
"Kala."
Ben membuka pintu kamar Kala. Namun ternyata ada Philip di sisi tempat tidur anak itu.
"Kala baru tidur om?" tanya Andi dengan suara pelan. Philip mengangguk.
"Iya, dia barusan minum obat." jawab Philip.
Mereka semua memperhatikan Kala.
"Koq, tangannya di borgol om?"
Ben menyadari jika tangan kiri Kala di borgol ke sebuah rantai dan rantai tersebut disangkutkan ke besi tempat tidur. Ketiga teman Kala itu menatap Philip dan meminta penjelasan.
"Tadi dia mau nyerang Faraz. Dia menyimpan pisau buah dan datang ke kamar Faraz dengan tatapan yang kosong."
Andi, Ben, dan Niko terkejut.
"Makanya kami ikat, karena takut kalau lagi nggak ada yang jagain. Tapi ini ada kuncinya, kalau dia sudah sadar nanti bisa dibuka." Philip menunjukkan kunci borgol tersebut yang terletak di atas meja.
Andi, Ben, dan Niko masih memperhatikan Kala.
"Tadi infusnya sampe jatuh terus lepas, darahnya dia naik dan berceceran dimana-mana. Tadi ini semua berantakan." ujar Philip lagi.
Mendadak hati Andi, Ben, dan Niko di rasuki rasa bersalah yang begitu besar.
"Maafin kita om, kita datang telat." ujar Andi kemudian.
"Harusnya kita bisa jagain Kala." lanjutnya lagi.
Philip mengangguk dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Om berterima kasih, kalian masih mau berteman dengan Kala. Kalian memperhatikan dia dengan baik dan mau bersusah payah menjaga dia."
"Kala itu teman kami, om. Kami peduli sama dia." ucap Niko.
"Sekali lagi terima kasih." Philip kembali berujar dan kembali menatap anaknya yang terlelap.
"Untuk selanjutnya, om akan gimana?" tanya Ben.
"Dia akan terus konsumsi obat, sambil akan dilakukan psikoterapi. Itu akan efektif untuk membuat dia menjadi lebih baik." jawab Philip.
"Kalau om butuh bantuan kami, jangan segan hubungi kami om." ujar Andi diikuti anggukan Ben dan juga Niko.
Philip mengangguk, ia begitu haru mendengar perkataan tulus dari remaja-remaja itu. Sebab hal yang paling ia takutkan adalah, melihat Kala tak mempunyai teman.
Kala seperti itu bukan kemauannya sendiri. Ia banyak menerima siksaan sejak kecil. Dan untuk menyembuhkannya di butuhkan waktu yang tidak sedikit.
__ADS_1
***
Esok hari.
Heru akhirnya di perbolehkan pulang, sebab ia sendiri sudah tak mengalami keluhan apa-apa. Sejatinya dari hari kedua masuk rumah sakit, ia sebenarnya sudah diperbolehkan pulang. Namun Philip mengatakan jika ia sebaiknya istirahat dulu selama beberapa hari.
Philip yang menanggung seluruh biaya perawatan Heru. Sebab ia merasa bertanggung jawab. Heru seperti itu juga karena anaknya. Meski yang memiliki ide ritual adalah Chika, tetap saja Kala memiliki kaitan yang erat.
"Nanti gue jengukin elo berdua terus koq."
Heru berkata pada Kala dan Egan yang kini duduk di kursi roda dan mengantarnya di muka ruangan.
"Iya, santai aja. Gue juga udah mau balik, besok." ucap Kala.
"Egan juga kayaknya bakal di rawat di rumah. Iya kan Gan?" lanjutnya kemudian.
Egan mengangguk.
"Ya udah gue balik ya." Heru berpamitan.
Ia kemudian berterima kasih pada perawat, dokter, Philip, dan juga Enrico. Ia pulang dengan diantar oleh Andi dan Niko. Sebab kedua orang tuanya selalu sibuk dan saat ini kabarnya tengah di luar kota. Enrico mendorong Egan kembali kamarnya. Sedang Ben membawa Kala, diikuti oleh Philip.
"Kala juga siap-siap." ujar Philip, ketika ia telah berada di kamar sang anak.
"Besok kamu pulang dan selanjutnya harus menjalani sesi psikoterapi sama papa." lanjutnya lagi.
***
"Gue mau pindah dari rumah sakit ini."
Faraz berujar pada kedua temanya yang baru saja tiba beberapa saat.
"Gue nggak mau deket-deket si Kala, dia itu sakit jiwa. Dia mau bunuh gue, dan udah bawa pisau kesini. Ini kriminal tau nggak."
"Lo udah bilang sama orang tua lo?"
Salah satu temannya bertanya pada remaja itu. Mereka benar-benar terkejut mengetahui kabar itu.
"Gue mau bilang. Tapi kalau misalkan dia nggak di tahan dan malah makin menjadi-jadi terhadap gue dan keluarga gue, gimana?" tanya Faraz kemudian.
Kedua temannya pun kini tampak berpikir.
"Tapi lo nggak sampai di lukain kan sama dia?" tanya salah satu temannya lagi.
"Nggak, karena keburu perawat dan dokter sama bapaknya dia datang. Tapi kan gue serem dan takut mau tidur. Takut tengah malam dia ke kamar gue, terus ngapa-ngapain gue."
"Lo minta ganti kamar aja." ujar teman Faraz yang satu lagi.
__ADS_1
"Penuh semua. Makanya gue mau minta pindah rumah sakit, tapi alasan ke bokap gue apa nanti. Kalau bilang ini rumah sakit pelayanannya kurang kan mustahil. Sekeluarga gue tuh selalu ke rumah sakit ini, karena dianggap pelayanannya lebih baik dari pelayanan rumah sakit lain."
Kedua teman Faraz menarik nafas. Mereka juga bingung harus bagaimana.
"Ya lo bilang aja mau di celakai sama si Kala."
"Tapi kalau ntar orang tua gue ribut, terus datangi Kala dan bapaknya gimana?" tanya Faraz.
"Ya itu urusan orang tua lo dan pihaknya Kala." ujar salah seorang temannya lagi.
"Gue cuma takut keluarga gue juga ikut di apa-apain sama tuh anak." ucap Faraz lagi.
Kini kedua temanya kembali diam dan kembali tampak berpikir.
***
Di sekolah.
Sebelum kedatangan Andi, Ben, dan Niko untuk menjemput Heru pulang. Chika yang baru saja kembali dari toilet tiba-tiba dihadang Cindy dan teman-temannya.
"Kak Cindy?"
Chika berujar dan menatap wajah kakak-kakak kelasnya yang terkesan agak horor tersebut. Pasalnya tak ada satupun yang tersenyum dan tampak seperti hendak mengintimidasi.
"Ada apa ya kak?" tanya Chika kemudian.
"Lo nggak suka kan kalau gue dekat sama Kala?"
Cindy langsung memberi pertanyaan yang sifatnya menjudge pada Chika.
"Ng, nggak koq kak. Biasa aja." ucap gadis itu dengan nada sedikit gemetar. Sebab geng Cindy juga terkenal tak segan-segan untuk menyakiti lawannya, baik secara fisik maupun verbal.
"Gue suka sama Kala."
Cindy membuat Chika terkejut dengan pernyataannya. Jujur ia memang tak suka jika Cindy terlalu dekat dengan Kala. Chika adalah sosok gadis baik namun agak haus perhatian. Ia selalu tak suka jika teman laki-lakinya dekat dengan perempuan lain. Entah itu Egan ataupun Kala yang saat ini tengah mencuri perhatiannya.
"Lo kaget kan?" tanya Cindy lagi.
"Mmm, nggak koq kak. Bisa aja, terserah kakak." ucapnya terbata-bata.
"Oke, mulai hari ini gue nggak mau liat lagi lo sok akrab sama Kala. Karena gue merasa terganggu dan nggak suka. Kalau mau ngomong sama Kala tolong berjarak."
Cindy dan teman-temannya kemudian berlalu meninggalkan Kala. Andi, Ben, dan Niko kebetulan tanpa sengaja melihat semua itu sedari tadi.
Niko ada hendak mendekat. Namun kata Andi sebaiknya tak usah ikut campur urusan perempuan, jika tak ingin kena jambak.
Alhasil mereka pun menahan diri dan tidak berbuat apa-apa.
__ADS_1