Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Rahasia Kala dan Egan


__ADS_3

"Kala, kamu nggak sekolah?. Udah jam berapa ini?"


Philip berteriak pada sang anak yang masih berada di dalam kamar.


"Iya yah, bentar lagi."


Kala menjawab, namun Philip tidak tahu keadaan anaknya itu saat ini. Kaki kala benar-benar sakit akibat kejadian di rumah sakit tua itu semalam.


Namun ia juga tak mungkin berkata jujur mengenai kondisinya tersebut. Sebab Philip sudah pasti akan memarahinya. Apalagi niat awalnya adalah mengerjai Philip dan juga Enrico.


"Kala." Philip kembali memanggil.


"Iya yah." jawab Kala lalu berusaha beranjak. Ia kini memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas.


Tak lama remaja itu pun melangkah keluar kamar, dengan sikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Sarapan di mobil aja ya, udah siang." ujar Philip lagi.


"Takutnya kamu telat dan ayah juga gitu." lanjutnya kemudian.


"Ok." jawab Kala.


Philip lalu mengambil sarapan yang sudah ia letakkan di kotak bekal makan sejak tadi. Sebab Kala yang lambat keluar dari kamar, maka ia berinisiatif untuk melakukan hal tersebut.


Mereka kini menuju lift. Philip berjalan duluan, sementara Kala mengekor di belakang, sambil menahan sakit di kakinya.


Pintu lift terbuka, keduanya sama-sama masuk dan berdiri di belakang. Awalnya biasa saja, sampai Kemudian Kala benar-benar merasakan denyutan yang begitu hebat di kakinya. Ia mulai resah, sebab pengguna lift juga semakin banyak yang masuk dari lantai ke lantai.


Ia menahan sakit ditengah jumlah pengguna lift yang cukup sesak. Bisa dipastikan keadaannya kian bertambah runyam.


"Braaak."


Philip membuka pintu mobilnya lalu masuk, ketika akhirnya ia dan Kala berhasil mencapai parkiran. Kala juga ikut masuk dan langsung duduk. Ia begitu lega karena kakinya kini bisa beristirahat.


"Kala?" Philip tanpa sengaja menoleh ke wajah puteranya itu.


"Muka kamu koq pucat banget begitu?" tanya nya kemudian.


Kala sejatinya sudah nyaris pingsan, sebab menahan sakit sejak di atas tadi.


"Nggak apa-apa yah." jawabnya kemudian.


"Nggak apa-apa gimana, pucat banget begitu. Nih, kamu makan dulu...!"


Philip menyerahkan bekal makan untuk puteranya itu. Sebab ia mengira pucatnya wajah Kala lantaran Kala belum sarapan.

__ADS_1


"Ntar aja yah." ujar Kala menolak.


Sebab bukan itu yang jadi penyebab. Ia kini tengah menahan sakit yang amat hebat di kakinya. Jangankan makan, untuk duduk seperti ini saja ia tidak begitu nyaman.


"Makan dulu, nggak boleh kayak gitu."


Philip masih berusaha membujuk sang anak. Sebab ia khawatir Kala akan terlihat semakin lemas, apabila tidak segera makan.


"Iya yah, Kala janji bakal makan. Tapi bentar lagi, tunggu dulu. Kala tuh ngantuk."


Kala mengeluarkan sebuah alasan yang sejatinya adalah dusta. Philip menatapnya sekali lagi.


"Ya udah." jawabnya kemudian.


Philip menghidupkan mesin mobil, sesaat setelah itu mobil pun tancap gas.


***


Kala akhirnya tertidur di sepanjang perjalanan menuju sekolah. Philip tersenyum memperhatikan sang anak. Ia begitu manis dan innocent, membuat hati Philip seperti meleleh dengan sendirinya.


Perlahan tanpa sadar, di sentuhnya kepala anak itu. Kemudian ia belai dengan penuh kasih sayang, di sela-sela menyetir mobil.


Tak lama mereka sampai di sekolah Kala. Philip sengaja memarkir mobilnya di dalam, sebab sebentar lagi bel tanda masuk akan dibunyikan. Ia membiarkan Kala tertidur, tanpa membangunkannya. Hingga akhirnya Kala terbangun sendiri, lantaran mendengar suara siswa-siswi yang lalu lalang.


"Udah sampai yah?" tanya nya kemudian.


"Aaakh."


Tiba-tiba ia meringis kesakitan, Kala lupa jika kakinya sedang bermasalah. Philip segera keluar dan memutar untuk menghampiri anaknya itu.


"Kenapa kamu?" tanya nya panik.


"Mmm, nggak apa-apa koq yah." jawab Kala berusaha menyembunyikan semuanya. Ia berpura-pura jika kakinya sudah tidak sakit lagi.


"Beneran?" tanya Philip tak percaya.


"Beneran yah."


"Ya udah ayah berangkat ya."


"Iya yah, hati-hati di jalan." ujar Kala.


Philip mengangguk, sesaat kemudian ia kembali masuk ke dalam mobil. Dan mobil tersebut melaju, meninggalkan pelataran parkir sekolah. Kala kini berjalan tertatih menuju pintu lobi.


***

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan Kala, egan juga tampak begitu lesu hari ini. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, ia hanya bengong dan menatap ke sisi jalan. Semalaman tidurnya tak tenang, ia masih mengingat peristiwa yang ia alami bersama Kala.


"Makanya jangan pada punya rencana buruk."


Chika menasehati Egan, ketika mereka tengah makan di kantin. Ada teman Egan yang lainnya juga di sana.


"Sumpah Chik, ini parah banget sih. Bisa gitu gue sama Kala sama-sama nggak sadar, kalau kita tuh masuk ke rumah sakit yang terbengkalai."


"Ya bisa aja. Karena kan lo berdua memiliki rencana buruk nih, niatnya menjahili. Nah niat buruk ini akan berada satu frekuensi sama entitas yang juga memiliki energi buruk, makanya kalian di pertemukan. Kayak law of attraction aja sih. Apa yang kita ucapkan, niatkan, pikirkan, itu akan menarik hal yang sama. Menarik energi yang sama. Contoh kita marah, kita juga akan menarik orang-orang yang marah di sekitar kita. Kita senang, ya kita juga akan menarik orang-orang yang senang di sekita kita. Ngerti nggak sih lo?"


"Iya-iya, ngerti gue." ujar Egan.


"Nggak mau lagi deh gue, punya niat buruk." lanjutnya kemudian.


"Kala sekolah nggak?" tanya Chika lagi.


"Sekolah, ini barusan chat sama gue. Dia bilang kakinya masih sakit."


"Lagian sih." Chika tertawa.


"Ya namanya juga usaha, Chik. Siapa tau dengan nakut-nakutin, bapak gue sama bapaknya Kala bakalan percaya gitu."


"Udah gue bilang susah. Bikin orang kayak gitu supaya yakin terhadap sesuatu yang gaib. Sama aja kayak lo berusaha menyatukan minyak sama air, nggak akan pernah bisa. Biarin aja mereka tau sendiri nantinya. Pasti akan ada koq saatnya mereka mengalami kejadian mistis yang bener-bener bikin mereka nggak bisa lupa."


"Iya sih."


Egan menjawab lalu melanjutkan makan.


***


Flashback.


Kembali ke saat setelah Philip mengantar Kala


Philip sebentar lagi tiba di rumah sakit. Namun kemudian mobilnya mendadak berhenti di depan bekas rumah sakit yang semalam di datangi oleh Kala dan juga Egan.


Philip bingung, sebab kendaraannya baru saja di service dan selama ini juga tak pernah mengalami masalah apapun.


Philip mencoba menghidupkan mesin, namun tak berhasil. Akhirnya ia keluar untuk mengecek mesin. Namun mata Philip kemudian menangkap sesuatu di halaman rumah sakit tersebut.


Ya, sebuah laptop dengan stiker salah satu team sepak bola di sebuah negara. Philip ingat itu adalah stiker yang tertempel di MacBook milik Kala.


Merasa aneh, karena rumah sakit tersebut telah lama terbengkalai. Maka ia pun kemudian masuk dan mendekat ke arah MacBook itu. Ia mengklik MacBook tersebut dan terdapat nama Kala di atas kolom Password.


Batin Philip pun bergemuruh, berarti semalam Kala ada di tempat ini. Philip mengambil perangkat it, dan ia melihat ada dua buah tas yang terletak tak jauh dari sana.

__ADS_1


Philip segera memeriksa dan ternyata kedua tas itu adalah tas sekolah milik Kala dan juga Egan. Tas tersebut adalah tas wajib yang digunakan di sekolah mereka dan terdapat nama pemilik di bagian dalamnya.


Segera saja Philip mengumpulkan dan kembali mencari di sana-sini. Takut kalau ada barang lain yang juga tertinggal di sana.


__ADS_2