AYAH KEDUA

AYAH KEDUA
Eps 30


__ADS_3

Aku terisak memeluk erat guling yang sudah basah kuyup karena ulah ku. Meringkuk erat di atas rajang tanpa memperdulikan bagaimana ibu mengetuk pintu bergantian dengan Ayah yang berusaha memancing ku hingga mereka lelah dan entah kini mungkin sudah tertidur karena waktu sudah sangat larut .


Hiikkssss


" Aku lelah Tuhan !"


Rintih ku masih dengan isak namun air mata tak bisa keluar mungkin sudah mengering didalam kelopak mata ku.


Nafas ku tersendat-sendat saat bibir ku berucap dan sekarang dada ku berdenyut begitu nyeri , aku meringis lalu ku tarik nafas dalam-dalam dan rasanya justru semakin sakit.


Aku mengusap lengan ku menguatkan tubuh ku agar cukup dengan tangis malam ini, bibir ku masih sedikit memerah karena pukulan dari Sindi yang sedikit melukai ujung bibir saat Sindi melayangkan pukulan tanpa aba-aba. Mata ku perih menangis hampir semalaman cukup membuatnya lelah.


Terkadang aku berfikir kenapa harus ada perceraian diantara mereka , mengapa tak mencari jalan lain selain perpisahan ? Bukankah hanya akan menjadi luka yang tak kunjung sembuh untuk anak korban perpisahan orang tuanya.


Aku mengganti pakaian yang terlihat sangat lusuh noda kuning hasil pergulatan membekas di beberapa bagian, untungnya besok tak ada jadwal sekolah karena guru akan mengadakan rapat dan sekolah di liburkan . Aku kembali berbaring di atas ranjang mengganti posisi lalu menutup tubuh dengan selimut tebal dan mulai memejamkan mata dan berharap setelah aku terbangun esok pagi semua luka menghilang bersama jiwa yang melesat kedalam mimpi .

__ADS_1


Disisi lain Riska tengah berbaring mengusap punggung Aulia dengan lembut sembari mengamati bagaimana putri kecilnya terlelap dan sesekali menangis terbawa mimpi kejadian menjelang malam yang mungkin mengguncang jiwanya .


" Tidurlah ! Aulia biar mas yang jaga!"


Kata Dani tau jika sang istri masih membuka mata , lembab di pipi menandakan lelehan air mata tak kunjung surut dari kelopak matanya.


" Apa aku seegois itu mas?"


Riska bertanya tanpa menoleh dengan suara begitu lirih , dan isaknya samar-samar terdengar kembali.


menyimpan banyak luka tapi kita sebagai orang tua tidak bisa menjadi obat atau sekedar tempatnya bersandar . Kita terlalu membiarkannya tanpa kita sadari ada rasa iri yang menggerogoti perasaannya dan berujung pada luka yang semakin lama semakin dalam."


" Maafkan mas sayang belum bisa jadi ayah yang baik untuk putri mu , maafkan mas juga belum bisa jadi suami yang bisa memahami perasaan anak mu."


Dani berucap lirih sembari memeluk Riska yang terisak semakin kencang.

__ADS_1


" Kita butuh waktu untuk bicara! Apa tidak sebaiknya kita pergi berlibur untuk beberapa waktu? Mas rasa Angel juga butuh sebuah hiburan keluarga."


Saran Dani lalu Riska berbalik dan mengangguk cepat. Siapa yang mau bermusuhan dengan putri sendiri! Siapa yang mau ada perselisihan antar anak dan ibu dan hati ibu mana yang tak sakit melihat putri yang dulu begitu dekat kini terasa sangat jauh.


" Aku setuju mas! Tali kita akan kemana?"


" Kerumah orang tua ku! Disana masih asri mungkin cocok untuk kita menghabiskan waktu bersama."


" Itu tidak buruk ! kita harus menanyakan ini secepat mungkin pada Angel!".


Mata Riska berbinar bibirnya melengkung sempurna saat bayangan mereka terlukis di dalam kepalanya.


Tawa anak-anak yang begitu riang berlari saling mengejar dan itu sedikit membuat Riska merasa lega .


" Ya sudah tidurlah duku besok kita bicarakan ini dengan Angel."

__ADS_1


Titah Dani pada Riska dan anggukan kecil sebagai tanda setuju .


__ADS_2