
Jam pulang sekolah sudah tiba ku seret tas dengan begitu malas juga langkah yang sengaja ku buat santai , ya sembari menunggu lahan parkir sedikit senggang agar tak berdesakan saat ingin melewati gerbang sekolah .
Hari ini aku begitu malas untuk berdesakan mungkin karena mood yang sudah kacau sejak semalam dan ditambah kedatangan nenek lampir yang membuat hari ku semakin berantakan.
Aku duduk pada kursi yang menyatu dengan koridor , memandang satu persatu manusia setengah remaja yang saling berebut jalan agar lekas menghilang dari lahan sekolahan.
" Malaikat?"
Teriak nyaring gadis dari arah kantin yang jelas itu nama panggilan untuk ku.
" Lah ! kirain udah nyampe rumah ."
Ucap ku saat Dian datang dengan berlari dan ikut duduk di samping ku .
" Buset ngalahin om Komeng bawa motornya berati."
Ahahahaa
Tawa Dian beradu dengan ku, ya sepuluh menit yang lalu Indah , Ades , Okta juga Dian lebih dulu keluar kelas dan setau ku hanya aku yang masih tertinggal namun nyatanya Dian muncul tiba-tiba.
" Dari mana?"
" Kebelet!".
Dian berbicara sembari mengusap perutnya , ya letak toilet berada di ujung gedung juga tengah-tengah antara kantor juga ruang lab. namun lebih dekat yang berada di ujung yang bersebelahan dengan kantin.
" Nebeng boleh?"
Tanya Dian dengan bibir melengkung.
__ADS_1
" Ayok lah ! lagian motor mu kemana?"
Tanya ku saat gadis itu saat beberapa hari ini menggunakan angkutan umum.
" Males ! Tangan ku pegel , ehehee."
Dian berbicara sembari cengengesan serta mengayunkan tangan keudara seolah benar-benar terasa lelah.
Dari ujung koridor wanita dengan wajah putih berjalan dengan langkah meliuk , sepatu hitam dengan tinggi lima senti menapak dengan begitu berat yang di apit kedua dayang yang selalu berada di samping sang ratu. Ratu? Cihh bagaimana disebut ratu saat rasa malunya di putus habis demi mendapat sepucuk cinta dari laki-laki bernama Rio.
" Hie malaikat ! Jangan coba-coba gangguin Rio ya awas kalau sampai aku liat kamu Deket-deket sama dia !"
" Heh nek lampir jangan asal ngomong kalo punya bibir ! Tu benerin dulu tinggi badan mu udah nyampek belum nyantolin pot bunga gantung ."
Aku tak mau kalah dengan beo Sindi yang selalu memulai perkara dengan ku. Dia memang kakak kelas ku tapi bukan berarti dia bisa menindas ku dengan mudah dengan alasan aku merebut pujaan hatinya , Ciihhh ! bukan selera ku untuk merebut Rio dari tangannya.
" Kurang ajar ya punya mulut ! Sekolah yang bener biar tu mulut gak lemes!"
Aku diam tak ingin menanggapi bagaimana bibir rombeng itu berucap dengan seenaknya toh aku sedang tidak ini. menambah masalah hari ini.
" Kenapa diem? Eh iya aku lupa Ayah mu bukan Ayah kandung ya? Uuppssss!!"
"Pantes anaknya begini orang tuanya aja enggak bener! Satu lagi mungkin Ayah baru mu bukan laki-laki baik . Mana ada laki-laki seperti itu yang benar-benar menerima anak sambungnya menjadi anak kandungnya!."
Brakk
Plaakkk
Bbuughhh
__ADS_1
" Sialan! Mulut mu minta dirobek atau minta di jahit hah? ".
Aku menampar memukul wajah Sindi dan sebelumnya ku lempar ke atas tanah tas yang semula ku taruh di pangkuan ku.
" Angel ? Angel ? Sabar Angel plis jangan kepancing tu orang gila."
" Apa kamu bilang ? orang gila? Kalian yang gila dasar kegatelan !"
Plaakkk
Lagi telapak tangan ku mendarat dengan cukup keras di pipi Sindi yang beralas bedak bayi dan sudah pasti sedikit mengepul taburan berwarna putih itu.
Dian mencoba melerai menahan tubuh ku yang memberontak minta dilepaskan.
" Aku enggak pernah ngebawa nama orang tua ya ! Dan satu lagi mulut mu yang perlu di sekolahin tinggi-tinggi bukan cuma sepatu yang dibuat tinggi , dasar otak sama badan sama rendahnya!".
Aku berucap dengan melotot tak perduli bagaimana kuwalahannya Dian menahan pergerakan ku , tak ku ambil pusing juga bagaimana mereka yang melihat ku saat ini ,yang jelas tak ku biarkan mereka menjelekkan keluarga ku terutama orang tua ku .
" Udah Ngel udah ."
Dian terus menarik ku untuk menjauh dan saat itu juga suasana koridor yang semula hampir sepi kembali menumpahkan murid dan mengerumungi kita .
" Hei? ada apa ini?"
Diam ! Aku diam begitupun Sindi kita tak berucap namun mata kita terus bersitatap dengan sengit.
Semua siswa mundur dengan perlahan saat wanita dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya datang menghampiri.
" Ikut ibu sekarang! kalian ini selalu saja bikin ulah!"
__ADS_1
Itu ibu Izmi yang datang dengan suara menggelegar dan membawa kami menuju ruang BK yang sebenarnya sudah di tutup.