
Bel tanda pelajaran telah usai dan seperti biasa para siswa-siswi berhamburan berebut pintu untuk segera menghilang dan berganti tempat menuju kantin untuk mengisi perut .
Aku yang sudah berdiri di ambang pintu menunggu sahabat ku berdiri dengan diam , mengamati semua yang tengah berjalan di koridor ada pula yang berjalan menyebrangi lapangan yang cukup terik hari ini.
" Kita makan apa hari ini?"
Tanya Ades setelah membawa botol minumnya.
" Guys kalain mau makan apa?"
Tanya ku lagi pada mereka yang berjalan mendekat kearah ku juga Ades.
" Apa ya? ".
" Bakso aja lagi! kita makan di kantin tapi !"
Seru Dian dan kita semua mengangguk setuju.
Waktu beranjak , lagi-lagi kantin sudah sesak dan kita duduk saling berhimpitan sekedar bisa untuk menempatkan mangkuk bakso yang di pesan.
" Haiii guyysss!!"
Suara has gadis itu mengenai gendang telinga ku. Aku menghela nafas dalam-dalam maaf ya bukan aku tidak berani tapi percuma saja meladeni dia yang tidak bisa berfikir maju dan hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan laki-laki pujaannya.
" Ishhh! Boleh pindah gak sih? Males banget kalau ada dia!"
__ADS_1
Kata Indah dengan bibir setengah terangkat.
Riuh semakin terjadi saat Sindi dan dua dayangnya mendekat dan duduk dengan begitu gemulainya.
" Cantik amat sin ! Traktir ya?"
" Iya nih hari ini princess cantik banget!"
Para penjilat bertemu dengan haus pujian. Begitu klep dan ya sangat cocok .
" Oh kalian memang benar! Aku kan memang cantik! Ya udah kalian biara aku yang bayarin."
" Bii? Makana mereka sekalian hitung punya ku juga ya!"
" Hey kalian?"
panggilan itu menuju kearah meja ku.
Aku menoleh begitu juga dengan sahabat ku.
" Kalain sekalian mau di traktir? Tenang saja aku orang baik jadi kalain tidak perlu sungkan , apa lagi Angel dia kan cuma anak sambung pasti jatah uang jajannya sedikit."
Bibir wanita bertabur gula halus kadaluarsa itu rasanya ingin ku remas , ku sobek dan ku bumbui saus sambal dengan banyak jika aku tidak ingat kalau beberapa hari lagi akan diadakannya sebuah seni di bulan bahasa.
" kamu gapapa?"
__ADS_1
Tanya Okta dengan hati-hati.
Indah juga Dian mengibaskan tangannya kearah ku berharap luapan emosi segera sirna .
" Jaga mulut mu ya kakak Sindi! Dari pada tu duit buat traktir orang mending buat sekolahin tu mulut sama logika biar enggak bikin malau sendiri!"
Ades nampak geram tak terima rasanya jika diantara kita ada yang di bully .
" Udah Des percuma kalau ngeladenin tu nenek sihir!."
Aku berusaha tenang dan menarik tangan Ades agar dia duduk kembali.
" Enggak bisa gtu dong Ngel! Dia itu sudah keterlaluan!"
" Udah udah, aku masih mau tampil di acara bulan bahasa jadi kita harus tahan emosi setidaknya sampai acara selesai."
Aku berusaha tak ingin ada keributan , tapi sebenarnya isi kepala ku hampir meledak dan tangan ku sudah begitu gatal ingin menghampar pipi dengan taburan gula halus kadaluarsa itu.
" Permisi!"
Pembicara kita terhenti sesaat setelah datangnya mangkuk bakso dengan kuah panas yang mengepul di udara.
" Sambel dong!"
Aku meminta pada Dian yang lebih dekat dengan wadah-wadah kecil itu.
__ADS_1