
Kala dan Egan terdiam, menghadapi tatapan yang tajam menghujam. Dari dua orang dokter yang tak lain adalah ayah mereka sendiri.
Beberapa saat yang lalu keduanya di telpon dan diminta untuk segera datang ke rumah sakit. Jika tidak, keduanya diancam akan mendapatkan hukuman yang berat.
"Berapa kali papa bilang, Egan. Hobi boleh, tapi jangan sampai membahayakan orang lain."
Enrico berujar duluan dengan tangan yang menyilang di dada. Sedang kini Philip menatap Kala dengan tak habis pikir.
"Ayah nggak apa-apa, kalau barang itu harus hilang. Sepuluh unit pun ayah masih bisa beli lagi untuk kamu. Tapi disini ayah minta tanggung jawab kamu sebagai si pemilik barang-barang ini."
Philip berujar pada Kala, sementara anak itu kini bungkam. Barang-barang yang ia dan Egan cari, telah berada di hadapan mereka berdua.
"Kamu nggak bisa seenaknya aja kayak gini ke ayah. Ayah tau ayah bukan ayah yang baik, sebab ayah nggak mengasuh kamu dari kecil. Tapi bukan berarti kamu abai sama pemberian ayah. Barang ini sudah jadi hak kamu dan harusnya kamu bertanggung jawab. Di luar sana banyak anak-anak yang mimpi dibelikan orang tuanya barang mahal, tapi nggak bisa."
"Kala tuh bener-bener lupa, yah. Baru juga inget tadi, itupun diingatkan sama Egan."
"Egan juga lupa om, baru ingat tadi."
"Terus ngapain kalian ke situ?" Enrico kembali mencecar anaknya dan juga anak dari temannya.
"Tempat itu sudah lama terbengkalai dan gelap. Penerangannya cuma dari lampu jalan. Kalau kalian di begal orang gimana?. Atau misalkan ada ular berbisa. Apa kamu nggak pernah berfikir kesitu, Egan?"
"Dan kamu bohong, Kala." Philip menimpali dengan memarahi sang anak.
"Kamu selalu nggak pernah jujur perihal dimana kamu kalau lagi pergi. Bener yang dibilang om Rico, kalau ada apa-apa sama kalian gimana?. Ayah mau cari kalian kemana, kalau tempat kalian pergi aja kami nggak tau."
"Emang papa sama om Philip bakalan mengizinkan kita berdua pergi, kalau kita jujur?"
Kali ini Egan yang gantian memojokkan mereka.
"Ya lagian ngapain kamu pergi ke rumah sakit terbengkalai. Mau uji nyali?. Atau apa sih?" Enrico makin kesal.
Egan diam, begitupula dengan Kala.
"Egan ngajak Kala untuk nakutin kalian berdua. Karena kalian nggak pernah percaya sama apa yang kami lihat dan rasakan selama beberapa waktu belakangan ini." Egan akhirnya berkata jujur.
"Kal?" Philip memanggil Kala, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Itu bener yah, kita berdua punya rencana nakutin ayah sama om Rico. Tapi tuh kita malah nyasar ke rumah sakit itu. Tadinya kita ngerasa udah disini, kita ngeliat ayah dan juga om Rico. Tapi tau-tau tempatnya berubah jadi tempat itu." ujar Kala.
Philip dan Enrico menghela nafas. Seakan keduanya tak percaya pada apa yang di ucapkan oleh Kala dan juga Egan.
"Beneran yah, Kala nggak bohong."
"Itu bener koq om, pa." Egan menimpali.
Kedua dokter itu kembali menghela nafas.
"Ya sudah, kalian istirahat dulu. Makan sana di kantin. Nanti habis itu pulang ke rumah, dan jangan kelayapan lagi." ujar Philip.
__ADS_1
"Iya yah."
"Iya om."
"Sekali lagi kalian kayak gini, papa kurung kalian di gudang." ancam Enrico.
"Iya pa."
"Iya om."
Kedua anak itu tak memiliki jawaban lain kecuali kaya "Iya". Sebab posisi mereka kini sudah sangat terdesak. Egan memberi kode pada Kala untuk beranjak, dan Kala pun menyetujui.
Lebih baik pergi ke tempat lain, daripada terus kena omel pikirnya. Egan melangkah terlebih dahulu, Kala menyusul. Namun tiba-tiba,
"Aarrggh."
Kala merasakan sakit yang teramat sangat di kakinya.
"Kenapa kamu?"
Philip dan Enrico bertanya di waktu yang nyaris bersamaan. Sementara Egan menghentikan langkahnya dan menghampiri Kala.
"Nggak apa-apa yah, om." Ia masih berusaha menutupi semuanya.
"Nggak usah bohong, kenapa kaki kamu?" Philip menatap anaknya itu dan Kala akhirnya tak bisa mengelak lagi.
Beberapa saat kemudian Kala sudah berada dibawah penanganan seorang dokter spesialis ortopedi. Ia diserahkan, karena bagian itu bukan wewenang Philip maupun Enrico untuk menangani.
***
"Sudah berapa kali, Egan. Sejak Kala ada disini, sudah berapa kali kamu mencelakakan dia. Dia itu baru disini, harusnya kamu bisa jaga dia dengan baik."
Egan menunduk dalam. Sejatinya semua yang terjadi pada Kala selama ia berada di kota ini, memang adalah hasil dari keteledoran dirinya.
"Pokoknya selama seminggu ke depan. Kamu papa larang untuk pergi kemanapun, kecuali sekolah."
Enrico berujar pada anaknya itu. Egan menatap sang ayah, sebab ia tak siap dengan hukuman tersebut.
"Tapi pa."
"Kamu pulang sekolah, langsung pulang ke rumah. Papa akan tugaskan bik Marni buat jagain kamu. Kalau kamu melanggar, bik Marni akan papa pecat."
"Loh, kenapa hukumannya malah nyasar ke orang lain?" tanya Egan heran.
"Kalau kamu bandel, kamu akan menyebabkan orang lain kehilangan sumber pekerjaan dan keuangannya. Kamu akan dihantui rasa bersalah seumur hidup kamu. Camkan itu...!"
Egan menghela nafas, kalau sudah begini ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
__ADS_1
Setelah dilakukan pemeriksaan, Kala dinyatakan tidak mengalami hal yang serius. Ia hanya sedikit terkilir dan harusnya itu tidak terlalu sakit terasa.
Namun Kala bilang jika ia sangat kesakitan di bagian kakinya tersebut. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya. Baik dari dokter yang menanganinya, Philip sendiri, maupun Enrico.
"Mungkin itu perasaan kamu aja." ujar Philip kepada Kala, ketika ia menghampiri anaknya itu di sebuah ruang rawat. Kakinya terlihat telah berbalut kain kasa berwarna coklat.
"Bisa jadi pikiran kamu yang melebih-lebihkan rasa sakit yang kamu rasakan. Padahal aslinya mungkin ringan, atau tidak sakit sama sekali." lanjut Philip.
"Like paychosomatic?" tanya Kala.
"Do you know that?" Philip balik bertanya.
Kala mengangguk.
"Ya, semacam itu." jawab Philip.
Kala menghela nafas, ia kini hanya berharap sakit yang ia rasakan bisa segera usai.
***
"Gue sih nggak begitu yakin, tapi itulah yang gue liat."
Chika berujar pada Egan di telpon. Sesaat setelah ia mengabari temannya itu, jika mungkin ia tak bisa ikut kegiatan komunitas selama seminggu ke depan. Sebab ia sedang dihukum olen Enrico, lantaran Kala yang kembali cidera oleh perbuatannya.
"Bentuknya gimana, Chik?" tanya Egan pada Chika.
"Pokoknya serem deh, tapi samar. Nggak jelas banget, nggak 3D gitu. Tapi dia nempel di kakinya Kala yang sakit itu." ujar Chika lagi.
Egan menghela nafas.
"Tapi koq, Kala nggak ngomong apa-apa ya ke gue?" Lagi-lagi Egan bertanya.
"Bisa jadi Kala nya nggak ngeliat."
"Emang orang yang bisa ngeliat hantu, bisa juga nggak ngeliat?" tanya Egan heran.
"Bisa dong, tergantung entitasnya mau memperlihatkan diri atau nggak."
Egan kembali menghela nafas.
"Ya udah deh, gue mau coba bicarakan dulu ya sama Kala." ujarnya lagi.
"Ya udah, ntar berkabar aja ya sama gue. Salam buat Kala, kalau sempat gue tengokin ke sana."
"Ok deh."
"Bye Egan."
"Bye Chik."
__ADS_1
Egan lalu menutup sambungan tersebut, kini ia menuju ke ruangan Kala.