Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Sang Penjaga


__ADS_3

Philip kembali ke kamar mandi, karena ia memang belum selesai. Pria itu melepas handuk dan kembali masuk ke dalam shower room.


"Tok, tok, tok."


Kembali terdengar seperti suara ketukan. Philip mematikan shower dan ketukan itu memanglah benar adanya.


"Tok, tok, tok."


Pria itu pun tertawa kecil, sebab ia pikir hal tersebut adalah ulah Kala. Mungkin anak itu sudah mulai menerima dirinya secara penuh sebagai seorang ayah, dan saat ini ia sedang diajak bercanda.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan untuk yang kesekian kali. Philip tak menggubris, ia hanya terus mandi dan membiarkan saja ketukan itu terdengar lagi dan lagi di pintu.


Usai mandi, pria tersebut kembali mengenakan handuk dan mematikan shower. Tak lama ia pun keluar dari dalam shower room, lalu menyikat gigi di wastafel.


"Tok, tok, tok."


Suara itu terdengar kembali, ketika ia selesai berkumur. Philip lagi-lagi tertawa dan melangkah untuk segera membuka pintu. Namun kemudian langkah itu terhenti, tatkala ia dikejutkan dengan suara shower yang mendadak hidup.


Philip menoleh, ia ingat betul sudah mematikan shower tersebut. Philip berbalik dan menuju ke shower room. Ketika pintunya terbuka, shower tersebut dalam keadaan mati. Tak ada air yang mengalir sama sekali, bahkan tetesan pun tak terlihat.


Pria itu diam, lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu masuk seperti tadi. Namun lagi-lagi shower tersebut hidup. Maka Philip buru-buru membuka lagi pintu shower room itu dan ternyata showernya mati.


Philip sedikit menghela nafas, ia diam sejenak dan benar-benar memastikan. Tak lama kemudian ia kembali menutup pintu shower room itu. Lalu melangkah lagi ke arah pintu yang masih di ketuk-ketuk.


Tiba-tiba, shower kembali hidup. Philip menoleh dan kali ini bukan hanya suara air saja yang terdengar. Di dalam shower room tersebut terdapat sosok yang berdiri. Lantaran kaca ruangan tersebut sama frosted dengan yang ada di kamar mandi lain, Philip tak bisa melihat jelas siapa sosok yang ada di dalam.


Jantung pria itu berdegup kencang. Tengkuk dan seluruh tubuhnya mendadak merinding. Sebab bila memang ada orang di ruangan tersebut, itu sangatlah mustahil. Tak ada tempat untuk manusia bersembunyi disana. Sudah pasti Philip akan mengetahui sejak awa.


Philip segera mengambil senjata api di laci wastafel kamar mandi. Ia selalu menyimpan senjata api tersebut disana. Buru-buru pria itu membuka shower room dan menodongkan pistol.


Namun sosok yang ia lihat itu sudah tidak ada, dan lagi-lagi showernya dalam keadaan mati. Philip menarik nafas panjang, seketika tubuhnya terasa lemas.


Ia kemudian meletakkan kembali senjata api ketempat semula dan benar-benar keluar dari kamar mandi. Tak ada satu orang pun di muka pintu. Ia lalu bergegas memakai pakaian, setelah itu ia keluar dan mencari Kala. Tampak Kala baru saja masuk.


"Kamu tadi ngetok-ngetok pintu kamar mandi ayah?" tanya nya pada sang anak.


Kala mengerutkan kening.

__ADS_1


"Ngapain Kala ngetok-ngetok pintu kamar mandi ayah." Kala balik bertanya.


"Masa sih bukan kamu yang ngetok?"


"Ya emang bukan Kala, orang Kala dari bawah nganter anak-anak balik. Terus Kala naik lagi dianterin security. Karena kata Andi dan yang lain, takut Kala kesurupan lagi. Makanya harus dianter."


Philip makin diam.


"Ya udah kalau gitu, mungkin ayah salah dengar." ujarnya lagi.


Philip berlalu, menuju ke sebuah ruang, tempat dimana ia menyimpan beberapa jenis obat. Dokter tampan itu kemudian mengambil tablet obat, yang ia perkirakan bisa mengurangi gejala yang ia alami barusan.


Kebetulan di tempat itu terdapat gelas dan juga dispenser. Maka Philip langsung meminum obat tersebut di tempat.


***


Esok harinya Philip kembali normal seperti biasa, bahkan ia nyaris lupa pada apa yang ia alami di kamar mandi semalam.


Sementara Kala, hidupnya mendadak berubah. Pasalnya kini ia dikawal oleh supir dan juga satu bodyguard berbadan tinggi besar.


"Ayah ini apa-apaan sih?" tanya Kala di telpon, ketika ia telah berada di dalam mobil menuju ke sekolah.


"Ya buat apa tapi?" tanya Kala lagi.


"Buat jagain kamu lah, kamu itu sakit Kala. Kamu sering hilang kesadaran tiba-tiba."


"Kesurupan yang kata temen-temen, maksudnya?"


"Ya, itu kondisi medis dan psikis." ujar Philip.


"Ya tapi kenapa harus pake pengawalan segala?" ujarnya lagi.


"Karena ayah nggak bisa mengawasi kamu 24 jam, ayah kerja. Kalau kamu mendadak kehilangan kesadaran di tempat berbahaya gimana?"


Kala menghela nafas, ia mengerti ketakutan yang di alami Philip. Namun ia juga tak mau hidupnya menjadi diawasi dan geraknya terbatas.


"Tapi yah."


"Nggak ada tapi-tapi, ya. Saat ini kamu sedang berada di dalam pengawasan dan pengobatan ayah. Kamu harus nurut, sampai sembuh baru pengawalannya ayah cabut."

__ADS_1


Lagi-lagi Kala menghela nafas. Jujur ia kesal dengan semua ini, namun tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan.


"Ayah kerja dulu, baik-baik di sekolah." ujar Philip lagi, dan mau tidak mau Kala pun menjawab.


"Iya."


Telpon tersebut disudahi, sementara mobil yang membawa Kala terus bergerak.


***


"Siapa tuh yang nganter si Kala?"


Faraz beserta kedua temannya, yakni Lucky dan juga Reza tanpa sengaja melihat Kala yang baru datang ke sekolah.


Mereka saat ini masih nongkrong didepan gerbang, dan kebetulan mobil yang mengantar Kala berhenti di dekat mereka.


"Om Ferdi batas disini aja ya, Kala nggak mau diikuti sampai dalam." ujar Kala pada bodyguard yang katanya merupakan teman Philip


"Ok." jawab Ferdi kemudian.


Kala masuk dan Ferdi tetap tinggal di luar. Kini pria itu kembali masuk ke mobil, namun tetap memantau pergerakan Kala.


"Itu bodyguard nya dia?" tanya Lucky pada Faraz.


"Gaya amat anjir, sok anak sultan." timpal Reza mengompor-ngompori.


Faraz sendiri langsung terbakar hatinya melihat semua itu. Sementara Kala kini sudah menjauh dan bertemu dengan Andi, Ben, Niko serta Heru.


"Bilang aja dia penakut, takut kita balas menyerang dia. Cemen nih anak." Faraz berspekulasi dengan sotoy nya.


"Yoi, gue pengen deh ngerjain tuh anak." ujar Reza.


"Iya Far, bikin dia sampe minta ampun." timpal Lucky.


Faraz menatap kedua temanya itu.


"Tenang aja, gue punya banyak rencana koq." ujarnya kemudian.


Ketiga remaja itu pun lalu masuk ke dalam pekarangan sekolah. Sedang supir dan pengawal Kala menunggu di sebuah tempat yang tak jauh dari sekolah itu.

__ADS_1


__ADS_2