Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Rasuk


__ADS_3

"Ndi, gue takut."


Heru bergelantungan di bahu Andi, ketika mereka semua sudah menapaki lantai teras dari rumah dukun atau paranormal tersebut. Sementara Kala yang berjalan di samping Egan, merasa agak ragu dengan tempat itu.


Hal serupa juga dirasakan oleh Egan. Namun demi menghormati Andi yang sudah susah payah mengajak mereka kesana, Kala dan Egan pun menyimpan saja perasaan mereka.


"Kreeek."


Pintu depan rumah paranormal itu terbuka dengan sendirinya. Sama seperti pintu pagar tadi.


"Dia pake sensor kayak pintu otomatis di mall kali." celetuk Heru.


"Ssssttt." Niko meredam temannya itu agar tak banyak bicara.


"Ntar kalau paranormalnya denger terus tersinggung gimana?" ujarnya setengah berbisik pada Heru.


"Abisnya dari tadi kebuka-kebuka sendiri mulu, aneh." ujar Heru.


"Namanya juga paranormal, pasti memelihara makhluk tak kasat mata buat membantu ngurus ini dan itu. Termasuk buat buka-tutup pintu kayak gini." tukas Niko.


"Kalau yang memelihara makhluk tak kasat mata di sebut paranormal. Terus yang memelihara hewan apa namanya?"


"Alshad Ahmad." seloroh Niko dengan nada sewot. Ia menyebut salah satu YouTuber yang banyak memelihara hewan buas di rumahnya.


Kala, Egan, dan Ben kompak menahan tawa, sementara Andi terus melangkah ke dalam rumah diikuti mereka semua.


"Kalau yang melihara ayam kampus, siapa?" celoteh Heru lagi.


"Bapak lu." Lagi-lagi Niko sewot.


Kala, Egan, dan Ben cekikikan. Sementara Andi hanya menahan senyum. Sebab ia mendengar celotehan temannya itu.


"Stop disitu."


Terdengar sebuah suara yang entah berasal dari mana. Kala dan Egan mendengarkan, lalu berhenti melangkah. Sedang Ben, Niko, dan Heru heboh.


"Suara siapa anjir?" tanya Heru.


Ia, Ben, dan Niko ketakutan dan memegangi bahu Andi. Andi sendiri masih cukup tenang, sebab ia pernah ke tempat itu sebelumnya.


"Mbah, ini Andi. Yang tempo hari nemenin mbak Laras kesini. Yang korban teluh itu loh Mbah."


Andi berujar dengan nada cukup keras, meski si mbah-mbah yang dimaksud tidak kelihatan dimana wujudnya.


"Hari ini siapa yang mau berobat?" tanya si mbah.


"Teman Andi mbah, namanya Kala." seru Andi.


Heru mendorong Kala agar sedikit maju ke depan.


"Ini mbah orangnya." ujar Andi lagi.

__ADS_1


"Keluhannya apa?" tanya si mbah dukun itu kemudian.


Teman-teman Kala saling menatap satu sama lain, sementara Kala mencoba untuk terus bersikap tenang.


"Katanya sakti, koq nanya keluhan?" ujar Heru.


"Ya sama aja kayak dokter." jawab Niko.


"Kan dokter emang nggak sakti. Ini koq sakti tapi nggak tau." ujar Heru lagi.


Ben menempelkan jari telunjuk di bibir, tanda menyuruh Heru dan Niko untuk tenang. Kedua remaja itu pun mendadak diam.


"Kala, apa keluhan kamu?" tanya si mbah yang tak terlihat itu lagi.


Kala pun menceritakan semuanya secara rinci. Tetapi ada satu perkara yang ia pelesetkan dan tak ia katakan dengan jujur. Yakni mengenai dimana ia mendapatkan gangguan tersebut. Kala mengatakan jika ia pergi ke bumi perkemahan. Lalu si mbah yang tak terlihat dengan sotoynya berkata.


"Kamu itu terkena gangguan saat memasang pasak tenda di sebuah area. Area itu adalah tempat siluman ular kuning yang sangat sakti dan juga jahat."


Kala diam, yang lainnya juga diam termasuk Andi. Sebab mereka semua tau kemana Kala terakhir kali pergi. Yakni bekas rumah sakit yang terbengkalai, bukan bumi perkemahan seperti apa yang ia sebutkan tadi.


"Kita pulang." ujar Andi lalu berbalik arah dan melangkah.


Ia merasa tak enak hati pada Kala, karena dukun itu terlihat jelas telah berbohong. Andi kemudian menggesek ATM pada mesin pembayaran otomatis yang ada di depan. Dan barulah pintu keluar terbuka.


"Ndi, lo tadi bayar berapa?" tanya Kala pada Andi, ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya Ndi, biar gue sama Kala ganti." timpal Egan.


"Nggak usah, gue nggak enak udah ngajak kalian ketempat yang salah." ujar Andi seraya menekan pedal gas mobil cukup dalam.


"Bisa jadi Ndi. Mungkin dia ngasih pertanyaan standar yang kira-kira udah tau jawabnya." ujar Heru.


"Orang ada aja akalnya buat nyari duit." tukas Ben.


"Itu pintu tadi nggak akan kebuka, kalau lo nggak melakukan pembayaran?" tanya Niko.


"Gue nggak tau, tapi gue ngeliat sepupu gue kemaren kayak gitu. Gesek dulu, baru bisa keluar." ujar Andi.


"Udah kayak lagi begituan ya, gesek-gesek dulu baru aaaah keluar." celetuk Heru.


Mereka semua pun tertawa-tawa.


"Berapa Ndi, lo belum jawab pertanyaan Kala loh dari tadi."


Egan kembali mengingatkan di sela-sela tawa mereka.


"Udah nggak usah." ujar Andi.


"Anggap aja kompensasi gue karena udah ngajak lo sama Kala ke tempat yang sia-sia." lanjutnya lagi.


"Jangan kayak gitu lah, gue nggak enak." ujar Kala.

__ADS_1


"Lo kan udah nolongin gue sampai sejauh ini, walaupun hasilnya belum tentu." lanjut remaja itu.


"Beneran Kal, nggak usah." ujar Andi.


"Gue ikhlas koq." lanjut pemuda itu.


"Terima aja Kal, Andi mah bapaknya kaya raya." ujar Niko.


Andi tertawa, begitupun dengan yang lainnya.


"Thanks ya, Ndi." ujar Kala kemudian.


"Santai." jawab Andi pada temannya itu.


***


"Jadi kita gimana nih?" tanya Ben pada Kala dan yang lainnya.


"Apa mau cari lagi paranormalnya?" lanjut remaja itu.


"Bagusnya sih kita cari lagi." jawab Egan.


"Kalau palsu lagi gimana?" tanya Kala.


"Ya, daripada nggak mencoba. Tapi kita liat dulu, kalau kayak tadi kita jangan bayar. Kayaknya nggak semua paranormal deh, yang pake pintu otomatis gitu. Bisalah kita kabur." lanjut Egan kemudian.


"Ya udah kita cari-cari dulu aja infonya, di internet kek, broadcast ke grup kelas kek. Bilang aja ada keluarga kita yang nyari, jangan bilang nama Kala." ujar Niko.


"Iya, ntar sekelas heboh." timpal Heru.


Mobil terus berjalan, tiba-tiba Kala tersenyum sendiri. Namun ia kemudian berubah menjadi seperti Kala yang tadi. Egan mulai melihat keanehan dalam diri remaja itu.


"Kal."


"Ini gue Gan." ujar Kala.


Andi, Ben, Niko dan Heru mulai menyadari, jika telah terjadi sesuatu.


"Tadi lo ketawa sendiri." ujar Egan lagi.


Niko dan Heru saling menatap satu sama lain, kemudian melihat ke arah Kala. Ben juga menoleh dan memperhatikan temannya itu. Sementara Andi sesekali melihat dari kaca atas, sebab ia tengah mengemudi.


"Ini lagi coba gue kuasain, gue kayak mau dialihkan."


Egan menatap Kala dengan khawatir, begitupula dengan yang lainnya.


"Lo mau dirasukin?" tanya Egan.


"Gue nggak tau, belum pernah yang kayak gini. Atau mungkin pernah tapi gue nggak sadar. Ini kayak lagi ada energi yang narik kesadaran gue, tapi gue coba menolak."


Belum sempat Egan dan yang lainnya berkomentar, Kala sudah tertunduk dalam. Dengan pandangan mata yang kosong dan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Kal?"


Waktu pun seakan terhenti.


__ADS_2