
Ibu menyambut dengan gembira menerima uluran tangan mungil Aulia yang menyodorkan plastik hitam di tangan kanannya.
" Ibu? Lia beli coklat."
Katanya dengan riang sembari memamerkan bungkus coklat berwarna biru kepada ibu.
'' Iya ! Terima kasih anak baik! Dimana kakak?"
Ibu berbicara lalu mengusap pucuk kepala Aulia dengan sayang , dan barulah aku masuk namun bibir ku terlihat sedikit maju dalam artian aku cemberut dengan raut wajah yang tak sedap.
Ibu menengok hendak menyapa tapi bibirnya seketika terbungkam dengan dahi berkerut, mungkin sedikit aneh melihat ku.
" Ada apa kak?"
Tanya ibu heran pada ku mendekat .
" Tuh anak kesayangan Ibu bikin Angel malu di warung mang Omet !"
Sungut ku begitu kesal lalu duduk dengan gerakan sedikit kasar.
Ibu berbalik menoleh pada Aulia yang berdiri sibuk sendiri saat jawaban ku mengarah pada Aulia.
" Lia? "
Panggil ibu lirih .
" Bisa tolong jelaskan dengan ibu sayang?"
Kata ibu pada gadis kecil yang sibuk mengupas kulit bungkus coklat.
__ADS_1
Aulia mendekat dress nya terayun cantik saat kaki kecilnya melangkah mendekat kepada ibu.
" Kakak pelit! "
Kalimat pertama yang di ucapka adik kecil ku.
" Mang Omet juga pelit ! Lia mau permen rasa stroberi tapi tidak boleh ! Kata mang Omet malah tidak di jual apa lagi untuk anak kecil!"
Cerocos Aulia pada ibu dengan wajah dibuat tidak suka.
" Tidak dijual untuk anak kecil?"
Kata ibu mengulang kembali ucapan Aulia dan Aulia mengangguk cepat.
" Lalu dijual pada siapa? Bukannya permen memang untuk anak kecil!".
Kata ku tak ingin berbelit mengenai benda menggelikan itu.
Ibu ternganga baru mengerti permen apa yang dimaksud Aulia. Pantas saja tidak dijual untuk anak-anak ! Ternyata pembungkus sosis untuk dewasa.
" Kenapa barang seperti itu harus di jual disana sih Bu? Kenapa juga berada didalam etalase kaca ? Dan satu lagi! ."
Kata ku geram dengan bicara cepat.
Ibu hanya diam melihat bagaimana reaksi ku pada benda yang mempermalukan ku disana.
Ibu sedikit merona mungkin ia juga malu mendengarnya.
" Kenapa ada gambar buah-buahan dan kenapa warnanya begitu terlihat seperti makanan pada umumnya Buu??".
__ADS_1
Aku berbicara tak ingin di cegah dan mulut ku terasa ingin berteriak jika saja Ayah tidak datang dengan tiba-tiba.
" Ada apa ini?"
Tanya Ayah dengan bingung.
" Kakak sedang marah-marah karena permen stoberi yah! Ayo Ayah sama Lia saja nanti kakak makin ngamuk!".
Kata Aulia menarik ujung telunjuk Ayah Dani dan membawanya menuju dapur .
Ayah hanya diam tak mengerti dengan situasi saat ini.
Ayah melewati ku lalu menatap mata ibu . Ibu tak bisa menjawab dan hanya senyum kuda yang di berikan.
Hhuuffff!!
Aku menghela nafas ku cukup panjang dan berjalan masuk lada pintu kamar ku.
Wajah ku masih merah padam , antara kesal sekaligus malu.
'' Astaga Angel! Kenapa hari ini begitu sial!"
Keluh ku setelah tubuh ku rebahkan diatas ranjang .
Aku masih tidak habis pikir kenapa ada barang seperti itu dan bentuknya sangat-sangat memikat anak kecil. Warna serta gambar , jika tida di beri tahu mungkin aku benar-benar membeli barang itu dan paling mengerikan jika benar Aulia merasai benda mengerikan itu.
" Ok Angel! Ini pengalaman untuk mu ya , kau harus lebih berhati-hati mulai saat ini dan jangan sembarangan tergiur dengan bungkus yang mungkin saja itu bubuk cabe.
Aku berjalan menuju kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan berharap rasa panas di pipi ku segera mereda.
__ADS_1