Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Rasa Penasaran


__ADS_3

"Kala."


Egan yang baru pulang dari sekolah, menghampiri Kala. Saat itu Kala tengah mengikuti pelajaran online dan hampir selesai.


Sekolahnya sendiri memfasilitasi bagi siapapun siswa yang berhalangan hadir, untuk tetap bisa mengakses pelajaran dari manapun.


"Iya." jawab Kala kemudian.


"Lo lagi belajar online ya?" tanya Egan.


"Ini udah mau selesai koq."


"Gue mau tanya, katanya bik Marni lo ada cerita sama papa. Bik Marni nggak sengaja denger, soal lo yang ngeliat sesuatu di belakang salah satu temen gue semalem. Emang bener?" Egan bertanya dengan penuh antusias.


"Mmm, apa lo percaya sama hal begituan?" tanya Kala penuh keraguan.


"Percaya koq." jawab Egan tegas.


"Gue bahkan ikut komunitas ghost photography, ya walaupun papa nggak mendukung sih. Dia lebih suka kalau gue mempelajari ilmu pasti, katanya itu lebih bermanfaat." lanjutnya kemudian.


"Gue ngeliat sosok tinggi gede dan matanya merah, di belakang teman lo yang pake kacamata."


"Akbar?" tanya Egan dengan ekspresi wajah yang terperangah.


"Satu doang kan yang pake kacamata?" tanya Kala.


"Iya, itu Akbar namanya." jawab Egan kemudian.


"Serius ada sosok di belakangnya?" Egan masih begitu penasaran.


"Itu yang gue liat sih." ujar Kala lagi.


Egan mencoba mengingat-ingat kembali.


"Pantes, waktu itu si Chika temen gue. Yang katanya bisa ngeliat begituan, dia bilang Akbar itu ada yang jagain. Bawaan pemberian kakek buyutnya atau apanya gitu. Tapi si Chika ini nggak cerita bentuknya gimana. kita taunya si Akbar itu ada yang jagain doang."


"Si Chika-Chika itu bisa ngeliat?" tanya Kala.


"Iya katanya sih, dia anak sekolah gue. Adek kelas, dia kelas satu."


"Lo sendiri kelas dua?" tanya Kala lagi.


"Iya, gue kelas dua. Tapi sebagian temen gue juga ada yang kelas satu. Lo kelas berapa?"


"Kelas satu." jawab Kala.


"Selain dari sosok itu ada lagi nggak yang lo liat?"


"Nggak ada." jawab Kala.


"Udah berapa lama lo bisa ngeliat hal kayak gitu?"


"Dari kecil."


"Lo gimana, ngerasa terganggu atau?"


"Banget, makanya gue pengen tau ada nggak orang yang sama kayak gue. Yang kata lo Chika-Chika itu tadi, dia sendiri gimana?. Takut kah, terganggu kah?. Atau santai aja?"

__ADS_1


"Mmm, sejauh yang gue kenal sih ya. Dia kayaknya santai aja deh. Kayak misalkan lagi jalan nih ya, kemana gitu. Barengan sama temen-temen fotografi, kan dia gabung juga tuh."


Kala memperhatikan Egan.


"Sering nih, dia tuh kayak tiba-tiba ngingetin kita semua. Ntar disitu jangan pipis sembarangan ya, jangan ngomong kotor, soalnya penunggunya galak. Tuh lagi nungguin kita depan pintu gerbang. Kayak gitu-gitu lah dia ngomong. Anak-anak ya akhirnya nurut aja, karena ya takut juga kalau misalkan terjadi apa-apa."


"Dia nggak pernah ketakutan sampe histeris gitu?" tanya Kala.


"Takut sih, ada saatnya dia takut. Tapi kalau sampe histeris, nggak. Dia nyantai banget anaknya, kayak menerima aja kondisi dia yang nggak sama dengan orang lain."


Kala terdiam, penerimaan semacam itulah yang ingin ia rasakan saat ini. Namun begitu sulit baginya.


"Gue pengen bisa kayak gitu, tapi kayaknya nggak mungkin deh."


"Kenapa emangnya?" tanya Egan.


"Gue selalu ketakutan parah kalau ngeliat begituan, soalnya serem banget. Semalem aja gue nggak berani ngeliat ke arah temen lo lama-lama."


"Coba deh, ntar sekali-kali gue ajak lo ketemu Chika. Siapa tau kalian bisa sharing, atau kolab bareng di YouTube nya dia."


Kala tertawa.


"Emang dia punya YouTube?" tanya nya kemudian.


"Ada namanya jurnal Chika. Ntar deh kita nonton bareng."


"Ok deh." jawab Kala..


"Coba lo sekolah dan tinggal disini selamanya." ujar Egan lagi.


***


"Ric."


Philip tiba-tiba muncul di ruangan Enrico. Setelah Enrico berhenti mengganggunya untuk beberapa saat. Enrico hanya ingin memberi waktu untuk sahabatnya itu, agar bisa berfikir jernih. Kini ia muncul dengan sendirinya, tanpa paksaan.


"Phil?"


"Ambil sampel darah gue." ujar Philip kemudian. Seketika Enrico pun tersenyum penuh haru.


Darah Philip diambil, ia akan segera menjalani tes DNA. Kemudian akan di cocokkan DNA nya tersebut dengan DNA milik Kala.


Sejatinya kemiripan wajah mereka berdua sudah menjelaskan, jika memang Kala adalah anak biologisnya. Namun hasil tes DNA bisa dijadikan bukti yang kuat, apabila terjadi sesuatu kelak di kemudian hari.


"Apa sekarang lo mau ketemu dia?"


Enrico bertanya ketika sampel darah milik Philip telah selesai diambil.


"Nanti aja, tunggu hasil ini keluar. Biar semuanya clear." jawab Philip.


"Ok."


"Apa dia baik-baik aja?" Philip balik bertanya pada Enrico.


"Ya, dia juga akrab sama Egan belakangan ini. Egan jadi punya saudara dan temen main game online kalau malam." jawab Enrico.


Philip menarik nafas, dalam hatinya ia tenang mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Kabari gue secepatnya." ujar pria itu kemudian.


Enrico mengangguk, tak lama Philip berlalu dan meninggalkan ruangan tersebut. Ia kini melangkah menuju ke ruangan prakteknya di bagian psikiatri. Ia melangkah tenang karena merasa telah mengambil tindakan yang tepat.


"Hihihi, parah sih tuh orang."


Terdengar suara seseorang yang Philip kenal. Ya, itu suara Egan. Segera Philip menoleh, karena Egan memang sering menyambangi rumah sakit ini.


Namun kemudian Philip tertegun, lantaran menemukan Egan yang tak sendirian. Egan bersama dengan Kala, entah mau kemana mereka. Dari arah yang diambil, tampaknya mereka akan menuju ke ruangan tempat dimana Enrico berada.


Philip tertegun, melihat fotokopian dirinya tersebut. Kala memang sama persis dengan dirinya saat masih remaja. Hanya saja ia memiliki mata dan barisan gigi seperti Gayatri.


Hati Philip remuk redam, Gayatri tak pernah memberitahu dirinya, jika ia hamil akibat malam itu. Kala tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tuanya.


Egan masih cekikikan, Kala juga masih tertawa. Tadi mereka berpapasan dengan seseorang yang menurut mereka sangat lucu, dan mereka masih saja tertawa.


"Eh Kal, kalau di rumah sakit gini banyak nggak sih setannya?" tanya Egan kemudian.


Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan, karena rahangnya sangat lelah tertawa.


"Ada, tuh di kaki lo gelendotan."


"Buju buset, iiiiih."


Egan menyentakan kakinya, karena ketakutan. Kala kini tertawa-tawa. Seumur hidup ia belum pernah bercanda seperti ini dengan temannya.


"Gue bercanda koq." ujar Kala kemudian.


"Lu ngagetin aja."


Egan berujar dengan wajah yang masih diliputi ketakutan, namun ia penuh tawa.


"Kita mau ngapain sih disini?"


Kali iniĀ  Kala bertanya. Karena tadi Egan hanya minta di temani ke rumah sakit, tanpa mengatakan apa alasannya.


"Mau ngambil kamera gue yang tinggal disini." jawab Egan.


"Koq bisa tinggal?"


"Ya, gue sama papa itu kan kadang suka jalan bareng. Gue waktu itu abis dari hunting foto, disuruh kesini sama papa. Karena kita mau jalan, sehabis jam kerja dia. Eh ketinggalan, kameranya. Minta papa bawa pulang, lupa mulu anjir."


Kala tertawa.


"Namanya juga bapak-bapak." ujarnya kemudian.


Egan ikut tertawa-tawa bersama Kala. Namun tiba-tiba Kala terdiam, ketika menatap ke suatu arah. Egan menyadari perubahan di wajah anak itu. Yang tadinya biasa, kini berubah penuh ketakutan. Bahkan ia mulai dibanjiri keringat.


"Kala."


Egan memanggil nama Kala, hingga Kala pun tersadar dan membuang pandangan ke arah lain.


"Lo ngeliat sesuatu?" tanya Egan kemudian. Kala pun mengangguk.


"Di depan kamar 406." ujarnya tanpa melihat lagi ke arah yang di maksud.


Egan sempat melihat kesana sejenak, tak lama ia pun mendorong Kala untuk terus melangkah tanpa memperhatikan sekitar.

__ADS_1


__ADS_2