
"Kenapa Kal?"
Philip melihat puteranya diam ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.
"Maafin Kala yah, ini semua gara-gara Kala." ucapnya pada Philip.
"Udahlah, semua udah terjadi juga. Lagian kamu nggak salah kan, itu yang terpenting buat ayah."
Kala menunduk, Philip menghidupkan mesin mobil. Kemudian mobil tersebut merayap meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
"Kita makan ya, tadi kan kita rencana mau makan dulu sebelum pulang."
Philip kembali berkata, ketika mobil yang ia kendarai telah melaju cukup jauh. Kala menggeleng, remaja itu menjatuhkan pandangannya ke arah dashboard.
"Kenapa?"
"Kala nggak laper yah." jawabnya kemudian.
"Kal, kamu nggak usah gitu. Nggak usah merasa bersalah sama ayah. Sudah tugas orang tua melindungi anaknya dari apapun."
"Tapi yah, udah banyak banget yang celaka gara-gara Kala. Dulu keluarga ibu, sekarang ayah."
"Enough, jangan pernah menyalahkan diri kamu berlebihan. Dimana-mana ribut antar orang tua soal anak itu, biasa. Bukan perkara yang kamu harus pikirkan dalam-dalam." ujar Philip.
"Sekalipun kamu memang memukul Faraz dan teman-temannya, ayah akan tetap membela kamu dari keluarganya yang mau menyerang. Sebab itu urusan kamu dan Faraz. Nggak mungkin kamu melakukan sesuatu tanpa sebab. Keluarganya juga harus introspeksi diri, kenapa anak mereka sampai menerima perlakuan seperti itu. Mereka seharusnya juga bisa memonitor anak mereka dan mengajarkan hal-hal baik. Jangan hanya menyalahkan pihak luar saja, ketika terjadi sesuatu terhadap anak."
Kala diam, ia tak tau harus berkata apa lagi.
"Ayah minta kamu jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Itu nggak baik untuk kondisi mental kamu."
***
Di lain pihak.
"Ritual?"
"Iya, ntar gue yang memimpin ritualnya."
Chika berujar pada Egan di telpon.
"Lo kabarin Kala aja, soalnya gue chat nggak di bales. Gue telpon, nggak diangkat juga sama dia." lanjut gadis itu.
"Kapan nih rencananya?" Egan kembali bertanya.
"Lebih cepat, lebih baik. Sebelum makhluk yang menggelayuti kaki Kala itu mencelakai orang lainnya lagi. Kan kasian Kala kalau terus-terusan di fitnah."
"Tapi lo yakin kalau itu perbuatan si makhluk itu?" Untuk kesekian kali Egan kembali bertanya pada Chika.
__ADS_1
"Gue yakin makhluk yang itu. Dia kayaknya suka sama Kala dan nggak mau Kala di ganggu orang lain." ujar Chika.
Egan menghela nafas panjang.
"Ya udah deh, ntar gue bicarakan dulu ya sama Kala." tukasnya kemudian.
"Ok, kalau bisa ajak teman Kala yang lain. Kita butuh orang-orang yang menjaga sekitar. Karena takutnya makhluk itu bakal merasuki Kala dan dia lari misalnya. Kan repot kalau cuma kita berdua yang ngejar."
"Oke deh." jawab Egan.
Tak laman Chika pun berpamitan, lalu telpon tersebut di sudahi.
***
Philip tiba di lahan parkir apartemen, setelah memarkir mobil ia dan Kala keluar. Mereka melangkah ke arah pintu lobi. Namun kemudian ia dikejutkan dengan kehadiran dua orang tua, yakni ayah dan ibunya.
"Mama, papa?"
Philip benar-benar kaget. Kala memperhatikan kedua orang itu. Persis seperti pria dan wanita kaya serta arogan di drama Korea.
"Kenapa kamu nggak angkat telpon papa?" tanya sang ayah pada Philip.
"Ada orang yang menelpon ke nomor hotline kantor dan mengatakan kalau anaknya sudah di keroyok anak kamu. Anak kamu yang mana?" ibunya menimpali.
Philip melirik ke arah Kala yang kini berdiri di samping. Kedua orang tua Philip memperhatikan cucu mereka tersebut dari bawah hingga ke atas. Mereka benar-benar kaget dengan wajah Kala yang sama persis ketika Philip masih remaja.
"Ini anak siapa, Phil?"
"Kita bicara di atas saja." ujar Philip.
Tak lama keempatnya pun sudah terlihat berada di unit apartemen milik Philip.
"Kala, kamu ke kamar dulu!"
Philip memerintahkan anak itu, ketika pintu telah di buka. Kala hanya mengangguk lalu berjalan ke arah kamar dan menghilang di balik pintu.
Kini Philip dan kedua orang tuanya menuju ke ruang makan untuk bicara.
"Siapa dia, jelaskan pada kami."
Ibu Philip membuka pembicaraan.
"Dia anakku, ma. Dari pacarku yang dulu, yang mama dan papa nggak setujui."
Kedua orang tua Philip terhenyak kaget.
"Kamu punya anak sama dia?" tanya sang ayah tak percaya. Philip sedikit menunduk namun mengangguk.
__ADS_1
"Kamu yakin dia anak kamu?" Ibunya meragukan.
"Mama dan papa liat aja mukanya, mirip siapa?. Dan lagi hasil tes DNA nya sudah keluar, dia anakku." ujar Philip.
"Tapi dia anak di luar nikah. Dalam kepercayaan yang kita anut, tidak ada tanggung jawab untuk menafkahi atau bertanggung jawab kepada anak haram."
"Degh."
Batin Kala mendadak terpukul dan terasa pilu mendengar semua itu. Tak ada ruangan kedap suara di apartemen Philip. Hingga ia pun harus mendengarkan itu semua secara langsung.
"Kalau kepercayaan yang kita anut tidak mengajarkan soal itu. Maka biarkan aku bertanggung jawab atas nama manusia yang pernah berbuat dosa. Agama mungkin tidak mengatur tanggung jawab serta nafkah kepada anak di luar nikah. Tapi sebagai manusia dan sebagai laki-laki yang secara sadar melakukan hubungan itu, aku nggak akan menghindar dan berlindung di balik agama. Dia anakku, hasil kesalahanku. Jadi biarkan aku bertanggung jawab sepenuhnya."
Kedua orang tua Philip menarik nafas panjang. Terlihat jelas mereka tak setuju dengan keputusan yang diberikan anak mereka tersebut.
"Kami datang kesini memang sengaja. Sebelum menerima telpon bahwa anak itu mencelakai temannya. Kami berencana membicarakan soal perjodohan kamu." Ibu Philip berujar.
"Perjodohan?" Philip mengerutkan kening.
"Iya, dengan anak partner bisnis papa." timpal sang ayah.
Philip sedikit terdiam, begitupula dengan Kala yang saat ini masih mendengarkan.
"Nggak, ma, pa. Aku nggak mau menikah." ujar Philip.
"Nggak mau menikah gimana?. Pernikahan itu wajib." tukas sang ibu.
"Kata siapa?"
Philip berkata sambil menatap ibu dan ayahnya lekat-lekat.
"Menikah itu bukan sebuah kewajiban, tergantung masing-masing individu mau menjalaninya atau tidak."
"Kami ini ingin punya cucu dari kamu." Sang ayah menimpali.
"Aku udah punya anak."
"Dia itu anak haram."
"Yah."
Tiba-tiba Kala muncul dari dalam kamar. Mendadak kedua orang tua Philip menjadi diam, sementara Philip hancur hatinya melihat anak itu. Ia tau Kala mendengar semua isi percakapan diantara mereka.
"Kala mau ke bawah dulu." ujar remaja itu kemudian.
"Jangan aneh-aneh." Philip mewanti-wanti.
"Kala di dekat pos sekuriti koq." ucap remaja itu lagi.
__ADS_1
"Oke."
Philip mengizinkan. Remaja itu menatap sejenak ke arah sang kakek dan nenek, kemudian menghilang di balik pintu.