Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Kala di Depan Mata


__ADS_3

"Liat apa yang sudah kalian lakukan. Kalian melukai hati dan perasaan dia."


Philip marah pada kedua orang tuanya, ketika Kala sudah tak terlihat lagi di depan mata.


"Kami tidak mau menerima anak itu." ujar sang ibu tegas.


"Dan aku nggak perlu persetujuan kalian untuk menjaga dia. Dia anakku, aku orang dewasa yang tidak lagi bergantung hidup pada kalian. Aku bisa menghidupi dia sendiri."


"Jangan lupa kamu bisa sekolah dan kuliah, sampai ke tahap ini karena uang siapa."


"Itu tanggung jawab, ma. Kalau nggak mau atau nggak ikhlas berkewajiban menyekolahkan, menafkahi, dan memberi apapun itu, jangan punya anak."


Philip makin naik pitam atas sikap orang tuanya yang suka mengungkit tersebut. Sifat sang ibu seperti kebanyakan sifat orang tua jaman dulu lainnya. Menikah dan memiliki anak atas dasar kesadaran sendiri. Tapi perihal tanggung jawab, suka mengungkit.


Padahal sudah tugasnya orang tua menafkahi dan memberikan pendidikan yang layak pada anak. Benar kata Philip, jika tak tak ikhlas mengeluarkan biaya, maka jangan punya anak.


"Pokoknya kami akan tetap mengatur soal perjodohan kamu." Sang ayah bersikeras.


"Terserah, tapi aku nggak mau."


Philip kini beranjak menuju ke kamar.


"Kalian tau harus kemana nantinya, sebab anakku nggak nyaman dengan kalian."


Philip berujar sebelum dirinya menghilang di balik pintu. Sementara sang ayah dan sang ibu kini terdiam penuh kemarahan.


***


"Mama nggak suka dengan sikap Philip tadi pa."


Ibu Philip menggerutu, ketika ia dan sang suami telah keluar dan kini menunggu lift.


"Iya, papa juga sangat menyayangkan. Kenapa dia jadi kurang ajar seperti itu. Apa karena pengaruh anak itu dan ibunya?" tanya nya kemudian.


Mereka tak tahu jika Gayatri telah meninggal dunia. Sebab tadi philip tak sempat bercerita dan memilih mengurung diri di kamarnya. Hingga kedua orang tuanya merasa terusir dan terpaksa pulang.

__ADS_1


"Pasti perempuan itu yang mengajari anaknya untuk menghasut Philip. Ada tujuan ingin dinikahi mungkin."


Ibu Philip berspekulasi. Tak lama pintu lift terbuka dan dari dalam sana Kala keluar. Mereka sempat beradu tatap untuk beberapa saat, sampai akhirnya Kala melengos begitu saja. Ibu dan ayah Philip kemudian masuk ke dalam lift dan turun ke bawah.


"Papa nggak ada simpatinya sama sekali dengan anak itu. Philip harus menerima perjodohan yang sudah kita buat dan harus memiliki anak lain."


Ayah Philip berujar penuh kemarahan. Ia kini berjalan terburu-buru bersama sang istri.


"Mama juga nggak suka ngeliatnya, Pa. Nggak sopan, padahal masih remaja. Pasti ibunya nggak bener."


"Kalau perempuan benar, nggak mungkin sampai punya anak di luar nikah ma." tukas sang suami.


"Degh."


Ayah dan ibu Philip kembali berpapasan dengan Kala di pintu lobi. Padahal mereka tadi jelas-jelas melihat Kala di atas keluar dari lift.


Kalaupun ia kembali ke bawah, tak akan secepat itu. Apalagi lift yang tadi membawa kedua orang tua Philip sangat lancar, dan tak berhenti-henti sampai ke bawah.


"Pa, apa mama nggak salah liat?" tanya ibu Philip pada sang suami.


"Papa juga ngeliat hal yang sama ma. Padahal tadi di atas kita sudah bertemu anak itu."


"Pak jalan pak."


Ayah Philip memerintahkan pada supir untuk segera berjalan, kebetulan mesin mobil kini sudah dihidupkan. Tak lama mobil tersebut mulai merayap, meninggalkan pelataran parkir apartemen.


"Braaak."


Mendadak supir menginjak rem, ketika mobil baru beberapa saat keluar dari gerbang. Hal tersebut tentu saja membuat kedua orang tua Philip terkejut, dengan kepala ibu Philip membentur kursi dan sang ayah terkena dashboard.


Mereka melihat ke depan, ke arah penyebab mengapa mobil tersebut di rem mendadak. Dan untuk kesekian kalinya mereka terkejut. Ternyata ada Kala di sana tengah berdiri dengan tatapan yang dingin. Mendadak kedua orang tua Philip menjadi emosi.


"Dia mau mencelakakan kita?" ujar mereka serentak.


Keduanya membuka pintu mobil dan berencana keluar untuk memaki anak itu. Namun anak itu tidak ada. Kedua orang tua Philip kembali masuk dan Kala kembali terlihat dari kaca dalam.

__ADS_1


"Degh."


Bulu kuduk kedua orang tua Philip merinding.


"Pak, bapak melihat remaja berdiri di depan kita kan?" tanya ibu Philip pada supirnya.


"Hah, nggak bu. Itu ada kucing hitam tadi lewat, makanya saya ngerem mendadak."


Sang supir kembali menghidupkan mesin mobil. Ayah Philip menoleh pada sang istri yang duduk di tengah. Mereka saling bertatapan satu sama lain dengan tubuh yang sama-sama gemetaran.


Ketika supir menginjak pedal gas, keduanya sama-sama melihat ke arah depan dan saat itu Kala sudah benar-benar tidak ada.


***


Malam itu di kantor ayah Faraz. Pria yang kebetulan lembur tersebut beranjak. Ia bermaksud mengambil kopi pesanannya, dari seorang ojek online yang telah menunggu di bawah.


Ia berjalan dan masuk ke sebuah lift, lalu memencet tombol ke lobi. Lift berjalan, namun kemudian berhenti di lantai ke 15. Pintu lift terbuka, ayah Faraz menunggu orang yang memencet itu masuk. Namun tak ada satu pun yang melangkah.


Ia memencet kembali pintu lift itu agar tertutup. Namun kemudian ada yang memencetnya lagi dari luar, hingga pintu lift kembali terbuka. Ayah Faraz kembali menunggu, namun tak ada satu pun yang masuk.


Ayah Faraz yang kesal melihat ke luar, tak ada siapapun disana. Bahkan kantor di lantai tersebut telah di matikan lampunya. Hanya ada satu atau dua yang hidup dan memberikan penerangan yang remang.


Ayah Faraz kembali memencet pintu lift, dan saat pintu itu hendak tertutup tiba-tiba ada lagi yang memencet. Namun kali ini dibarengi suara langkah kaki. Sehingga ayah Faraz yakin bahwa kali ini benar ada yang ingin naik. Tadi mungkin orang iseng, atau lift ini sistemnya memang sedang eror.


"Tap, tap, tap."


Langkah itu kian mendekat bahkan kini tepat di muka pintu lift, namun tak ada wujudnya sama sekali.


Ayah Faraz yang terkejut sekaligus tercengang itu pun terpaku. Ia bingung apakah telinganya salah pendengaran.


"Tap, tap, tap."


Langkah itu terdengar masuk ke dalam lift, seketika bulu kuduk ayah Faraz merinding. Segera ia menahan laju lift dan hendak keluar, namun...


"Blaaaas."

__ADS_1


Ia melihat bayangan melintas di depan lift tersebut. Ayah Faraz kini serba salah, harus keluar atau tetap berada di dalam. Dua-duanya menyeramkan. Tak lama pintu lift benar-benar tertutup kemudian melaju ke arah bawah, dengan ayah Faraz masih di dalam tentunya.


"Tap, tap, tap." langkah itu seperti mendekat ke arahnya.


__ADS_2