Aviza (Cinta Yang Hilang)

Aviza (Cinta Yang Hilang)
Episode ke 95 Hancur


__ADS_3

Sebelum balik ke kota, Ria dan Viza lebih dahulu mengecat rambut mereka serta menindik telinga mereka. Mereka ingin menikmati masa muda dengan berbahagia. Terlihat keren di mata orang orang. Karena memang tidak punya uang mereka tidak bisa ke salon hanya mampu membeli cat rambut dan alat tindik di toko. Ria dan Viza bergantian mengecat rambut dan menindik telinga mereka. Ria hanya menindik 1 saja di telinga kiri sedangkan Viza menindik langsung 3 di telinga kirinya juga. Setelah selesai menindik telinga mereka, Ria kembali pulang sedangkan Viza kembali ke kota.


Ke esokan harinya Viza berangkat seperti biasanya.


Saat pulang kerja, sesampainya di rumah, nenek Viza marah melihat penampilan Viza berubah menjadi dengan rambut berwarna merah campur pirang serta telinga yang di tindik namun Viza mengabaikan kemarahan neneknya. Dia hanya ingin bahagia... menuruti kata hatinya. melakukan hal yang dia sukai.

__ADS_1


" Viz... kata Tante Neng kamu mengecat rambutmu menjadi merah dan memasang tindik di telingamu? Apa itu benar ?" sambil memandangi rambut Viza yang tambak kemerahan terkena cahaya lampu.


Viza hanya diam saja langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan kemarahan neneknya.


" kamu itu sudah tidak punya ibu, mau jadi apa kamu? berpenampilan kayak anak punk... kalau kamu seperti itu banyak yang mengira kami bukan cewek baik baik. "

__ADS_1


" Seharusnya kamu jadi anak yang baik, bersikap baik, agar cepat dapat jodoh. Dan mendapat jodoh yang baik pula. Tidak seperti ini. seperti bocah urakan. "


" Aku akan bilang bapakmu... supaya memotong rambutmu yang seperti itu. seperti berandalan saja tidak punya keluarga "


Merasa Neneknya sudah selesai bicara, Viza mulai membuka bantalnya dan berkata dalam hati.

__ADS_1


" aku memang tidak punya keluarga sejak kematian ibu nek, aku kehilangan kasih sayang yg dulu aku dapatkan dari keluargaku. setelah ibu tiada, tidak ada yang memperhatikan ku. ayah sibuk dengan urusannya sendiri, kakak sibuk dengan keluarganya sendiri. Aku hidup dengan diriku sendiri. Bekerja agar bisa beli susu Adek, Hidup dengan tekanan sana sini agar aku mau menikah dengan anak tiri budeku. sekarang budeku tidak memaksaku lagi untuk menikah dengan anak tirinya, aku merasa bebas.. apakah aku tidak boleh menikmati hidupku. menjalani hidup yang aku inginkan. Melakukan hal yang aku suka. Mencari kebahagiaan yang tidak aku dapatkan setelah kematian ibu. Aku lupa bagaimana itu keluarga. siapa itu orang tua? Aku kehilangan orang tua ku meski yang meninggal hanya ibu. Sedangkan ayah masih hidup tapi aku merasa kehilangannya juga. hidupku hancur saat kepergian ibu nek. Aku sangat terpukul dengan takdir ini. Tidak ada yang mengarahkan ku untuk menjadi lebih baik lagi, tidak ada yang menegurku saat aku salah. Nenek hanya bisa marah padaku. melampiaskan kekesalan nenek pada ayah kepadaku. Tidak bisa bersikap lembut padaku. setiap hari hanya kemarahan yang ku dapatkan saat aku tinggal di sini. itu yang kurasa. aku butuh seseorang untuk menjadi sandaranku namun Andin yang menjadi tempatku bersandar pun telah meninggalkan ku. semua ini membuatku hancur nek... Terkadang aku ingin menyusul ibu, Namun aku teringat janjiku kepada ibu, yang akan menjaga Risa saat beliau tiada, yang akan menjadi kakak sekaligus ibu baginya. Yang akan melindungi nya dari ibu tiri. Karena janji itu aku harus tetap hidup. ya .... aku tidak boleh menyerah pada kehidupan yang keras ini " Berlinang air mata Viza mengingat semuanya. Membuatnya tertidur dalam tangisnya.


__ADS_2