
Hujan turun mengguyur bumi , malam ini aku duduk di bibir ranjang sembari mengamati rintikan air yang menetes melewati kaca jendela kamar ku.
Gorden sengaja ku biarkan terbuka hingga langit gelap dengan cahaya putih kemerahan menyala di atas langit terlihat oleh mata ku.
Tok tok tokk
Ketukan pintu membuat ku berjalan untuk menghampiri.
" Makan yuk ! Dari pulang sekolah kakak belum makan loh!"
Ibu membujuk ku karena sekarang jarum jam sudah berada di angka delapan.
" Ibu buat mie kuah dengan sayur diatasnya, Kakak pasti suka ! Ayo kita makan bersama Ayah juga Aulia sudah menunggu."
Kata ibu menyebut sebuah menu kesukaan ku dengan ekspresi yang tak bisa ku tolak lagi.
Aku duduk di sebelah Aulia sedangkan ibu duduk bersebrangan bersebelahan dengan Ayah. Aku menikmati makanan ku dan kini aku mengunyah tapi otak ku terus bekerja.
Rupanya! Mempunyai Ayah sambung itu tidak terlalu buruk , kecuali dia memang bukan orang baik seperti cerita dalam dongeng. Tapi sayangnya banyak diluar sana yang tak bisa dekat dengan keluarga baru karena mungkin tak tau cara untuk mendekat, tak tau bagaimana cara untuk membuat suasana terasa hangat krena tidak semua orang tua baru apa lagi laki-laki bisa menunjukkan perhatiannya melalui ucapannya.
Dan aku juga pernah merasakan itu hampir tujuh tahun lamanya.
Contoh nyata yang ku dapat dari sosok ayah sambung yang semula ku pikir dia adalah perebut wanita bernama ibu dan merebut semua kenyamanan dalam kehidupan ku, nyatanya dia adalah sosok laki-laki yang begitu penyayang seperti halnya orang tua pada umumnya.
Aku tersenyum tipis saat ini dan sayangnya ada melihat ku saat bibir atas ku terangkat walau sedikit .
" Kakak kenapa?"
__ADS_1
Tanya polos Aulia dan itu cukup membuat ku salah tingkah.
" Memangnya aku kenapa?"
Aku berpura-pura tak tau dan menyangkal pertanyaan adik kecil ku.
" Ada apa Lia?"
Tanya ibu sontak membuat ku semakin risau.
" Kakak makan sambil senyum-senyum! Kakak lagi mikirin pangeran ya?"
" Pangeran?"
Tanya ku ulang.
" Ah iya! Pangeran itu sangat baik bukan? Dia mau membantu putri salju untuk bisa bangun dari tidurnya akibat memakan apel beracun pemberian nenek sihir yang sedang menyamar ! .
Kamu jangan suka menerima sesuatu dari orang yang tidak kamu kenal ya? Bisa berbahaya ! . Nanti kakak bacakan lagi cerita dongeng untuk mu ok ! hehe!!".
Aku sedikit menghela nafas lega saat bibir kecil itu menjelaskan imajinasinya dan untungnya otak ku sangat pandai berfikir di situasi darurat.
" Kak?"
" Hmm?".
Aku berdehem sembari menatap pupil itu meminta penjelasan.
__ADS_1
" Sudah ayo selesaikan makannya nanti bisa kita lanjutkan setelah selesai makan!".
Untunglah Ayah begitu pengertian seolah menjadi penyelamat untuk ku malam ini.
Makan malam telah usai dan sesuai janji ku , aku duduk di sebuah ruangan tak begitu luas dan ini kamar baru untuk Aulia setelah acara makan malam itu. Dan membacakan dongeng kini menjadi rutinitas kita untuk berbagai pada gadis kecil itu.
" Kakak? Bagaimana perasaan kakak kalau ada pangeran nyata yang datang untuk kakak?"
Uhukk uhhukkk
Hah! Pertanyaan macam apa lagi ini! Dan yang bertanya anak masih berusia belum genap enam tahun! Rasanya aku salah membacakan cerita malam itu.
" Tidak ada pangeran di dunia nyata Lia! Dan tidak ada penyihir jahat yang memberi apel beracun di dunia nyata ! ".
" Yang ada pangeran itu berbentuk rasa sayang seperti Ayah kepada ibu. Dan si penyihir itu bagai orang yang tak menyukai kita dan berusaha untuk membuat kita terluka."
Aku menjelaskan yang entah masuk akal atau tidak ! paling tidak jangan menanyakan tentang pangeran yang datang menggotong tubuh ku dari dalam peti kaca dan tersandung sehingga potongan apel itu keluar dari mulut ku.
" Ayo tidur ! Kakak sudah selesai membacakan dongeng untuk mu malam ini!"
Kataku akhirnya setelah satu judul dalam ponsel selesai ku baca.
" Selamat malam kakak!"
" Selamat malam Lia!"
Wahh manis sekali rasanya saat ini.
__ADS_1
Aku keluar begitu tubuh kecil Aulia terselimuti dengan sempurna dan lampu tidur menyala kuning sebagai cahaya penerang.