
"Bisa jadi sih." ujar Chika setelah mendengar semua pernyataan dari Egan.
"Ada beberapa makhluk astral yang sangat mungkin menyerupai manusia, dan bertingkah seolah-olah dia adalah orang yang dia tiru itu." lanjutnya kemudian.
"Emang ada ya Chik yang kayak gitu?" tanya Heru.
"Ada." jawab Chika.
"Bahkan dia bisa menyerupai siapa aja loh." lanjut gadis itu.
Seketika Egan teringat akan sesuatu.
"Lo kenapa, bro?" tanya Ben pada Egan.
"Nggak, gue inget pas Kala baru-baru disini. Dia kan sempat di rumah gue tuh beberapa hari. Nah katanya dia pernah ketemu makhluk yang menyerupai bik Marni, pembantu gue."
"Serius?"
Ben bertanya diikuti tatapan Andi, Niko, dan Heru.
"Serius gue, Kala bilang gitu. Udah pernah cerita belum sih gue?" tanya Egan.
Ben dan yang lainnya sedikit bingung.
"Nggak tau, udah apa belum. Apa kita yang lupa." ujar Ben.
"Tapi emang itu beneran?" tanya nya lagi.
"Bener." jawab Egan.
"Kala sih yang ngeliat, bukan gue." lanjutnya.
"Wah ngeri juga." ujar Niko.
"Asli ngeri." timpal Heru.
"Jadi Chik, apa menurut lo Kala di serupai atau di rasuki terus dia nggak sadar?" Andi bertanya pada Chika.
"Gue nggak tau persis sih soal itu. Nggak berani memastikan juga, takut salah." jawab Chika.
"Tapi yang jelas kemungkinannya ya dua itu." lanjutnya kemudian.
Mereka semua pun terdiam dan sama-sama terpikir akan Kala.
***
Menjelang sore hari, di apartemen. Philip yang baru pulang kerja memanggil anaknya.
"Kala."
"Iya yah?"
Kala keluar lalu menutup pintu kamar.
"Kenapa yah?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Duduk!"
Philip mengajak anaknya itu untuk duduk di ruang makan. Maka Kala menarik salah satu kursi, lalu duduk dihadapan ayahnya itu.
"Ayah mau bicara sama kamu. Tadi pihak sekolah ada menelpon ayah, katanya kamu di duga memukuli Faraz dan kedua temannya." ujar Philip.
"Siapa yang nelpon ayah?"
"Salah satu guru."
"Bukan guru BP kan?"
"Ayah nggak tau, kenapa emangnya?"
"Karena guru BP udah tau kalau Kala nggak salah. Di CCTV, nggak ada satupun tangkapan layar yang memperlihatkan Kala menuju ke arah Faraz dan kedua temanya itu. Dan lagipula emang Kala nggak salah apa-apa. Kala di fitnah sama dia. Mungkin yang nelpon ayah itu wali kelasnya Faraz. Dia masih nggak percaya kalau bukan Kala pelakunya."
Philip menarik nafas panjang dan menatap Kala dalam-dalam.
"Ayah boleh telpon Egan koq. Atau Andi, Niko, Ben dan Heru. Mau telpon dan tanya guru BP nya langsung juga nggak apa-apa." lanjut remaja itu.
Lagi-lagi Philip menarik nafas panjang.
"Oke." jawabnya kemudian.
"Kamu udah makan?" Ia kembali bertanya pada Kala.
Kala mengangguk.
"Ya udah, istirahat gih sana!" ujar Philip.
Kala kembali mengangguk, lalu remaja itu beranjak dan kembali ke kamar. Sebab tadi sebelum di panggil oleh Philip, ia tengah bermain game online.
***
"Blash."
Seperti ada langkah kaki berlari dibelakangnya. Philip terkejut, kemudian menoleh. Namun tak ada siapapun disana. Pria itu kembali berbalik dan melangkah, namun lagi-lagi suara orang berlarian itu kembali terdengar.
"Blash."
"Tap, tap, tap."
Suara langkahnya kali ini terdengar jelas.
"Kala?"
Philip curiga jika itu adalah Kala.
"Kal?"
Tak ada jawaban. Malah terdengar suara tertawa namun sangat kecil dan seolah ada dan tak ada.
"Kala?"
Philip kembali menuju dapur, sebab suara itu terdengar dari sana. Namun tak ada siapapun. Philip menarik nafas, lalu pergi ke sebuah ruangan dan mengecek CCTV.
__ADS_1
Tak ada pergerakan Kala sedikitpun di tangkapan layar. Namun kemudian ia melihat kunci pintu depan bergoyang-goyang. Seperti baru saja ada yang membuka.
Philip bergegas berlarian ke arah sana dan mengecek pintu tersebut. Benar saja, kunci pintu itu baru saja di buka. Maka dengan terburu-buru Philip pun keluar. Kemudian ia melihat ada yang masuk ke tangga darurat.
"Kalaaa."
Ia berteriak di tengah malam, kemudian ikut masuk ke sana. Namun orang yang ia perkirakan sebagai Kala itu sudah tak terlihat. Philip bingung, orang itu bergerak ke arah atas atau bawah.
Untuk mencegah hal yang tidak-tidak dan seperti yang sudah-sudah. Philip memutuskan untuk naik ke atas. Ia mencari sosok yang ia curigai sebagai Kala tersebut hingga ke rooftop.
Namun Kala tidak ada, ia melihat ke sekeliling gedung bagian bawah, pun tak ada tanda-tanda seorang anak telah terjatuh. Semua masih aman terkendali.
Philip lalu menelpon sekuriti di bawah, ia minta tolong di cek CCTV. Apakah anaknya telihat menuju ke bawah atau apa.
Sekuriti mengatakan jika tak ada satupun dari rekaman kamera, yang menunjukkan adanya Kala yang beredar di seluruh penjuru. Mendadak rasa panik pun menyerang Philip. Ia sangat takut anaknya kembali tidak sadarkan diri dan celaka.
"Oke pak, terima kasih. Tolong bantu saya cek di sekitar ya pak, mana tau dia ada." ujar Philip di telpon.
"Baik pak, akan segera di lakukan pengecekan." tukas sang sekuriti tersebut.
Philip mematikan telpon dan hendak mencari Kala. Namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba terdapat notifikasi panggilan di handphonenya. Dan itu adalah panggilan dari Kala.
"Hallo, Kala. Kamu dimana?." Philip bertanya dengan nada cemas.
"Loh, justru Kala yang mau nanya. Ayah dimana?. Kenapa pintu depan kebuka?"
Philip terdiam sekaligus tercengang. Berarti tadi ia agak lupa menutup pintu rapat-rapat.
"Ini maksudnya kamu udah pulang?" tanya Philip lagi.
"Pulang, pulang dari mana?" tanya Kala heran.
"Ini kamu dimana?" tanya Philip.
"Ya di apartemen yah, Kala kebangun karena haus. Terus Kala liat pintu depan kebuka, Kala nggak sengaja juga ngeliat ke kamar ayah. Pintunya kebuka, ayahnya nggak ada."
Philip menghela nafas, rasanya seperti mendapatkan kembali udara yang sempat menipis.
"Jadi tadi kamu itu tidur?" tanya Philip.
"Iya, emang ayah dimana sekarang?"
"Mmm, ayah. Ayah dari bawah, dari ngobrol sama sekuriti masalah keamanan sekitar yang ayah rasa perlu di tingkatkan."
Kala mengerutkan kening seraya menatap jam dinding, yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Rasa-rasanya tak mungkin untuk orang membicarakan sebuah hal serius di jam segini.
"Ayah ke atas sekarang." ujar Philip lagi.
"Oh, oke." jawab Kala.
Maka Philip pun kembali ke atas, dan benar saja. Kala memang ada di sana dengan wajah yang seperti baru bangun tidur.
"Kala tidur lagi ya yah." ujar Kala usai memastikan Philip kembali.
"Oke." jawab Philip.
__ADS_1
Kala pun beranjak masuk ke kamar, sementara Philip kini mengunci pintu rapat-rapat dan mencabut kuncinya. Kemudian kunci itu ia simpan di bawah bantal di kamarnya.
Sebelum pergi tidur, Philip mengambil tablet obat dan menenggaknya. Sebab ia memperkirakan jika dirinya mengalami halusinasi. Mengenai sosok yang tadi berlarian dan juga keluar rumah menyerupai Kala.