
"Kala."
Enrico mengetuk pintu kamar yang kini ditempati anaknya.
"Braaak."
Kala membuka pintu itu dan bertanya mengapa. Pertanyaan tersebut tanpa suara, hanya tatapan mata Kala saja yang berbicara. Philip lalu menyerahkan sebuah selimut. Kala menoleh ke belakang dan melihat tempat tidur yang sudah memiliki bed cover.
"Selimut ini, dulu sering di gunakan ibu kamu saat sedang ada kegiatan Mapala atau ketika kami sedang tur ke suatu tempat." ujar Philip.
Kala meraih selimut tersebut, dan Philip pun beranjak.
"Kala nggak punya sikat gigi, yang di rumah Egan lupa bawa."
Philip menghentikan langkahnya dan menoleh, pria itu tersenyum tipis pada anaknya.
"Ada lagi yang kamu butuh?" tanya nya kemudian.
Kala menggeleng.
"Ok, nanti ayah bawakan ke sini."
Kala mengangguk dan berbalik, anak itu kemudian menutup pintu. Tak lama Philip kembali dengan apa yang diminta oleh Kala. Bahkan ia menambahkan handuk baru, karena teringat jika di dalam kamar mandi Kala belum ada handuk.
"Besok pulang kerja, ayah samperin kamu di sekolah. Kita beli perlengkapan apapun yang belum kamu punya."
Kala mengangguk, Philip lalu meninggalkan anak itu untuk melakukan aktivitas lain di bawah.
Pagi hari, saat Philip tengah bersiap. Ia kaget ada dua mangkuk sup ayam di atas meja makan. Ia ingat jika masih menyimpan banyak bahan makanan di kulkas, tapi ia tidak tahu jika hal ini kemudian sudah berubah menjadi masakan.
Kala kemudian datang menghampiri, dengan berbaju sekolah lengkap. Ia kemarin juga sudah diberitahu jika akan dipindahkan sekolahnya di sekolah Egan. Ia juga sudah mendapatkan seragam yang baru.
"Ini kamu yang bikin?" tanya Philip pada Kala.
Remaja laki-laki tampan itu mengangguk. Philip tak begitu terkejut dengan anak laki-laki seumur Kala yang bisa memasak. Karena dirinya pun juga begitu dari dulu.
Tapi yang membuat ia kaget adalah, sup tersebut juga merupakan makanan kesukaannya dari kecil. Setiap sarapan pagi ia selalu meminta dibuatkan itu pada ibunya, atau ia buat sendiri ketika ia telah remaja.
Philip benar-benar tak menyangka, bahwa bukan hanya wajahnya saja yang begitu mirip. Kala juga menyukai hal-hal yang disukai oleh sang ayah. Padahal ia tumbuh tidak dalam didikan Philip maupun Gayatri, yang mengetahui kebiasaan Philip.
"Kamu diajari siapa?" tanya Philip seraya mulai menggeser kursi dan duduk.
"Kak Gilang, tetangga sebelah rumah."
Philip menatap puteranya itu.
"Waktu kecil Kala susah makan, dan sering dimarahi sama nenek. Kakek selalu belain Kala, dan ajak Kala keluar rumah. Biasanya kakek akan beli makanan di luar buat Kala. Suatu ketika mamanya kak Gilang kasih sup ini ke rumah, mungkin dia dengar Kala sering dimarahi. Dia bilang anak-anak pasti suka makan ini."
"Dan kamu suka?"
Kala mengangguk.
__ADS_1
"Sejak itu kami sering minta bikinin?"
"Iya, sama mamanya kak Gilang. Kalau di rumah mana pernah Kala di turutin, kecuali ngomong sama kakek. Pas kakek meninggal, udah nggak ada lagi yang bisa nurutin Kala."
Philip menghela nafas, jujur ia ingin mendengar cerita lebih banyak dari anaknya tersebut. Namun karena ini masih pagi, ia enggan mengingatkan Kala pada hal-hal yang tidak mengenakkan.
"Hmm, enak." ujar Philip ketika ia mulai menghirup kuah sup tersebut.
Kala diam menatap Philip, namun Philip tau jika anak itu cukup senang masakannya di puji.
"For your information, ini masakan kesukaan ayah."
Kala terhenyak dan kembali menatap Philip.
"Serius." lanjut Philip kemudian.
"Tapi ayah lebih suka kalau daun ketumbar nya lebih banyak." ujarnya lagi.
"Tadi sisa sedikit." jawab Kala.
"Iya, it's ok. This is perfect." Philip tersenyum lalu kembali makan.
Beberapa saat setelah sarapan, Kala berjalan ke arah kamar mandi dan begitupun dengan Philip. Karena sedang memperhatikan handphone masing-masing, keduanya tanpa sadar nyaris bertabrakan di muka pintu.
Kala mendadak menghentikan langkah, begitupula dengan Philip. Keduanya sama-sama terdiam, demi melihat sikat gigi lipat yang ada di tangan masing-masing.
Lagi-lagi kebiasaan mereka sama, suka membawa sikat gigi lipat kemanapun. Dua-duanya merasa tak betah jika habis makan, dan tak membersihkan gigi.
**
"Boleh juga nih?"
Beberapa orang siswi yang tergabung dalam sebuah geng populer sekolah, melihat ke arah Kala dan ayahnya yang berjalan ke arah ruang guru.
"Siswa baru ya?"
Beberapa diantara yang lain tampak berbisik-bisik. Kala hanya diam dan mengikuti langkah Philip. Usai menyelesaikan segala urusan dengan kepala sekolah, Philip pun berpamitan pada Kala.
"Ayah kerja dulu, nanti siang ayah jemput. Kamu nggak apa-apa kan ayah tinggal?"
Kala mengangguk, Philip berpamitan dengan kepala sekolah lalu beranjak. Tak lama Kala dibawa oleh seorang guru menuju kelas.
"Pagi anak-anak."
Guru tersebut menyapa siswa di kelas 1-C
"Pagi bu." jawab mereka semua secara serentak.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya Kala Madhara Adyatama."
"Siapanya Madara Uchiha lo, bro?"
__ADS_1
Salah seorang siswa nyeletuk dan mengundang tawa seisi kelas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Kala tersenyum dihadapan teman sekelasnya.
"Nah Kala, kamu duduk di sana, di sebelah Andy."
Kala melangkah, ia duduk di sebelah anak yang yang tadi nyeletuk padanya. Anak itu tampak bersikap ramah padanya, dan tak lama kemudian pelajaran pun di mulai.
"Bro, lo tau nggak bangku yang lo tempati sekarang ini?"
Andy tiba-tiba berujar padanya di tengah pelajaran. Suara anak itu setengah berbisik, agar tak di dengar guru.
"Kenapa?" tanya Kala heran.
"20 tahun yang lalu, katanya siswi yang duduk disini itu bunuh diri. Namanya Mawar."
"Kata siapa?" Kala kembali bertanya.
"Menurut gosip yang beredar turun-temurun." jawab Andy.
Kala pun tertawa kecil.
"Lo nggak takut?" tanya Andy lagi.
"Gue dari tadi nggak ngeliat apa-apa disini." ujar Kala.
"Biasanya lo ngeliat?"
"Iya." jawab Kala kemudian.
Andy pun terkejut, ia menatap Kala dengan bibir yang menganga.
"Nggak deng, gue bercanda." ujar Kala.
Andy kemudian bernafas lega, sedang Kala kembali tertawa kecil.
"Gue rencana mau ngerjain lo, malah lo yang ngerjain gue." ujar Andy.
Keduanya lalu sama-sama tertawa dan kembali memperhatikan pelajaran.
Waktu berlalu, bel tanda istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa beranjak untuk segera menuju kantin.
"Kal, kantin yuk?" Andy mengajak Kala.
"Lo ngajak gue?" Kala yang tak memiliki teman di tempat sebelumnya itu, bertanya pada Andy.
"Iya siapa lagi, emang lo ada dua." ujar Andy.
"Kantin yuk bro." Tiga orang lainnya tampak mengajak Andy.
"Ayo Kal." ujar Andy lagi.
"Ok."
__ADS_1
Tak lama kemudian Kala pun beranjak dan pergi ke kantin bersama teman-teman barunya itu.
Tanpa Kala sadari, buku yang ia tinggalkan di atas meja, tiba-tiba terbuka sendiri lembar demi lembar. Padahal sedang tidak ada angin yang bertiup, pintu jendela kelas pun tertutup rapat.