AYAH KEDUA

AYAH KEDUA
Eps 14


__ADS_3

Makanan sudah berada di depan mata ,aku mulai mengaduk adonan tepung dengan bumbu kacang yang terlihat menggiurkan . Dentingan sendok garpu beradu saat aku menusuk dan memotong benda kenyal itu , sesekali obrolan kita datang dan tawa kecil mengisi kantung yang kini tak begitu ramai lagi.


" Keren tau gak sih? Parah emang!"


Kata mereka yang duduk di samping dan berhadapan dengan ku.


" Hai?"


Sapa dari belakang dan siapa sangka laki-laki sumber yang membuat darahnya mendidih datang dengan menyapa ramah . Oh salah ! bukan dia sumbernya mungkin gadis tadi yang tak tau malu menyerang karena tak ada rasa tertarik dari laki-laki bernama Rio.


" Gimana Ngel?"


Tanya Dian tepat dibelakang telinga ku .


" Hai kak? Ada apa kemari?"


Tanya Inda yang lebih dulu menyahut.


" Tidak apa-apa hanya ingin bergabung saja , apa tidak boleh?"


Tanya Rio yang hendak bergabung dengan mereka.


" Tidak!".


Kini suara Okta mendominasi.

__ADS_1


" Sssttt , jangan gitu gak enak tau!".


Aku menyikut Okta yang berbeda di samping kiri ku.


" Udah diem aja Ngel , dari pada kamu yang di tuduh tu Mak lampir!".


Kata indah dan mereka semua menyetujui.


Rio nampak kikuk dengan suasana yang sepertinya baru kali ini dia rasakan , lalu kembali berdiri dan memandang ku lalu ku beri senyuman canggung setelahnya.


" Apa aku melakukan kesalahan?"


Tanya Rio tak paham dengan situasi sekarang.


Riuh dari sudut kantin tatkala gadis bernama Sindi datang bersama dua temannya.


Bibir Sindi seakan terisi bubuk cabe dengan level seratus , berbicara tanpa penyaring dan lihatlah dia terlihat begitu terlihat menyedihkan dengan rasa cemburu yang tidak masuk akal.


" Sindi apa maksud mu?"


Rio mulai sadar mengapa dirinya tak diterima saat ingin bergabung dengan Angel dan kawan-kawan.


" Udahlah Rio aku tau kok kalau malaikat bersayap hitam itu yang bikin kamu ngebatalin acara kita kan?"


Beo Sindi begitu lihai dalam berucap.

__ADS_1


" Tidak ada kaitannya dengan Angel Sin, lagian kamu kan yang maksain buat jalan kemarin tapi kamu malah ngilang."


Rio menjelaskan bagaimana kejadiannya.


" Aku harus merapihkan rambut ku Rio , kau tau kan panas matahari terlalu bahaya buat rambut ku ."


Bibir Sindi berbicara sembari memainkan ujung rambutnya , menggoyangkan tubuhnya kesana-kemari seperti cacing yang sedang berenang.


" Bahaya bahaya , kalau bahaya kenapa tidak sekalian saja kamu ke sekolah menggunakan karung untuk menitupi kepala mu sekalian yu muka juga biar makin putih."


" Wahh kau perhatian sekali Rio , aku semakin menyukai mu."


" Ciihh!!"


Rio berdecih lalu pergi meninggalkan kantin dengan langkah cepat serta bahu yang bergoyang menahan geli.


" Apa iya dia manusia tanpa urat malu hah?"


Tawa semua saat Sindi berlari mengejar laki-laki impiannya .


" Aku rasa urat malu ya sudah putus!".


Aku tertawa saat ejekan Rio disalah artikan sebagai pujian mengenai wajah putih yang sudah jelas terliha seperti donat dengan taburan gula halus. Tapi sayangnya bukan manis rasanya tapi lebih ke mengerikan seperti wanita dengan gaun putih panjang yang berkeliaran dimalam hari dengan rambut panjang berantakan.


Aku berjalan menuju kelas suasana ramai didepan kelas menjadi pemandangan biasa , anak-anak sekolah seusia ku mungkin sedang berada pada masa pubertas hingga kerap kejadian tidak masuk akal sering terjadi , contohnya seperti Sindi yang tak bisa menyembunyikan perasaannya pada laki-laki pujaan hatinya.

__ADS_1


Cinta bertepuk sebelah tangan mungkin cocok untuk dia yang menyimpan rasa tapi tak terbalas.


__ADS_2