Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Hampir


__ADS_3

"Ndi, stop bentar Ndi. Gue mau pipis." ujar Kala tiba-tiba.


"Kal?" Egan memanggil Kala dan bermaksud memastikan siapa yang tengah berbicara tersebut.


"Ini gue Gan." ucap remaja itu.


"Gimana gan?" tanya Andi.


"Nggak apa-apa, lo stop aja." jawab Egan.


Ia sejatinya masih agak curiga. Sebab Kala saat ini masih menunduk dalam, meski suaranya adalah suara Kala. Namun Egan pikir mungkin Kala kelelahan dan mengantuk, makanya ia menunduk.


Andi menghentikan mobil Ben yang ia kemudikan di bahu jalan. Kala keluar, Egan ikut membuka pintu. Namun Kala kemudian mendadak berlari kencang.


"Ndi Kala kabur Ndi." teriak Heru seraya keluar dan disusul oleh Niko.


Egan sendiri bergegas berlari menyusul Kala, sementara teman-teman Kala berhamburan.


"Kalaaa."


Egan berteriak, Niko, Heru, Andi dan Ben turut mengejar.


"Kaaal." Teriak mereka memecah.


Kala yang sudah bukan dirinya lagi itu terus berlari kencang. Namun Egan dan yang lain tak menyerah begitu saja. Jalan tersebut sangat sepi, bahkan masih banyak pepohonan serta jauh dari pemukiman. Tak ada yang bisa dimintai tolong kecuali mereka sendiri yang berusaha keras.


Tiba-tiba sebuah mobil bus melintas. Kala yang berlari mendadak membelokkan dirinya untuk menyebrang jalan. Saat bus itu sudah sangat dekat dengannya.


"Kalaaa."


Semuanya berteriak, Egan berhasil menangkap tubuh remaja itu dan mereka terhempas ke sisi jalan.


"Buuuk."


Kala merasa tubuhnya memar dan sakit. Heru nyaris pingsan melihat semua itu. Sebab sedikit saja Egan terlambat, Kala pasti sudah tertabrak. Sementara Andi, Niko, dan Ben kini mengalami syok berat.


"Gan gue sama lo kenapa?"


Kala yang bingung dengan dirinya kini memperhatikan sekitar. Ia juga bingung melihat Egan yang dibanjiri keringat dingin serta nafasnya terlihat begitu memburu.


"Mereka kenapa?"


Kala mempertanyakan teman-temannya yang juga masih terlihat kacau. Egan membantu Kala untuk berdiri.


"Balik ke mobil." ujar remaja itu kemudian.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, Gan." ujar Kala kemudian.


"Lo mau bunuh diri, mau nabrakin diri lo ke mobil bus yang lagi melaju kencang."


Egan berujar dengan nada setengah emosi. Ia tau ini bukan salah Kala, tapi ia juga takut jika sampai hal tersebut terjadi. Di tambah Kala pergi bersama dirinya. Apa yang akan ia katakan pada Philip dan Enrico nanti.

__ADS_1


"Bunuh diri?" tanya Kala tak percaya.


Heru tiba dan mencekal lengan Kala, Kemudian ia membawa remaja itu ke mobil. Mereka semua kini masuk.


"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Andi, diikuti tatapan mata Ben dan yang lainnya. Ketika mereka semua telah berada di dalam.


"Nggak." jawab Kala.


Jujur ia masih bingung dengan semua ini. Karena kejadian tersebut berlangsung, saat ia benar-benar tidak sadar akan dirinya sendiri.


"Nih Lo minum dulu."


Niko memberikan air mineral yang memang selalu tersedia di bagian belakang mobil Ben. Kala lalu meminum air itu hingga setengah.


"Tadi tuh gue kenapa sih?" tanya Kala ketika mobil telah kembali berjalan.


Egan masih membuang tatapan matanya ke sisi kanan. Sebab ia ingin menetralkan perasaannya terlebih dahulu.


"Lo tadi minta stop, lo bilang ke Egan kalau lo mau pipis. Terus abis itu Lo lari kenceng banget, sampe kita nggak bisa nyusulin." ujar Ben.


"Dan lo mendadak berhenti, pas ada bus lewat. Terus lo malah mau nyebrang." timpal Niko.


Kala menarik nafas, ia benar-benar tak mengingat semua itu.


"Lo bikin jantung gue mau copot, Kal." Heru yang sampai saat ini masih syok akhirnya ikut bicara.


"Gue bener-bener nggak tau dan nggak inget apa-apa." ujar Kala.


"Di rumah lo ada siapa?" tanya Andi.


"Lo tinggal di apartemen kan?" tanya Andi lagi.


"Iya."


"Ya udah, kita nemenin Kala sampai bapaknya pulang. Ntar lo terjun lagi dari atas gedung." Lagi-lagi Andi berujar.


"Lo ikut kan Gan?" tanya Niko pada Egan.


"Gue titip Kala ke kalian, gue harus ke rumah sakit." ujar Egan.


"Bokap gue sama bokapnya Kala harus tau masalah ini. Mereka nggak boleh diem aja, dan selalu bertumpu sama medis. Ini masalah serius." lanjut remaja itu.


"Ya udah, berarti ini kita nganterin lo dulu ke rumah sakit. Baru kita nganter Kala." ujar Andi.


"Ok." jawab Egan.


***


"Ini elo sama siapa Kal?. Koq seragam lo lawas amat."


Ben memperhatikan foto masa remaja Philip dan mengira jika itu Kala. Saat ini mereka sudah sampai di apartemen milik Philip.

__ADS_1


"Itu bokap gue, sebelahnya bokapnya Egan." jawab Kala.


Andi, Heru, dan Niko mendekat dan sama-sama melihat ke arah foto tersebut.


"Anjir muka lo plek ketiplek bapak lo banget." seloroh Heru.


"Nggak ada bedanya sama sekali ya." timpal Niko.


"Yang mana bapaknya Egan?" tanya Andi.


"Om Rico yang ini." ujar Kala.


"Yang sebelah ini siapa?" tanya Ben.


"Koq lebih mirip yang ini sama Egan, ketimbang bapaknya Egan sendiri." lanjutnya kemudian.


"Iya ya." Andi dan yang lainnya tertawa.


"Itu juga bapaknya Egan, bapak kandung." jawab Kala lagi.


Andi, Ben, Nino dan Heru kompak mengerutkan kening.


"Ini bapak kandungnya Egan?" tanya Niko.


"Iya, tapi udah meninggal. Nggak lama setelah Egan lahir. Makanya Egan diasuh sama om Rico."


"Oh, gitu." ujar Andi.


"Tapi kayaknya sayang banget ya sama Egan. Gue pernah beberapa kali tuh liat dia nganter Egan ke sekolah. Kayak nggak ada beda sama bapak kandung." timpal Heru.


"Namanya juga di asuh dari bayi. Bapaknya juga ngerasa udah kayak anak sendiri pasti." celetuk Niko.


"Udah sampe nih makanannya, gue ke bawah dulu ya." ujar Kala.


"Eh jangan, biar gue sama Niko aja." ujar Heru.


"Lo disini sama Andi, sama Ben." lanjutnya kemudian.


"Iya, ntar lo terjun lagi dari tangga darurat."


Niko turut menimpali dan berlalu meninggalkan tempat itu bersama Heru. Mereka turun ke bawah untuk mengambil pesanan makanan yang sudah di order oleh Kala.


"Repot nih gue abis ini." ujar Kala.


"Bakalan banyak yang nggak percaya kalau gue jalan sendirian."


"Iyalah. Tadi kita panik banget anjir, ngeliat lo begitu." ujar Ben.


"Mulai hari ini kita bakal ngawasin lo." ujar Andi.


Kala menghela nafas, ia kini berada dalam keadaan antara miris namun menahan tawa. Ia benar-benar tidak tau jika ia mengalami kesurupan. Ia akan sangat susah jika teman-temannya ini berubah menjadi protektif terhadap dirinya.

__ADS_1


Namun disisi lain ia bahagia. Akhirnya setelah sekian lama ia hidup. Ia dipertemukan dengan orang-orang, yang begitu peduli terhadap dirinya.


Apa yang tak pernah ia dapatkan di tempat terdahulu, kini seakan dibayar tunai oleh waktu.


__ADS_2