
"Ini dek."
Seorang driver ojek online memberikan sebuah pesanan kepada Heru.
"Makasih ya pak." jawab Heru seraya meraih pesanan tersebut.
"Sama-sama."
Driver ojol itu kemudian pergi, tinggallah kini Heru bersama pesanannya. Ia dengan gembira membawa semua itu ke dalam, ke tempat dimana teman-temannya tengah berkumpul.
"Nih gaes ayam utuhnya." ujar Heru dengan penuh percaya diri. Ia meletakkan semua itu ke atas meja.
Chika kemudian membukanya dan kaget.
"Astaga Her, ini sih buat makan manusia bukan buat sesajen demit." ujarnya.
Kala dan yang lainnya melongo melihat ke arah apa yang dibeli oleh Heru. Seketika mereka semua pun tertawa terbahak-bahak.
"Loh yang salah apa coba?. Chika kan bilang mesti ayam panggang utuh. Ya ini utuh, masalahnya dimana?" tanya Heru heran.
"Nggak berbumbu Taliwang juga, Bambang. Kalau kayak gini modelnya, bukan demit yang makan tapi kita."
Ben berujar seraya hendak memukul kepala Heru, ia benar-benar gemas dengan temannya yang satu itu.
"Ya kali aja demitnya lagi pengen mukbang ayam Taliwang. Bisa aja kan, di dunia makhluk gaib ada influencer."
"Influencer." ujar Andi sambil menahan tawa namun gagal.
Sementara Chika menggeleng-gelengkan kepala, dan teman-teman Kala yang lain serta Kala nya sendiri kian terpingkal-pingkal.
"Kalo influencer kan pas makan ngomong ya gini, hmm enak banget jujurly mau meninggal gue. Terus kalau setan gimana?" tanya Niko masih dengan tawanya yang super geli.
"Hmm, enak banget jujurly bikin lupa kalau udah meninggoy." timpan Ben.
"Hahaha."
"Hahaha."
Mereka semua kembali tertawa geli.
***
Malam itu Kala beralasan menginap di rumah Andi. Sebab orang tua Andi sedang pergi keluar kota. Lagi-lagi alasan yang sama dengan sebelumnya. Namun Philip percaya dan mengizinkan anaknya itu untuk pergi.
Sementara Egan sendiri pergi diam-diam. Karena kebetulan Enrico tengah jadwal jaga malam di rumah sakit.
__ADS_1
Sedang Chika, orang tuanya merupakan diplomat yang memang tinggal di salah satu negara di Eropa. Ia tinggal bersama kakak perempuan yang jarang pulang. Karena kakaknya seorang reporter yang sering pergi liputan kemana-mana. Sehingga untuk ritual malam ini Chika pun bebas pergi kapan saja, tanpa ada yang menghalangi.
"Semuanya udah di siapin kan?" Chika bertanya pada Kala, Egan, dan yang lainnya.
"Udah." jawab Egan mewakili yang lain.
Segala peralatan telah siap, sama hal nya dengan sesajen yang diminta oleh Chika sebelumnya.
"Ok, sekarang kita bikin tali penghalang arwah dulu." ujarnya lagi.
Kala, Egan dan yang lainnya tak mengerti. Namun mereka menuruti saja apa yang diperintahkan oleh Chika.
Ketika Chika meminta mereka memanjangkan tali dan mengaitkan pada tempat-tempat yang telah ia tentukan, maka mereka pun melakukannya.
Selang beberapa saat tali tersebut sudah terbentuk. Seperti pagar tali yang sering terlihat dalam film-film horor Thailand.
"Kayak film Make Me Shudder." ujar Niko pada Ben.
"Ada scene dimana orang-orang menghindari setan dengan berlindung di dalam lingkaran tali ini." lanjutnya lagi.
"Kayaknya Chika terinspirasi dari situ deh." jawab Ben.
"Ini cermin dimana, Chik?" tanya Kala pada Chika.
Sebab ada sebuah cermin ukuran sedang yang menjadi properti untuk acara ritual tersebut.
Maka Kala pun meletakan benda itu disana. Kebetulan kaca tersebut memiliki penyangga di belakang, sehingga bisa berdiri tanpa sandaran.
"Lilin ini dimana?" Kali ini Andi yang bertanya.
"Tarok di titik-titik merah yang udah gue tandai." jawab Chika.
Sedari tadi perempuan itu menandai beberapa titik dengan cat merah, entah untuk alasan apa. Yang jelas lilin-lilin yang dihidupkan harus diletakkan di tempat itu. Maka Andi pun melakukan apa yang telah diperintahkan.
"Gan, bunga tujuh rupanya sebagian di sebar." ujar Chika lagi.
"Kemana?" tanya Egan.
"Ke sekitar, pokoknya setiap sudut harus kena bunga." jawab Chika.
"Oke."
Egan lalu menyebar bunga itu. Sementara Kala kini membereskan sisa barang yang masih ada. Seperti dupa, tempat pembakaran dari dupa itu sendiri dan lain sebagainya.
Malam mulai beranjak, Kala diminta berdiri di tengah-tengah lingkaran tali yang telah dibuat. tepatnya di depan kaca dan juga sesajen. Sementara yang lain berada di lingkaran tali kedua, ketiga, dan keempat. Bentuk lingkaran tali itu seperti lingkaran kecil yang kemudian ada lingkaran-lingkaran lain lagi di luarnya.
__ADS_1
"Kenapa gue disini sendirian, Chik?" tanya Kala pada Chika.
"Makhluk yang nempel di kaki lo itu mau gue masukin ke dalam cermin. Dan untuk mencegah dia nggak balik lagi, cermin itu nantinya harus kita pecahkan." ujar Chika.
"Sayang ege cermin nya, aesthetic." Heru nyeletuk kemudian berujung di toyor kepalanya oleh Niko.
"Astatak, astetik, astatak, astetik. Setannya gelayutin elo, baru tau rasa ntar lo." ujar Niko sewot.
"Udah tenang dulu." Andi mengingatkan.
Heru dan Ben pun saling sikut, kemudian diam.
"Lo harus sendirian, biar makhluk itu nggak menempel ke orang lain." lanjut Chika lagi.
Mereka semua pun akhirnya mengerti.
"Kalian fokus duduk di tempat masing-masing. Jangan pergi kemana-mana sebelum ritualnya selesai. Jangan noleh ke luar pagar tali, sekalipun kalian ngerasa disana nanti kayak ngeliat sesuatu."
"Iya Chik." jawab mereka semua serentak.
"Kala, lo fokus ngeliat ke kaca. Jangan ngeliat kemana-mana."
"Oke."
"Yang lain, jangan kalian ngeliat ke kaca. Karena itu bahaya." ujar Chika lagi.
"Oke, Chik." teman-teman Kala kembali menjawab serentak.
Tak lama kemudian, Chika segera memimpin ritual. Ia tampak membaca beberapa mantra yang Kala, Egan, dan yang lainnya sendiri tak mengerti. Menggunakan bahasa apapun, tak jelas. Seperti bahasa Thai, tapi juga ada seperti sebuah bahasa kuno yang asing di telinga.
Kala, Egan dan yang lainnya hanya mengikuti saja ritual tersebut, dan berharap masalah yang menimpa Kala akan segera berakhir.
"Wuuush."
Angin mendadak bertiup kencang, ketika Chika telah cukup lama melafalkan mantra. Perasaan takut dan merinding pun kini menyelimuti semuanya. Seluruh bulu kuduk orang yang ada di tempat itu merinding tanpa terkecuali.
"Nik, gue takut. Lo ngeliat nggak sih di sekitar kita kayak ada penampakan yang muncul terus ilang gitu?"
Bisik Heru di telinga Niko.
"Udah jangan ngeliat kemana-mana, nunduk aja udah paling bener." ujar Niko.
"Tapi takut." rengek Heru lagi.
"Iye udeh, gue disini. Buruan nunduk." ujar Ben.
__ADS_1
Heru pun kembali menunduk.
Chika terus melafalkan mantra, sementara Kala masih menatap ke arah kaca. Secara mengejutkan tiba-tiba angin bertambah kencang. Kala merasakan melihat sesajen di sekitarnya benar-benar berguncang seperti halnya apabila terjadi gempa bumi.