AYAH KEDUA

AYAH KEDUA
Eps 10


__ADS_3

Motor dengan bodi ramping melaju cukup santai , Rida kecil itu berputar tak begitu tergesa . Aku bingung harus berpegang pada apa , ya Rio yang mengantar ku pulang setelah meminta izin berkali-kali dan akhirnya aku kalah karena tak enak hati menolak kenaikan laki-laki itu.


" Tumben tidak bawa motor!"


kata Rio berusaha mencairkan suasana.


" Enggak kak lagi males soalnya."


Jawab ku memang begitu kenyataannya , aku sedang tak ingin berkendara hari ini dan meminta Indah untuk menjemput ku pgi tadi setelah semalam mengirimkan pesan.


" Oh ! Bagaimana kabar adik mu? kau pasti senang punya adik perempuan seperti dia ."


Ya Rio tak tau bagaimana kehidupan ku dan tak mungkin pula aku mengumbar bagaimana mengenaskan nya perasaan ku.


" Kenapa bisa bilang begitu?"


" Ya , orang bilang kalau kita punya saudara satu gender makan akan lebih mudah untuk mengajak bermain."


Ucap Rio yang memang sering ku dengar seperti itu. Tapi tidak berlaku untuk ku yang harus selalu mengalah atas perhatian ibu yang sangat terbagi.


Aku tak menanggapi lagi hanya menjawab sekenanya asal tak menimbulkan curiga.


" kak? Berhenti di sana aja!"

__ADS_1


Kata ku menunjuk Gang yang akan membawa ku kejalan rumah.


" Kenapa? bukankah aku terlihat seperti pengecut yang mengantarkan gadis hanya batas gang!"


Kata Rio namun aku tetap menolak.


Berjalan dengan langkah santai sesekali aku menendang kerikil yang ku lalui dan mengambil sekuntum bunga yang tumbuh di sisi jalan.


Ceklekk


Ku buka pintu rumah dan , kemana semua orang?


Batin ku berucap saat tak ada satu orangpun yang ada didalam rumah. Keman nenek? diman ibu? dan dimana ayah dan anak itu?.


" Bu?"


" Tidak ada! kemana semuanya?"


Tanya ku lagi lalu masuk kedalam kamar dimana tempat itu adalah tempat ternyaman ku untuk menenangkan pikiran.


Aku diam sembari mengamati plafon dengan garis yang memanjang, detik jarum jam terdengar jelas serta cicak yang menempel didinding seolah tengah mengejek ku.


Trriinngg

__ADS_1


Ponsel ku menyala sebuah pesan masuk dari ibu.


" Maaf kak ibu sedang mengantar nenek , mungkin pulang sudah malam ada makanan didalam lemari dingin nanti kakak panaskan saja untuk makan malam."


Pesan ibu dan saat itu juga mata ku memanas bulir dari kelopak mata ku terjatuh dengan perasaan kecewa.


" Ibu tidak mengajak ku?".


Balas ku dengan jari mengetik cepat.


Trriinngg


Pesan kembali datang , " maaf kak ibu takut mengganggu kalain belajar jadi ibu tidak memberi tahu kalau ingin pergi."


Kata ibu lewat layar yang menyala.


Ingin rasanya ku lempar dengan keras benda pipih di tangan ku , namun ku urungkan karena takut jika aku tak memilikinya lagi.


" Oh . Jangan khawatirkan Angel Bu bersenang-senanglah dengan mereka Angel bisa mengurus perut sendiri."


Balas ku entah ibu faham atau tidak yang jelas dalam tulisan ku aku begitu kesal seolah aku memang bukan prioritasnya lagi.


Aku meringkuk memeluk tubuh ku sendiri dan menangis dengan diam , harusnya aku bisa meraung tanpa takut ada yang mendengar namun hal seperti ini sudah biasa ku lakukan saat rasa yang hampir sama sekali ada di kehidupan ku .

__ADS_1


Aku bingung harus marah pada siapa! Haruskan pada ibu? Ayah? atau diri ku? Tapi bukan! Aku marah pada waktu yang tidak bisa untuk berhenti saat itu. Aku merindukan pelukan hangat Ayah aku merindukan semua perhatian ibu dan ! Aku merindukan semua tentang dulu sebelum perpisahan yang dipilih kedua orang tua ku.


" Entahlah , Pada siapa aku harus berbagi luka. "


__ADS_2