Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Terpaksa


__ADS_3

"Uhuk."


"Uhuk."


Kala batuk dan memuntahkan cairan berwarna kehitaman. Sementara kaca bergetar hebat, dan semua orang menunduk, sebab Chika berpesan apapun yang terjadi mereka tak boleh melihat ke arah Kala.


Angin saat ini masih bertiup kencang dan seakan hendak menerbangkan apapun yang ada di tempat itu.


"Uhuk."


Kala kembali batuk, seperti ada energi yang menyedot dari dalam kaca. Remaja tampan itu berteriak, karena merasa begitu sakit di area kepala dan juga dadanya. Heru yang penasaran dengan kondisi Kala pun mengangkat kepala dan melihat ke arah tengah.


Seketika angin berhenti berhembus, seluruh lilin padam dan suasana mendadak hening. Chika, Egan, dan yang lainnya turut mengangkat kepala lalu melihat ke arah Kala.


"Buuuk."


Kala jatuh pingsan. Semua bergerak mendekat, ada yang menghidupkan lampu dari handphone untuk di jadikan sumber penerangan.


"Duar."


Kaca yang ada di hadapan Kala mendadak pecah, semua orang pun terkejut. Tubuh Chika gemetar seketika, sebab harusnya ritual ini tak seharusnya berakhir demikian.


"Kal, bangun Kal."


Egan mencoba membangunkan Kala, dibantu yang lainnya.


"Kala."


"Kal."


"Braaak."


Terdengar suara amukan dari arah belakang, mereka semua kembali kaget dan terdiam. Kini mereka baru menyadari satu hal. Ya, Heru tidak bersama mereka yang kini tengah berada di dekat Kala.


Sontak mereka semua pun menoleh, dan posisi Heru sudah berdiri sambil menunduk dalam. Namun ia tertawa menyeringai.


"Her?"


Andi memanggil Heru dengan nada yang mulai cemas. Remaja itu tak menjawab dan terus saja menunduk sambil tertawa.


"Heru."


Niko mendekat, namun kemudian Heru secara serta merta mencekik lehernya.


"Her, ini gue Her."


Chika mendekat bersama Andi dan coba menghentikan Heru. Sedang Ben dan Egan masih menjaga Kala.


"Her."


Andi berusaha menjauhkan tangan Heru dari leher Niko dan berusaha menyadarkan remaja itu. Namun Heru tetap tertawa-tawa, bahkan kini hendak berlari ke suatu arah. Beruntung Andi, Niko, dan Chika menahan laju tubuhnya.


"Aaarrrggghhh."


"Aaarrrggghhh."


Heru memberontak.

__ADS_1


"Brengsek kalian semua." teriaknya.


"Ikat, Ndi."


Chika memerintahkan Andi untuk mengikat Heru. Maka diambilnya tali yang tadi dibuat lingkaran. Kemudian ia dan Niko mengikat kedua tangan Heru, lalu mengikat pula tubuh teman mereka itu ke sebuah pohon yang tak jauh dari sana.


"Egan, Kala gimana?" tanya Chika.


"Dia belum sadar, Chik. Gimana ini?" tanya Egan cemas.


"Hahahaha."


Heru yang masih dirasuki tersebut tertawa.


"Jiwanya sudah tertahan, hahaha, hahaha."


Chika mendekat ke arah Kala dan mengecek kondisi remaja itu. Tubuh Kala dingin, namun ia masih bernafas.


"Kal, Kala."


Chika mencoba membangunkan Kala, namun remaja itu tak bereaksi.


"Kayaknya kita harus bawa Kala ke rumah sakit deh, Chik. Gue takut terjadi apa-apa sama dia." ujar Egan kemudian.


"Bener, takut gue juga takut." Ben menimpali.


Chika masih di dera rasa ragu. Pasalnya ia harus mengatakan apa, jika dokter bertanya mengapa Kala sampai demikian.


"Chik, ini juga Heru harus kita bawa ke rumah sakit." Niko berujar.


Sementara Heru masih memberontak, kadang marah dan kadang tertawa. Karena terdesak akhirnya Chika menuruti keinginan teman-temannya itu.


***


Kala di larikan ke rumah sakit bersama dengan Heru. Di instalasi gawat darurat Heru berteriak-teriak, mengamuk pada perawat dan dokter yang menanganinya. Beberapa dari mereka bahkan mendapatkan cakaran yang keras dari remaja itu.


Sedang Kala kini di tangani oleh seorang dokter jaga. Tak lama Philip dan Enrico pun datang. Mereka tampak begitu khawatir dan juga marah.


Terutama Enrico, ia sangat menyayangkan sikap Egan yang lagi-lagi berbohong padanya soal apa yang tengah ia kerjakan.


"Ini kalian tuh kenapa?. Ulah apa lagi yang kalian buat?"


Enrico memarahi Egan dan juga teman-teman anaknya yang lain.


"Ini salah saya om."


Chika berujar pada Enrico dan juga Philip.


"Saya yang punya inisiatif untuk mengajak mereka ritual. Saya cuma mau menolong Kala, supaya dia nggak diganggu dan makhluk gaib lagi." lanjut gadis itu kemudian.


Enrico dan Philip tampak sama-sama menghela nafas. Mereka begitu kesal dan marah. Namun yang mereka hadapi ini adalah anak remaja yang memang tidak mengerti apa-apa.


Seumur mereka memang rata-rata suka bertindak sembarangan, tanpa berpikir terlebih dahulu resiko apa yang akan mereka hadapi nantinya.


"Om antar kamu pulang, Egan juga pulang. Yang lain diantar sama supirnya om Philip."


Enrico berujar dan anak-anak remaja itu pun beranjak. Mereka menyempatkan diri pamit pada Philip serta meminta maaf sebelum itu.

__ADS_1


Enrico sengaja membawa mereka pulang, untuk menghindari emosi lebih lanjut lagi. Dan lagi ini sudah sangat larut malam, takut orang tua dari anak-anak itu mencari mereka.


"Phil, nanti gue balik lagi. Sekalian gue mau ke rumah orang tuanya Heru." ucap Enrico.


Philip mengangguk, sesaat kemudian Enrico pun berlalu bersama teman-teman Kala.


***


"Gimana dok?"


Philip bertanya pada dokter yang menangani Kala.


"Kondisinya sudah stabil, tapi saat ini di belum sadarkan diri. Mungkin kita harus menunggu sedikit lagi." jawab dokter tersebut.


"Tapi secara keseluruhan kondisinya baik-baik aja kan?" tanya Philip lagi.


"Baik, nggak ada masalah dok. Dokter Philip bisa percaya sama saya."


Philip menghela nafas panjang.


"Terima kasih banyak, dok." ucapnya kemudian.


"Sama-sama."


Dokter yang menangani Kala itu pun pamit. Philip menjenguk anaknya yang masih berada di IGD dan mendekat. Tubuh Kala sudah mulai hangat dan tak sedingin tadi.


Philip kemudian keluar, untuk membiarkan Kala beristirahat. Kini ia menuju ke tempat dimana Heru di rawat.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Philip pada dokter yang menangani.


"Kami terpaksa memberi obat penenang, dok. Karena pasien terus memberontak dan mengamuk. Semoga setelah ini pasien bisa menjadi lebih tenang." ucap dokter tersebut.


"Apa ada hal lain yang dialami pasien?" tanya Philip lagi.


"Sejauh ini hanya luka lecet, karena sepertinya pasien memberontak dan tubuhnya tekena gesekan dengan sesuatu sehingga mengalami hal tersebut. Sisanya tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Apa pasien mengalami histeria yang cukup parah?"


"Lumayan, tapi semoga saja setelah ini pasien tidak bersikap agresif lagi."


"Baik terima kasih sekali lagi, dok." ucap Philip.


"Sama-sama dokter Philip."


***


Sementara di halaman parkir apartemen, usai mengantar Chika. Enrico benar-benar menunjukkan kemarahannya kepada Egan.


"Ini kunci dan kamu masuk. Jangan keluar rumah sebelum papa izinkan kamu."


"Tapi pa, Egan besok sekolah."


"Masuk!"


Enrico membentak anaknya itu. Tak lama Egan pun keluar dari dalam mobil dan menghilang di balik pintu lobi apartemen.


Enrico menghela nafas, ia sudah menghindar untuk tidak semarah ini pada Egan, selama hidupnya. Namun apa yang diperbuat Egan kali ini benar-benar sudah membuat drinya marah.

__ADS_1


__ADS_2