulu berasal dari desaku dan merantau ke luar kota tapi kini mereka kembali lagi ke desaku. Dia bernama shiv,setidaknya itu yang selalu di ucapkan teman-temannya. Kami mulai dekat dan akhirnya kita jadian. Aku seneng banget punya pacar pelatih silat. Entah ini yg di namakan cinta atau bukan tapi aku merasa senang beda saat dulu aku jadian sama Ares aku merasa tidak senang.

__ADS_1


Saat ibuku mulai curiga dengan pertemanan ku dengan shiv, ibuku mulai mengetahui hubungan kami dan melarang ku untuk berhubungan dengan shiv lagi. Ibu bilang keluarga shiv keluarga yang tidak baik. Aku tak tahu apa maksud ibuku ngomong seperti itu.


__ADS_2