Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Kala


__ADS_3

Tak mudah menjadi seorang Kala Madhara Adyatama yang terlahir dengan kemampuan istimewa. Sejak kecil ia suka histeris sendiri, apabila melihat ke arah sebuah rumah kosong dan tempat gelap. Atau ketika tengah melintas, di area yang kata orang terkenal angker.


Kala begitu ia akrab disapa, mengatakan jika ia sering melihat sosok-sosok yang mengerikan. Namun ia di asuh sejak bayi oleh keluarga mendiang ibunya, yang sangat realistis dan tak percaya pada hal-hal gaib.


Meskipun keluarga tersebut berasal dari wilayah, yang hampir seluruh warganya percaya hal seperti itu. Namun keluarga ibunya tidak demikian.


Sejak pertama ia sering histeris, keluarga ibunya tersebut selalu membawa Kala ke dokter. Mereka takut kalau anak itu mengalami sakit yang serius.


Namun setiap kali mendatangi tempat itu, setiap itu pula Kala dinyatakan tidak sakit apa-apa. Untuk selanjutnya ia dianggap oleh keluarga ibunya, sebagai anak yang hanya suka cari perhatian.


"Aaaaaaaa."


"Aaaaaaaa."


"Aaaaaaaa."


Malam ini ia kembali histeris. Sang nenek, om, serta salah satu tantenya menghampiri anak itu. Sudah 15 tahun usianya, dan ia masih saja tidak berubah.


"Aaaaaaaa."


"Aaaaaaaa."


"Kala, Kala."


Terdengar suara nenek, om dan tantenya yang memanggil.


"Aaaaaaaa."


"Aaaaaaaa."


Kala terus saja histeris, sampai kemudian.


"Buuuk."


"Plaaak."


Sebuah pukulan dan tamparan bertubi-tubi mendarat di wajahnya, hingga Kala mendadak terdiam diantara orang-orang tersebut.


"Apalagi yang kamu liat hari ini, hah?"


Om atau suami dari tantenya itu, kini bertanya dengan nada yang penuh kekesalan. Tatap matanya yang tajam menghujam, seolah hendak menelan Kala hidup-hidup.


"Itu Ganesha bangun gara-gara kamu." Sang tante ikut menimpali, seraya menoyor kepala Kala.


"Kamu tau nggak susahnya menidurkan anak bayi. Udah remaja juga, masih aja suka teriak-teriak nggak jelas." lanjut sang tante lagi.


Kala yang masih syok tersebut, terus melihat ke arah belakang sang nenek


"Di belakang oma, ada cewek rambut panjang. Mukanya hancur." ujar Kala gemetaran.

__ADS_1


Keluarga itu menghela nafas hampir berbarengan.


"Itu terus yang kamu bicarakan selama bertahun-tahun, capek tau nggak."


Suami sang tante ikut menoyor kepala Kala.


"Awas kalau kamu teriak lagi, Oma akan pasung kamu di gudang." Kali ini sang nenek mengeluarkan suara.


Tak lama mereka semua pun keluar dari kamar Kala, dan Kala menangis sambil membenamkan wajahnya diantara kedua kaki.


Tak ada pelukan bagi remaja itu, belum pernah sekalipun seumur hidupnya ia merasakan lembutnya perlakuan. Hanya pukulan demi pukulan yang ia terima selama ini.


Sejatinya ia bisa saja membalas, karena di sekolah pun ia sangat jago berkelahi. Lantaran selama ini dirinya selalu dianggap aneh dan di bully.


Tak terhitung lagi jumlahnya, anak orang yang pernah babak belur di hajar Kala. Hal itu tidak menutup kemungkinan, jika ia bisa menghajar om, tante, serta neneknya. Namun Kala enggan melakukan hal tersebut.


Karena ia merasa jika mereka semua adalah keluarganya. Kala hanya memiliki mereka, dan merekalah yang telah membesarkan Kala sejak ibu Kala meninggal dunia.


Rasanya tak pantas saja ia membalas mereka dengan kekerasan, meskipun kadang terpikir demikian.


***


"Ini udah saatnya ma, Galuh udah nggak tahan sama anak itu."


Adik mendiang ibu Kala yang bernama Galuh, yang tadi ikut memukul sang keponakan, kini berujar pada ibunya. Mereka tengah rapat di ruang makan.


"Ibu harus memberikan Kala sama bapaknya. Toh Galuh pernah dengar kalau keluarga bapaknya itu kaya raya, mereka pasti mampu merawat anak itu. Kenapa harus kita terus yang di susahkan." ujar Galuh lagi.


"Tapi kan sekarang bapak sudah nggak ada bu, kasih saja anak itu ke keluarga bapaknya. Saya sama mas Sasono mau hidup tenang, bu. Ghandi sama Gita juga mau damai. Kami bertiga bersaudara ndak mau nanggung dosa nya mbak Gayatri."


"Ya sudah, kalian cari tau lah dimana sekarang bapak dari anak itu. Terus kirim saja dia kesana."


"Di buku catatan mbak Gayatri, masih ada alamat laki-laki itu. Galuh menemukan catatan itu di kamar mbak Gayatri."


"Ya sudah, kamu cari informasi apa dia masih disana atau ndak. Kalau iya, segera kirim Kala kesana."


"Baik bu." jawab Galuh.


***


Di suatu tempat.


Seorang dokter spesialis kejiwaan baru saja selesai menangani pasien. Ini telah masuk jam makan siang, maka ia pun beristirahat sejenak dan mendapatkan makan siangnya di kantin rumah sakit.


"Bro."


Enrico, rekan sesama dokter sekaligus sahabat sejak jaman sekolah, terlihat menghampiri sang dokter.


"Lo udah kelar, gue pikir masih operasi." ujar sang dokter kejiwaan pada dokter Enrico.

__ADS_1


"Udah kelar dan gue laper banget, sumpah."


"Siang dokter Philip, dokter Enrico."


Seorang perawat melintas dan menyapa keduanya.


"Siang sus." jawab keduanya serentak, lalu duduk di kursi meja yang tersedia.


Sementara suster itu berlalu. Tak lama kemudian, seorang dokter wanita melintas dan sempat menoleh serta tersenyum pada keduanya.


"Gimana Phil?" tanya Enrico pada Philip.


"Gimana apanya?" Philip balik bertanya dengan nada heran.


"Itu, dokter Zahara." ujar Enrico lagi.


"Ya apa, lo berharap gue jawab apa?" Lagi-lagi Philip bertanya.


"Lo bener-bener nggak ngeh, kalau dokter Zahara itu suka sama lo?"


"Hhhh." Philip menghela nafas.


"Tau gue." ujarnya kemudian.


"Tapi ya udalah, mau diapain."


"Emang lo nggak ada perasaan sama dia?"


Lagi dan lagi Enrico bertanya. Philip menggeleng sambil melahap makanannya.


"Jangan-jangan, lo masih inget sama Gayatri."


Philip menghela nafas dan menjatuhkan pandangannya ke piring makan.


"Udah enam belas tahun, bro. Mungkin dia udah menikah dan punya anak tiga." ujar Enrico.


Philip masih diam.


"Lo sama dia itu beda keyakinan. Orang tua lo nggak ngasih, orang tua dia juga nggak merestui. Nggak bakal ketemu, mending lo udahin aja. Liat gue, walaupun gue gagal dalam membina rumah tangga. Tapi gue pernah menikah, lo belum pernah sama sekali. Padahal yang suka sama lo banyak."


"Nggak mudah buat gue, Ric."


Philip akhirnya bersuara.


"Gue tau udah enam belas tahun berlalu, tapi rasanya kayak baru kemaren."


Philip menghela nafas. Pria berusia 37 tahun itu seakan tak memiliki gairah lagi, untuk melanjutkan makannya.


***

__ADS_1


FOLLOW MY INSTAGRAM @p_devyara


__ADS_2