
"Kal."
Egan mendadak menghampiri Kala ke kelasnya, seusai ia makan di kantin. Kebetulan masih beberapa menit lagi menuju bel istirahat usai.
"Kenapa bro?" tanya Kala kemudian.
Ia heran melihat Egan yang tampak cemas serta bingung.
"Lo inget nggak sih, kalau kita kesana bawa tas, dompet, uang, makanan, laptop lo." ujar Egan.
Kala terdiam, ia seperti baru saja di sadarkan dan diingatkan pada semua itu.
"Iya ya." jawab Kala. Ia seperti berpikir.
"Loh iya MacBook gue." Remaja makin itu panik.
"Duh, kalau ayah nanyain mana itu barang, gue harus jawab apa?" lanjutnya lagi.
"Kita kesana aja sekarang, dan cari itu barang." ujar Egan memberi solusi.
"Tapi kan kita belum pulang dan masih ada kelas." ujar Kala.
"Udah lo ikut gue." ajak Egan kemudian.
Kala mengikuti langkah temannya itu. Egan mengajaknya melompati tembok, di salah satu sudut sekolah yang sepi. Egan berhasil duluan, namun Kala agak bersusah payah sebab kakinya sakit.
"Buruan, Kal."
"Kaki gue, Gan." ujar Kala masih berusaha. Egan kini membantunya.
"Sorry, gue lupa kalau kaki lo sakit." tukas Egan.
"Woi, mau kemana itu?"
Seorang sekuriti berteriak dari kejauhan dan berlari ke arah mereka. Beruntung Kala berhasil melompat, lalu mereka menyetop taksi yang kebetulan melintas.
"Hhhh, untung aja." ujar keduanya di waktu yang nyaris bersamaan.
"Kaki lo nggak apa-apa?" tanya Egan.
Kala menggeleng, namun masih sedikit meringis kesakitan. Terlihat jelas ia mencoba menyembunyikan rasa sakitnya itu dari Egan.
***
Kala dan Egan berjalan perlahan, lalu masuk ke pintu gerbang. Ketika mereka telah sampai di rumah sakit yang terbengkalai tersebut. Kala mulai mengingat dimana tempat ia meninggalkan MacBook dan juga tas miliknya.
"Koq nggak ada ya Gan?" tanya Kala pada Egan.
"Seingat gue disini." ujarnya lagi.
Mata Kala dan Egan mencari kesana-kemari, namun tak jua mereka menemukan barang-barang yang mereka cari. Sementara aura mistis masih terasa kental disana, meski ini adalah siang hari.
"Duh, dimana ya?" Egan ikut bertanya.
"Apa ada orang lewat, terus mereka ambi barang-barang itu?" lanjutnya lagi.
Keduanya kini sama-sama menghela nafas panjang.
"Gue harus gimana coba?. Gue cuma takut ayah nanya doang sih, tuh barang kemana. Selama dia sibuk mungkin masih bisa gue tutupi. Tapi kalau dia tiba-tiba nanya, gue bakal bingung mau jawab apa."
__ADS_1
Egan tampak berfikir, ia merasa bertanggung jawab sebab ini semua adalah idenya.
"Gini aja deh, ntar gue ambil tabungan gue yang di bokap. Gue gantiin aja MacBook lo." ujar remaja itu kemudian.
"Kalau om Rico tau gimana?" tanya Kala.
"Ya nggak gimana-gimana, paling dia nanya uangnya kemana. Tinggal gue bilang aja, dipake buat apa kek. Beli skin Hero kek, atau apalah nanti gue cari alasan. Paling marah bentar, abis itu dia baik lagi."
Kala kini ikut berfikir.
"Jangan deh, bro. Nggak enak gue." ujar remaja itu.
"Kan yang mencetuskan ide buat nakutin mereka itu, gue Kal. Jadi gue juga yang mesti bertanggung jawab."
Kala terdiam sejenak.
"Koq bisa gue nggak inget sama sekali ya, sama barang-barang itu. Bahkan sampe tadi loh." ujar Kala.
"Sama, gue juga." timpal Egan.
"Apa karena pengaruh tempat ini?" lanjutnya kemudian.
"Bisa jadi sih." jawab Kala.
Angin pun bertiup dengan kencang. Pepohonan yang tumbuh di sekitar mulai menggoyangkan ranting serta daun-daunnya.
"Kala..."
Terdengar suara lirih seakan memanggilnya dari suatu arah.
"Lo denger nggak sih, Gan?" tanya Kala pada Egan.
Kala mengerutkan keningnya.
"Bukan itu, ada yang manggil nama gue."
Kali ini Egan yang mengerutkan kening
"Gue dengernya suara cewek nangis, Kal." ujar remaja itu.
Keduanya kini terdiam, dengan telinga yang cukup awas terhadap segala jenis suara.
"Tuh manggil nama gue." ujar Kala.
"Orang nangis, Kal. Jauh lagi di telinga gue."
Kala melihat Egan, jantung kedua remaja itu kini berdegup kencang.
"Gan, kata orang kalau suaranya jauh. Itu berarti....?"
Egan pernah mendengar pernyataan tersebut dari Chika. Bahwasannya apabila ada suara aneh terasa jauh di telinga, itu berarti si pemilik suara sangat dekat dengan kita. Maka segera saja Kala dan Egan pun berlarian. Mereka kini menuju ke arah pintu gerbang.
"Hhhhh."
"Hhhhh."
Nafas mereka tersengal, tapi kini mereka telah berada di luar pintu pagar rumah sakit tersebut. Keduanya menoleh ke belakang, tampak sesosok bayangan di salah satu ruangan tengah berdiri. Keduanya sama-sama berbalik dan memandang ke arah depan.
"Lo ngeliat sesuatu, Kal?" tanya Egan.
__ADS_1
Kala mengangguk.
"Ada yang berdiri di ruangan itu. Lo nggak ngeliat?" tanya Kala.
Egan menggeleng.
"Tapi perasaan gue takut ngeliat kesana."
Nafas keduanya kian tersengal.
"Tap, tap, tap."
Terdengar suara langkah di koridor depan rumah sakit itu.
"Lo denger kan?" tanya Kala.
Egan mengangguk dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras.
"Itu kayak suara sepatu sekuriti yang nyelametin kita." ujar Egan.
"Tap, tap, tap."
"Gue nggak mau noleh." ujar Kala.
"Kita lari dalam hitungan ke tiga." lanjutnya lagi.
Egan mengangguk.
"Satu, dua, tiga."
Keduanya berlari dengan sekuat tenaga, guna menjauhi tempat itu.
***
Philip meletakkan barang-barang yang ia ketemukan di hadapan Enrico. Kemudian ia menatap sahabatnya itu.
"Ini bukannya tas Egan ya?" tanya Enrico ketika melihat tas dan juga beberapa barang milik Egan.
"Dan yang ini semua punya Kala." ujar Philip.
"Gue menemukan barang mereka di bekas rumah sakit tua di ujung jalan sana."
Enrico menatap Philip.
"Barang ini disana?" tanya nya kemudian.
"Ya, gue curiga mereka ngumpul disana sama teman-teman dari ghost photography mereka itu. Makanya mereka pulang larut. Tapi anehnya ini barang-barang jutsru ditinggalkan sama mereka disana."
Enrico menarik nafas, berarti ia telah di bohongi oleh anaknya sendiri.
"Kita harus ngomong ke mereka, secara bersama-sama. Bukan gue menghalangi hobi mereka. Tapi mereka harus jujur kemana mereka pergi dan mereka harus bertanggung jawab terhadap barang milik mereka."
"Gue juga mikir gitu sejak tadi. Tapi di jam segini mereka masih sekolah." ujar Philip.
Tak lama baik Philip maupun Enrico sama-sama menerima telpon. Dan itu adalah nomor salah satu guru di sekolah anak mereka. Keduanya pun terdiam, sebab mereka mendengar berita jika Kala dan Egan telah kabur dari sekolah.
Seperti yang telah dikatakan Egan pada Kala, di awal ia masuk ke sekolah itu. Sekolah itu akan sangat cepat melaporkan setiap pelanggaran kepada orang tua atau wali siswa. Sebab peraturan sekolah itu sangat ketat.
"Kemana lagi itu mereka?" tanya Enrico geram.
__ADS_1
Keduanya kini coba menelpon anak mereka masing-masing.