
Sesuai saran dari Andi. Siang itu Kala dan Egan beserta teman lainnya sepakat untuk menyambangi paranormal yang dimaksud.
Agak sulit bagi Kala maupun Egan untuk meminta izin pada Philip dan juga Enrico. Ditambah kini Egan tengah menjalani masa hukuman dari ayahnya itu.
"Om, kita lagi mau ke acara ulang tahunnya Andi hari ini."
Heru berkata pada Philip dalam sebuah panggilan video call yang di buat oleh Kala.
"Iya om nggak enak, ibunya Andi nyuruh kita semua datang." Ben menimpali.
"Ya udah, Kala jangan banyak pecicilan dulu tapi."
"Iya yah." jawab Kala.
"Tenang om, kita jagain Kala koq." ucap Andi.
"Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam."
"Iya yah." jawab Kala.
"Iya om." Teman-teman Kala menimpali.
Kala menyudahi panggilan tersebut. Kini giliran Egan yang melakukan panggilan pada Enrico.
"Kenapa Egan, papa lagi kerja ini." Enrico berujar di seberang.
"Pa, Egan boleh ke rumah teman Egan nggak?" tanya remaja itu.
"Mau kemana lagi kamu, kamu itu masih menjalani hukuman yang papa kasih loh. Jangan bertingkah dulu."
"Om, hai. Saya Andi om." Andi menengahi percakapan tersebut.
"Iya Ndi, mau kemana kalian?" tanya Enrico kemudian.
"Andi ulang tahun, om. Boleh ya ngajak Egan ke rumah Andi. Ibu Andi ngadain acara syukuran kecil-kecilan gitu di rumah. Banyak koq yang datang."
Andi mengarahkan kamera ke tempat lainnya.
"Tapi janji ya, Ndi. Egan nggak boleh pergi kemana-mana, selain rumah kamu. Om nggak mau nanti habis dari sana, dia malah menyimpang kemana-mana. Terus beralasan kalau dia masih di rumah kamu."
"Iya om, nggak koq. Di rumah juga ada orang tua Andi."
"Ya udah, boleh. Mana Egan?"
Andi kembali menyerahkan handphone Egan.
"Jangan pulang malam-malam dan jangan korbankan teman kamu lagi. Kalau kamu sampai melanggar, papa akan marah sama Andi."
"Iya pa." jawab Egan.
"Ya udah, papa kerja dulu."
Egan lalu menyudahi panggilan tersebut. Soal perizinan beres, kini mereka semua bersiap. Kebetulan Ben memang dalam sehari-harinya selalu membawa mobil ke sekolah, jadi mereka tidak bingung soal kendaraan.
"Siapa mau di depan?" tanya Ben, ketika mereka telah berada di halaman parkir.
__ADS_1
"Kala aja tuh." celetuk Niko.
"Jangan!" Egan melarang.
"Kecuali kalau lo siap ngeliat yang aneh-aneh." lanjutnya kemudian.
"Emang gitu ya?" tanya Ben pada Egan, diikuti tatapan yang lain. Sementara Kala netral saja, ia tak masalah mau duduk di manapun.
"Ya kali aja, kayak gue waktu itu. Ngeliat begituan juga, karena ada Kala di samping gue. Bedanya kan gue udah mulai terbiasa, takutnya elo nggak." jawab Egan.
"Ya udah deh, lo ditengah ya Kal. Gue penakut soalnya, walau nggak sepenakut Heru sih." seloroh Ben.
Heru sewot, sementara Kala dan yang lain hanya tertawa.
"Ya udah, gue tengah nih?" tanya Kala.
"Ya udah nggak apa-apa." jawab Ben.
"Gan, lo ditengah juga sama Kala. Biar Heru sama Niko di belakang. Andi sama gue di depan." lanjut remaja itu.
"Ok deh." jawab Egan.
Niko dan Heru kemudian masuk duluan dan duduk di bagian paling belakang. Kemudian disusul Kala serta Egan. Tak lama Ben dan Andi masuk lalu duduk di bagian depan. Ben membiarkan Andi yang mengemudi. Sebab Andi yang mengetahui dimana letak rumah paranormal tersebut.
***
"Dekat rumah lo ya, bro?" tanya Niko pada Andi ketika mobil telah berjalan.
"Kagak, jauh sih lumayan. Saudara gue pernah kesana dan gue yang nganterin waktu itu." jawab Andi.
"Ya apa salahnya di coba dulu. Kalau nggak manjur ya, kita cari alternatif lain." celetuk Ben.
"Iya nggak Gan?" tanya nya pada Egan.
"Iya yang penting usaha dulu." jawab remaja itu.
"Kaki lo gimana, Kal?" tanya Andi pada Kala.
"Udah nggak terlalu sakit banget sih, Ndi. Tapi gue pengen membuang makhluk ini aja dari kaki gue. Masa iya dia selamanya mau nempel, bayar kagak sama gue." ujar Kala.
Kali ini seisi mobil tertawa dibuatnya.
"Lagian lo bisa-bisanya jadi indi home." celetuk Ben.
"India, Bambang." Niko sewot.
"Indo mobil." ujar Andi.
"Indiana Jones." Heru menimpali.
Mereka pun kembali tertawa-tawa. Kala sendiri masih tak menyangka jika teman-temannya ini berbeda, dengan teman-teman di sekolah sebelumnya.
Saat melihat mereka semua tertawa, ia merasa begitu beruntung telah di bohongi dan di usir dari rumah keluarga mendiang ibunya. Ia benar-benar mendapatkan kehidupan dan pertemanan yang layak di tempat ini.
***
__ADS_1
"Ndi, belum sampai juga ya?"
Heru bertanya ketika mereka telah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Sampai-sampai sebagian dari mereka tertidur dengan lelap saking lelahnya menempuh perjalanan.
"Sedikit lagi, bro." jawab Andi.
"Kala tidur?" tanya Niko.
"Iya, tidur." jawab Egan.
Ben menoleh ke arah Kala dan memang remaja tampak itu tertidur dengan lelap.
"Kasian lu, Kal. Ganteng-ganteng indigo. Orang kek ngeliat cewek, elu malah ngeliat hantu."
Heru yang baru bangun berseloroh, hingga membuat seisi mobil menahan tawa. Sebab jika mereka benar-benar tertawa, mereka takut akan membangunkan Kala.
Setelah beberapa saat mereka tiba di tujuan. Rumah paranormal yang dimaksud berada sangat jauh dari pemukiman terakhir yang mereka temui sebelum tiba di tempat itu.
Rumahnya sendiri seperti rumah orang kebanyakan. Normal dan tak ada yang aneh, kecuali suasana sekitarnya yang seram, karena si kelilingi hutan. Pada saat yang bersamaan, Egan membangunkan Kala.
"Ndi, lo yakin ini tempatnya?" tanya Niko pada Andi.
"Yakin, masih inget gue. Namanya Ki Jagat Setyo apa gitu." lanjutnya kemudian.
Mereka semua melangkah.
"Tapi Ndi, gue takut ini tuh bukan paranormal deh. Tapi sarang begal."
Heru membuat semua mata kini menatapnya.
"Loh iya kan?. Bisa aja tau, berkedok apa tau-tau kita di begal."
"Gue udah pernah kesini dan di sini aman." jawab Andi.
"Iya kali aja waktu itu lo cuma beruntung lolos." ujar Heru lagi.
"Kreeek." pintu pagar terbuka dengan sendirinya.
"Wah, smart home." ujar Niko.
"Pasti orang awam mengiranya gaib." celetuk Heru.
Mereka masuk.
"Braaak"
Pintu pagar itu tertutup dengan keras, seperti ada yang membanting. Padahal itu terbuat dari besi. Mereka semua pun terkejut, tak terkecuali Heru yang sejak tadi selalu memberikan celotehan lucu.
"Ndi, aman kan?" Egan memastikan.
Sebab ia juga khawatir setelah mengamati tempat itu lebih lanjut.
"Aman, aman." jawab Andi.
Mereka lalu terus melangkah, sambil mata mereka tak henti mengawasi kesana dan kemari. Sebab bilamana terjadi sesuatu dan mereka butuh bantuan. Mereka harus mencarinya ke tempat yang jauh.
__ADS_1