
"Berapa kali papa harus ngomong sama kamu, Egan?"
Enrico yang sudah kembali dari rumah sakit kini melanjutkan kemarahannya terhadap sang putera.
"Papa udah bilang jangan di ulangi, kenapa masih juga?"
Egan diam, matanya terjatuh pada meja makan. Sebab ia saat ini tengah duduk pada salah satu kursi yang ada disana. Sejak tadi ia belum ada sepatah pembelaan pun yang keluar dari bibirnya.
Enrico benar-benar marah, bahkan Egan belum pernah mendengar nada bicara sang ayah yang setinggi itu.
"Kalau misalkan terjadi hal yang fatal terhadap Kala, kamu bisa di pidana dan di penjara Egan. Sebab kamu terlibat secara langsung dengan kegiatan tersebut. Mikir nggak kamu ke situ?. Kamu ini bukan anak SD lagi loh, udah SMA. Harusnya kamu bisa mikir panjang."
"Egan cuma mau bantuin Kala, Egan nggak tega liat Kala kayak gitu terus."
"Dia itu sakit, bisa dijelaskan secara medis. Kenapa masih aja kamu cari pertolongan dengan cara yang mistis?. Ini tahun berapa, Egan?. Jaman udah maju, masih aja kamu percaya hal-hal seperti itu. Kalau misalkan tadi Kala atau kamu dan yang lainnya kenapa-kenapa gimana?. Papa lagi yang susah."
Egan kembali mengunci mulutnya dan tak menjawab. Enrico sendiri sudah terlanjur sakit kepala. Tekanan darahnya seakan meninggi secara drastis.
"Praaang."
Pria itu menjatuhkan gelas yang ada di atas meja makan, hingga menjadi pecah berkeping-keping.
Egan kaget mendapati perlakuan ayahnya itu. Seumur-umur Enrico tak pernah berbuat hal yang demikian. Bisa dipastikan jika saat ini kemarahan Enrico benar-benar sudah berada di puncak.
"Pokoknya mulai hari ini, kamu akan papa awasi lebih ketat lagi. Kalau masih juga, papa akan kirim kamu sekolah di luar negri."
Egan terkejut mendengar semua itu dan menatap Enrico. Sedang Enrico kini berlalu menuju ke lantai atas.
***
Di rumah sakit.
"Kamu minum ini dulu."
Philip mendekat ke arah Kala sambil membawakan obat yang harusnya diminum oleh anak itu.
Kala diam, dan pandangan matanya tampak kosong. Ia menatap ke ujung ranjang, tempat dimana dirinya kini berbaring.
"Kala?"
__ADS_1
Philip mulai mencurigai adanya sesuatu, sebab Kala tak jua berkedip sejak tadi.
"Kala, are you ok?" tanya Philip sekali lagi.
Kala menarik kedua sudut bibirnya lalu tersenyum dengan aneh.
"Kal?"
Air mata remaja itu mengalir, sebab ia tak berkedip sama sekali. Namun senyuman aneh itu masih ia pasang dan tatapan matanya tetap saja kosong.
Philip yang khawatir segera menutup mata anak itu dengan tangannya. Kemudian ia memanggil dokter lain yang juga menangani Kala, agar bisa memeriksa dan berdiskusi dengannya. Ia ingin tau pendapat dari dokter tersebut dan membandingkan dengan kesimpulan yang ada dalam benaknya kini.
Dokter itu datang, dan memeriksa kondisi Kala. Usai Philip menutup matanya tadi, Kala secara serta-merta langsung tertidur dengan nyenyak. Bahkan seperti sudah tidur dari waktu sebelumnya.
Philip menanyakan perihal fisik dan tubuh Kala. Dokter yang memeriksa tersebut mengatakan jika tidak ada hal serius dengan fisik Kala. Philip kini kembali ke ruangannya dan mencatat semua perilaku aneh sang anak, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu.
Philip mencoba mengingat-ingat ada hal aneh apa lagi yang pernah terjadi jauh sebelum ini. Dan memang beberapa kali Philip pernah melihat Kala bertingkah tidak wajar.
Seperti menyalakan keran air di wastafel, saat pertama kali anaknya itu tinggal bersamanya. Ia menyalakan keran tersebut namun tak menggunakannya. Hanya memandangi airnya yang mengalir dengan tatapan yang sangat datar.
Philip pikir saat itu Kala hanya sedang terpikir akan rumah, sehingga ia bengong sendiri di muka wastafel tersebut.
Kala juga sering diam ketika mereka tengah makan, bahkan ia pernah melemparkan sendok ke piring Philip dengan senyum menyeringai. Kemudian jatuh pingsan di meja makan.
***
Malam hari di kediaman Enrico, dokter itu tampak terbangun mendadak. Ia ingat jika Egan belum makan. Egan adalah tipikal remaja yang jika tengah dimarahi oleh sang ayah. Maka ia memilih diam dan tak pergi makan sama sekali.
Ia melakukan itu semua sebagai bentuk protes akibat di marahi. Sedari kecil ia selalu bertingkah seperti itu. Sebab pada dasarnya Egan memang cukup dimanja oleh Enrico.
Mengingat Egan adalah putera dari sahabat baiknya yang sudah meninggal. Jadi apapun yang Egan minta, selalu berusaha Enrico penuhi.
Enrico kini bergerak keluar kamar. Ia ingin mengajak anaknya itu untuk makan, meski malam telah larut. Ia tak akan membiarkan Egan tidur dengan perut yang belum terisi.
"Tok, tok, tok."
Enrico mengetuk kamar Egan.
"Egan, makan dulu nak. Kamu tadi belum makan. Papa akan panaskan makanannya."
__ADS_1
Tak ada jawaban.
Enrico mencoba membuka pintu kamar anaknya itu, namun ternyata terkunci dari dalam.
"Egan."
"Tok, tok, tok."
Lalu sekelebat bayangan hadir di belakang Enrico. Pria itu kaget dan menoleh. Tak ada siapapun disana. Ia kembali hendak mengetuk pintu kamar sang anak, namun kini seperti ada suara orang berlari.
Enrico yang curiga lalu memeriksa area sekitar. Ia khawatir lupa mengunci pintu dan membuat seseorang bisa masuk dengan mudah. Meskipun dari segi keamanan kompleks, rasanya tidak mungkin ada orang yang berani menyusup. Mengingat sepanjang ia tinggal di area tersebut, belum pernah ada satu kasus pencurian pun yang terjadi.
Area perumahan itu memiliki banyak personel keamanan, yang bahkan berpatroli setiap dua atau tiga jam sekali. Dan juga hampir semua titik memiliki kamera pengawas, serta pagar rumah Enrico sendiri yang tinggi dan butuh effort untuk menaikinya.
"Blash."
Bayangan itu kembali terlihat. Dilengkapi suara derap langkah serta tawa kecil yang sejatinya terdengar namun tidak begitu jelas.
Enrico mengikuti langkah tersebut, bahkan hingga ke ruangan lain. Namun ternyata tak ada siapapun disana. Enrico kembali menuju ke kamar Egan. Saat itu ia melihat Egan keluar dari kamar dengan tatapan kosong, lalu berlari ke arah pembatas lantai dua.
"Egan."
Enrico berteriak, sebab Egan tiba-tiba berlari dan...
"Buuuk."
Remaja itu menjatuhkan diri dari lantai dua.
"Egaaan."
Enrico histeris dan langsung berlarian meniti tangga.
"Paaaa."
Egan yang jatuh ke atas sofa itu berteriak seperti kesakitan.
"Pa kaki Egan patah, pa."
Dunia seakan runtuh, hati dan jiwa Enrico seperti tercabik. Ia berlari ke arah Egan dan memang benar, kaki kiri anaknya itu patah. Dengan penuh kecemasan serta kepanikan, Enrico pun segera membawa Egan ke rumah sakit.
__ADS_1