
Motor biru melaju dengan begitu santai udara panas ku biarkan mencicipi permukaan kulit ku yang tertutup oleh jaket. Lalu lalang kendaraan menjadi hiasan jalan aspal menuju rumah , ku lirik pada kaca spion yang terpasang di stang biru kesayangan ku mata ku menyipit saat dari belakang suara klakson dengan buru-buru terdengar nyaring.
" Astaga!! Kalau mau duluan tinggal duluan aja gak usah berisik lah!"
Geram ku dan aku melaju lebih lambat lalu berjalan lebih pinggir memberi ruang untuk kendaraan yang bersuara begitu memekakkan telinga.
" Ngel?"
Rio memanggil ku tapi aku tak menggubris seolah aku tuli dengan suaranya .
Aku sedikit terkejut dengan suara yang sudah ku kenali , bagaimana tidak suara laki-laki yang menjadi awal mula membuat ku masuk dalam ruang BK berteriak memanggil nama ku .
Malas sekali berhadapan dangan laki-laki yang dipuja nenek sihir!.
Kesal ku masih terasa walau Rio tak ikut menghakimi ku tapi karena dia aku dianggap sebagai gadis perebut dan masalah itu menjadi lebih panjang saat mulut ember milik Sindi membawa-bawa Tetang orang tua.
Jujur saja aku tidak masalah dengan tuduhan itu , tapi aku tidak akan ambil diam jika sudah membawa nama keluarga , siapapun itu apa lagi ayah dan ibu ku! .
" Ada apa kak?"
Kata ku tapi tak menghentikan laju kendaraan ku.
" Aku dengar kemarin kau berkelahi dengan Sindi! Apa itu benar Ngel?"
Kata Rio yang pasti sudah mendengar kabar itu.
__ADS_1
" Hmmm !".
" Aku minta maaf kalau Sindi terus mengganggu mu Ngel! Tapi percayalah aku tidak ada hubungan dengan dia!"
Kata Rio meyakinkan ku."
" Tidak perlu menjelaskan itu dengan ku kak lebih baik kakak jelaskan saja dengan dia ! Aku tidak mau lagi mulutnya menyemburkan virus apa lagi membawa serta orang tua ku! ."
" Kalau tidak kakak jauhi saja aku, toh selama ini kakak yang selalu mendekat kenapa harus aku yang kena batunya?".
Aku berkata jujur , ini alasan ku kenapa menolak cinta laki-laki yang bukan milik siapa-siapa tapi seolah ia milik gadis berwajah donat yang selalu mengganggu ku.
Aku mempercepat laju kendaraan ku pedal gas ku tarik dengan dalam dan membawa angin kencang menabrak tak sabar ke tubuh ku.
Tidak butuh waktu lama sampailah aku pada sebuah rumah dengan daun kering yang jatuh bersama kelopak bunga yang mengisi pekarangan rumah ku .
Ceklek
Suara tangis Aulia menjadi suara pertama yang ku dengar. Raungan anak kecil itu membuat kepala ku semakin berdenyut entah apa yang membuatnya menangis kencang padahal didepannya ada ibu yang tengah memegang botol obat.
" Angel? kamu sudah pulang nak?"
Kata ibu ku saat kaki ku melangkah .
" Kenapa dia?"
__ADS_1
Tanya ku pada ibu. Ku lihat cairan sedikit kental keluar dari hidung Aulia , rambut yang berantakan juga mata yang terus mengalir cairan bening.
" Adik mu sakit , lihatlah ingus terus keluar tapi tidak mau minum obat."
Keluh ibu yang sudah terlihat lelah membujuk anak bungsunya.
" Apa dia memakan sesuatu ?"
" Kemarin dia makan ice krim sewaktu kita kerumah nenek , kebetulan sepupu Ayah mu sedang merayakan ulang tahun anaknya dan Aulia memakan tiga cup dalam sekaligus."
Ibu menjawab tanpa menyaring ucapnya , aku diam mengerti kenapa mereka menginap tanpa memberitahu pada ku terlebih dahulu.
" Oh begitu Bu ."
Kata ku lalu masuk kedalam kamar dan melempar tas ke atas ranjang .
Ku tarik sepasang baju dan aku berganti pakaian lalu ku sambar lagi kunci motor yang sama-sama berada di atas ranjang milik ku .
Ceklekk
Pintu kamar ku buka lalu berjalan lagi menuju halaman dimana si biru kesayangan terparkir.
" Mau kemana kak?"
Tanya ibu sedikit berteriak.
__ADS_1
" Keluar sebentar Bu , aku tidak akan lama!"
Kata ku lalu melesat dengan mengendarai motor.