
Hari berlalu cepat ! Aku duduk dengan gelisah rambut yang sudah tertata rapih membuat ku cukup percaya diri setelah perjalanan yang bisa ku bilang lebih gila dari biasanya.
Aku beranjak membantu sebisa ku saat ini .
" Ngel ? "
Panggil Edo yang tidak lain anggota OSIS yang beberapa hari yang lalu menumpang pulang bersama ku.
" Ya kak?"
Kata ku menoleh pada laki-laki dengan baju rapih serta satu buah pita menempel di baju sebelah kiri sebagai penanda ia panitia di acara ini.
" Gak usah bantuin yang sebelah sana Ngel kamu sudah rapi begitu. Disini aja tolong kakak pasang alas meja ''.
Kata Edo melambaikan sebuah taplak bermotif batik di tangan kirinya.
Dari kejauhan Rio melihat dengan bibir tertutup berjalan mendekat kearah ku dan menyambar kain itu lalu membantu Edo tanpa berbicara.
" Loh ! kak?".
Kata ku heran tapi disisi lain kak Edo hanya tersenyum begitu tipis setelah mendongak siapa yang berada di depannya.
Jam sudah berada di angka sembilan semua guru juga wali murid sudah memenuhi ruang Aula . Aku menengok kesana-kemari mencari sosok yang sudah menjanjikan kedatangannya hari ini.
Hhuuffff!
__ADS_1
Nafas ku sedikit lega saat wanita cantik berambut panjang datang dengan gaun yang membungkus anggun tubuhnya. Ya , itu Tante Mira wajahnya begitu cantik dan kini dia berjalan mencari posisi paling pas untuk menonton sebuah pertunjukan hari ini .
" Terima kasih Tante!"
Ucap ku dalam hati dengan bibir melengkung senyum .
Walaupun begitu baku masih kurang puas sebelum kulihat kedua orang tua ku datang dan berharap mereka tak melupakan atau meninggalkan acara ini karena urusan mendesak.
Waktu terus berjalan namun Ayah juga ibu belum terlihat kedatangannya. Wajah ku sendu mata ku rasanya memanas dengan dada yang terasa sesak.
" Kak?"
Deg
Jantung ku hendak melompat saat panggilan ini terdengar di telinga ku .
Kata ku membalikkan tubuh dan.
" Hahhh!! Tenang Angel ! Mereka pasti datang."
Aku meyakinkan diri dan panggilan tadi ternyata salah satu orang tua yang anaknya sama-sama akan tampil hari ini.
Suara yang terdengar seperti milik ibu tapi ternyata hanya telinga ku saja yang salah mendengar .
Aku duduk sembari menunggu pembawa acara menyebut nama ku untuk menaiki panggung .
__ADS_1
Jantung ku semakin berdetak saat semua susunan acara telah di sebut dan berarti aku akan berdiri di atas panggung itu dengan penuh percaya diri.
" Angel? Apa sudah siap?"
Kata ibu Debora selaku guru seni budaya di sekolah ku.
" Angel, sedikit gugup Bu."
Kata ku jujur dan wanita itu datang mendekat menggenggam erat kedua tangan ku lalu mengusap lembut punggung tangan kanan ku.
" Lakukan sebisa mu Angel, kamu sudah berlatih dengan susah payah maka kamu pasti bisa melakukannya ."
Katanya dengan bibir tersenyum teduh.
Aku mengangguk lalu ku Hela nafas ku cukup panjang dan kini , aku siap menampilkan apa yang sudah ku usahakan.
" Ange sudah siap Bu."
Aku berucap dengan penuh percaya diri , menggenggam erat telapak tangan bu Debora sekedar untuk mencari sebuah keyakinan yang sempat tertimbun rasa ragu dalam hati ku.
" Baiklah nak ! Sebentar lagi kamu akan dipanggil dan sekarang berdiri lah dengan baik di belakang panggung . Ibu akan melihat bagaimana suara emas mu dari depan sama bersama mereka yang menunggu."
" Semangat ! Kau pasti bisa!!"
Katanya sebelum melangkah pergi meninggalkan ku yang kini telah memegang mikrofon dari salah satu yang berdiri di belakang panggung sebelum aku melangkah dari tirai berwarna merah.
__ADS_1
'' Kau pasti bisa!"
Ya , Rio berbicara sembari membukakan tirai untuk ku.