
"Ritual?"
Kala bertanya pada Egan di telpon.
"Iya Kal. Chika bilang dia akan ngelakuin sebuah ritual, untuk memulangkan makhluk yang nempel di kaki lo itu ke tempatnya. Soalnya dia ada bilang juga, kalau makhluk itu kemungkinan yang suka menyerupai lo."
"Emang Chika bisa?" tanya Kala lagi.
"Bisa katanya, tapi gue nggak tau. Selama gue kenal dia, belum pernah kita ngelakuin hal kayak gitu. Belum pernah ada juga diantara kita yang kesurupan atau di serupai sama makhluk halus."
Kala diam.
"Gue malah mikir mau pergi aja dari sini, Gan." ujarnya kemudian.
"Kenapa mesti pergi?" tanya Egan heran.
"Gue nggak mau ayah celaka lebih banyak dari ini. Gue nggak mau jadi anak yang bawa sial." jawab Kala.
"Kal, nggak ada namanya anak bawa sial. Kesialan itu bisa menimpa siapa aja, nggak perlu ada yang membawa. Lo nggak usah mikir macem-macem dan jangan sampe nekad. Lo mau tinggal dimana emangnya kalau nggak sama om Philip?. Keluarga nyokap lo aja begitu modelnya."
Kala menghela nafas.
"Gue juga nggak tau mau tinggal dimana. Tapi gue pikir dari pada ayah celaka karena ada gue, biar gue yang pergi entah itu kemana."
"Nggak ada lo ya, kayak gitu-gitu. Awas lo kalo sampe kejadian." Egan mengancam Kala.
"Kalau kita udah lulus SMA aja, dan udah dapat ijasah. Mau kabur silahkan, setidaknya lo bisa kerja entah dimana pun itu, berapapun gajinya. Atau pas lo udah selesai kuliah, mau nggak tinggal sama om Philip lagi juga nggak masalah. Udah ada bekal buat lo cari kehidupan. Lah sekarang, SMA aja baru kelas satu, mau kabur kemana lo?. Mau jadi apa di luar sana?. Mau mengabaikan pendidikan?. Rugi Kal."
Kala terdiam kali ini. Ia memang berpikir ke arah situ, tapi ia juga tak tega bila harus melihat ayahnya mengalami hal buruk akibat keberadaan dirinya.
Philip adalah satu-satunya orang tua yang ia miliki saat ini. Dan mungkin adalah satu-satunya anggota keluarga yang menerima kondisi dirinya. Setelah keluarga sang ibu dan keluarga Philip sendiri menolak kehadirannya. Kala tak akan bisa memaafkan diri sendiri, jika sampai hal yang lebih buruk terjadi pada ayahnya itu.
"Kala?"
Philip mengetuk pintu kamar Kala, remaja itu meletakkan handphone dan berpura-pura tertidur. Philip mencoba membuka pintu kamar sang anak dan ternyata memang tidak di kunci.
Ia melihat Kala yang terlelap, kemudian menyelimutinya. Ia mencium kening anaknya itu, lalu membereskan beberapa buku yang berserakan di atas tempat tidur.
Philip membawa buku-buku itu dan menyusunnya ke lemari khusus, yang juga terdapat di ruangan tersebut. Kemudian tanpa sengaja Philip menjatuhkan salah satu diantaranya.
__ADS_1
"Buuuk."
Sebuah foto keluar dari salah satu halaman di buku tersebut. Philip kemudian meraihnya dan,
"Degh."
Batinnya bergemuruh, sebab yang ada di dalam foto tersebut adalah Gayatri. Philip memang memiliki beberapa foto mantan kekasihnya itu, tapi yang ini berbeda. Ini adalah foto dimana Gayatri tengah mengandung Kala. Ia tampak memegangi perutnya yang membesar sambil tersenyum ke arah kamera.
Hati Philip serasa teriris. Gayatri mengandung benih darinya sendirian, dan melahirkan tanpa pendampingan. Hingga kemudian wanita itu pergi untuk selamanya. Ia sejatinya mungkin bisa menggugurkan anak itu sejak awal, namun ia mencintai Philip. Ia ingin buah cinta mereka terus tumbuh di dalam rahimnya.
Philip meletakkan kembali foto itu ke dalam buku, dan meletakkannya ke lemari. Tak lama pria itu beranjak, meninggalkan Kala yang kini kembali membuka mata.
***
"Berarti kita mesti menyiapkan bunga-bungaan gitu dong, Chik?"
Heru bertanya pada Chika, ketika pada keesokan harinya mereka bertemu di sekolah. Mereka tengah berkumpul di pojok kantin untuk membahas ritual yang akan dilakukan oleh Chika. Sementara Kala belum nampak sama sekali, mungkin masih dalam perjalanan.
"Iya, itu juga masuk ke dalam daftar syarat ritualnya. Bunga tujuh rupa, tempat pembakaran, dupa, dan beberapa makanan serta minuman." jawab Chika.
"Musyrik nggak sih ini?" Niko berbisik di telinga Ben.
"Chika itu penghayat kepercayaan. Beda keyakinan sama kita." jawab Ben dengan suara yang juga berbisik.
"Egan yang bilang ke Andi, gue nggak sengaja denger." jawab Ben.
"Lah terus Kala gimana?. Soal keyakinan dia gimana?" Lagi-lagi Niko bertanya.
Andi melirik mereka, agar mereka mengecilkan volume suara. Sebab takut Chika akan tersinggung dengan apa yang mereka bahas.
"Setahu gue keyakinan Kala itu beda sama bapaknya, dia ikut ibunya. Tapi ya udalah, ngapain juga kita ngebahas keyakinan orang. Job desk kita dalam ritual itu kan cuma jagain Kala, supaya dia nggak kabur kalau kesurupan. Kita nggak ada di suruh baca-baca mantra atau apapun juga. Jadi nggak usah takut." Ben kembali berujar.
"Iya sih." jawab Niko.
Tak lama Egan datang, kemudian di susul oleh Kala. Chika lalu membuka bahasan paling pokok dalam pembicaraan hari itu.
Yakni mengenai kapan, dimana, dan seperti apa ritual yang akan mereka jalani nantinya. Syarat apa saja yang harus mereka penuhi dan pengamanan seperti apa yang harus dilakukan oleh teman-teman Kala.
***
__ADS_1
Sementara itu dari kejauhan, Cindy sang kakak kelas primadona terus memperhatikan ke arah Kala dan yang lainnya.
Ia menatap bahkan begitu lama, hingga mengundang perhatian teman-teman akrabnya.
"Lo kayaknya terobsesi banget deh Cin, sama si Kala." celetuk salah seorang temannya itu.
"Iya dari tadi ngeliatin ke arah sana Mulu." timpal yang lainnya.
"Gue cuma heran sama dia, kadang dia ngobrol berdua sama gue. Tapi kadang juga kayak nggak kenal." Cindy akhirnya berujar.
"Emangnya lo udah pernah ngobrol sama dia?" tanya teman yang lainnya lagi.
"Sering." jawab Cindy seraya terus memperhatikan Kala.
"Kita sering ketemu di sebuah spot di sekolah ini. Cuma gue berdua sama dia, dan kita ngobrolin banyak hal." lanjutnya kemudian.
Teman-teman Cindy saling bersitatap. Pasalnya baru kali ini Cindy bercerita pada mereka soal itu.
"Kita berdua cukup akrab. Tapi ketika kembali ke tengah-tengah kayak gini, dia berubah. Kadang gue lewat, dia cuek aja sama gue. Kayak nggak kenal sama sekali."
Teman-teman Cindy kembali bersitatap satu sama lain.
"Lo nggak lagi halu kan, Cin?" tanya temannya lagi.
Cindy lalu membuka galeri handphone dan menunjukkan sebuah foto, dimana ada Kala disampingnya. Mereka berdiri bahkan nyaris tak berjarak. Kala merangkul Cindy, dan ikut tersenyum ke kamera.
"Serius lo?"
Teman-teman Cindy masih tak percaya.
"Gila lo gercep banget deketin anak baru."
Teman-temannya kini menggoda Cindy. Cindy pun akhirnya tersenyum.
"Tapi kenapa ya, dia kayak nggak kenal kalau di tengah orang banyak."
"Malu kali, Cin. Namanya juga adek kelas."
Salah satu temannya berspekulasi.
__ADS_1
"Iya kali ya." jawab Cindy.
***