
"Lo masih bingung nggak sih, soal tuh bocah yang kita liat udah pulang. Tapi tau-tau dia papasan sama kita di toilet."
Salah satu teman Faraz berkata pada Faraz. Faraz sendiri ingat akan keanehan tersebut. Kini hari-hari mereka tak luput dari mengawasi gerak-gerik Kala.
"Gue juga mikirin hal itu selama beberapa hari belakangan ini." ujar Faraz.
Ia terus menatap ke arah Kala, sementara Kala tampak tengah tertawa-tawa bersama teman-temannya. Entah apa yang tengah mereka bahas.
Siang hari saat bel tanda pulang telah dibunyikan. Philip dan Enrico sama-sama menjemput anak mereka. Kebetulan keduanya selesai kerja di jam yang sama.
Meski gusar Egan tetap masuk ke dalam mobil ayahnya itu. Begitupula dengan Kala, ia masuk ke dalam mobil Philip dengan wajah yang menunjukkan kekesalan.
Disepanjang perjalanan pulang, walau berada di dua mobil yang berbeda. Namun Kala dan Egan sama-sama membuang pandangan mereka ke sisi jalan. Kedua remaja itu memang agak sulit untuk bisa melupakan apa yang telah terjadi.
"Kamu kenapa Kala?. Tadi ayah liat kamu normal aja di dekat teman-teman kamu. Kamu bicara, tertawa. Kenapa pas ketemu ayah malah kayak orang penuh dendam gitu?"
Philip berujar pada sang anak, sebab Kala memasang wajah yang tak begitu ramah sejak tadi.
"Kala masih heran aja sama ayah. Kenapa ayah nggak percaya sama apa yang Kala bicarakan kemarin."
"Soal hantu itu?" tanya Philip.
Kala hanya diam dan kembali membuang pandangannya, kali ini jauh ke depan.
"Ayah bukan nggak percaya, Kala. Ayah sangat percaya kamu bisa melihat semua itu. Tapi, ayah percaya itu ada hubungannya dengan kondisi medis dan psikologis, bukan karena kamu indigo atau apa."
Kala masih diam.
"Setiap apa yang kamu katakan sama ayah, ayah selalu ingat itu. Sebagai acuan ayah untuk menentukan diagnosa terhadap kondisi yang kamu alami. Jangan pikir kalau ayah nggak percaya itu, berarti ayah menganggap kamu cuma mengada-ada. Disini pandangan kita yang berbeda. Kamu menganggap itu sebagai hal gaib, ayah menganggap itu sebagai kondisi psikologis. Kamu ngerti kan apa yang ayah bicarakan?"
Kala mengangguk pelan, Philip kini menarik nafas dan terus menekan pedal gas mobilnya. Sementara di mobil satunya lagi, Enrico sudah tidak tahan melihat sang anak yang terus diam, tak seperti biasannya.
"Kamu kenapa Gan, muka kamu kayak keselek panci gitu?"
Egan memberi lirikan yang kesal pada Enrico.
"Masih marah sama papa, soal papa yang nggak percaya sama hal-hal gaib itu?" Lagi-lagi Enrico bertanya.
"Abis papa ngeselin, orang Egan nggak bohong. Egan bukan mau mencari pembelaan karena udah pake mobil papa tanpa izin terus kecelakaan. Egan bener-bener mengalami hal itu."
"Iya, papa minta maaf soal itu. Sekarang kamu mau minta maaf nggak sama papa, udah melanggar janji kamu untuk nggak pakai mobil tanpa izin?"
Egan diam, namun kemudian ia pun menjawab meski masih dengan nada yang sedikit gusar.
"Iya, Egan minta maaf."
"Gitu dong, sama-sama menyadari kalau salah."
__ADS_1
"Papa tuh kenapa sih, arogan banget jadi orang?"
Enrico tertawa mendengar ucapan anaknya itu. Sementara Egan masih saja sewot, dengan melepaskan pandangan ke arah jalan yang mereka lalui.
"Hhhh." Enrico menghela nafas.
"Kamu bisa nanya kayak gitu, karena kamu nggak ada di posisi papa." ujar Enrico kemudian.
"Kamu nggak tau rasanya membesarkan anak sendirian. Apalagi anaknya bandel kayak kamu. Kamu itu anak papa satu-satunya, Egan. Dan papa sayang sama kamu lebih dari apapun."
Egan sedikit menunduk, mendadak ada rasa bersalah yang bersarang di hati remaja itu. Ia merasa telah banyak menyusahkan Enrico selama ini.
"Papa..."
Enrico menjeda ucapannya dengan menarik nafas.
"Papa harus jaga kamu demi Joan."
Enrico tampak begitu emosional saat terpaksa harus mengatakan hal tersebut. Dan rasa bersalah di hati Egan kian bertambah besar.
"Egan nggak kenal dia, pa."
Egan berujar setelah beberapa detik terpaku dalam diam.
"I know, tapi papa kenal dia. Papa kenal dia dengan baik."
Enrico menghela nafas, tampak ada air mata yang ia tahan untuk tidak keluar. Egan kini menunduk cukup dalam. Ia tau Enrico bukanlah ayah biologisnya. Tapi perasaan sayang Enrico terhadap dirinya melebihi apapun yang ada dunia ini, dan begitu juga sebaliknya.
***
"Kita mau kemana pa?"
Kala bertanya pada Philip, ketika ayahnya tersebut membelokkan mobil ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Keperluan rumah udah abis, sekalian aja kita belanja dulu sebelum pulang." jawab Philip.
Pria itu lalu memarkir mobil di area parkir basemen. Sesaat kemudian mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Saat berada di dalam, Kala melihat ada banyak brand besar ternama disana. Yang bahkan harga produknya kadang membuat sebagian orang mengelus dada.
Kala ingat banyak teman-teman sekolahnya di kota yang lama, sering menggunakan brand-brand tersebut. Karena mereka notabenenya anak-anak orang kaya.
"Kala."
Philip memanggil Kala, remaja itu pun menoleh. Tampak Philip berdiri di muka sebuah Apple store yang ada di sebuah sisi. Kala kemudian mendekat pada ayahnya itu. Mereka sama-sama masuk, Kala mengikuti Philip yang berjalan ke arah display dari handphone-handphone seri terbaru.
"Kamu suka yang mana, pilih aja." Philip berujar pada Kala.
__ADS_1
"Ayah mau beliin Kala?" tanya Kala seraya menatap Philip.
"Iya, kamu liat-liat dulu gih...!"
Philip kemudian meninggalkan Kala, untuk melihat-lihat produk lain di tempat tersebut. Selang beberapa saat ia kembali.
"Gimana, udah ada pilihan?" tanya nya pada Kala.
Kala mengangkat sebuah contoh barang yang ada di display. Pilihannya jatuh pada iPhone seri terbaru dengan warna black matte.
"Ok, MacBook nya sekalian tuh." ujar Philip lagi.
Kala sedikit terkejut mendengar semua itu. Sebab harga handphone ini saja sudah mencapai belasan juta. Ia diam untuk sejenak, sampai Philip kembali mengulangi ucapannya.
"Ayo, sana cari. Atau ayah temenin, ayo...!"
Philip melangkah ke deretan MacBook yang ada di sisi kiri mereka. Kala pun mengikuti langkah ayahnya itu. Mereka melihat-lihat kemudian memilih. Usai mendapatkan pilihan, akhirnya kedua benda itu pun dibayar oleh Philip.
Mereka lalu keluar dari tempat tersebut sambil membawa apa yang sudah di beli. Melintas di sebuah counter lain, Philip menghentikan langkahnya.
"Kamu butuh laptop gaming nggak?" tanya nya kemudian.
Kala menatap ke dalam counter itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Philip.
"Nggak usah yah, kan tadi udah beli MacBook." jawabnya.
"Ya nggak apa-apa kalau kamu butuh, ambil aja." ujar Philip meyakinkan, namu Kala menggeleng.
"Nggak usah, yah. Ini cukup koq."
Philip diam lalu menerima keputusan itu.
"Ok." jawabnya kemudian.
Mereka lanjut berjalan. Ketika melintas di sebuah store yang menjual produk fashion, Philip kembali menghentikan langkahnya. Pandangan mata pria itu tertuju pada sebuah jaket yang terpajang di patung display.
"Kal, ini kayaknya cocok deh buat seumur kamu." ujarnya pada sang anak.
Kala hanya tersenyum tipis. Philip kemudian masuk ke dalam store tersebut. Kala sempat terdiam sejenak, pasalnya itu adalah store dengan brand yang terkenal. Harga-harga dari produk yang dijual pun terbilang cukup fantastis.
"Kamu butuh apa, ambil aja." ujar Philip.
Lagi-lagi Kala terdiam. Namun pada menit-menit berikutnya, mereka terlihat sama-sama memilih pakaian yang mereka inginkan. Kala beberapa kali menilai pakaian yang dikenakan oleh ayahnya itu. Ia memilih mana yang terlihat cocok dan juga tidak.
Sejenak mereka pun tertawa-tawa. Seperti ayah dan anak yang begitu bahagia. Philip sendiri tak masalah, meski hari itu ia harus mengeluarkan uang hingga puluhan juta rupiah. Apa yang ia berikan pada Kala, tak akan pernah cukup untuk membayar kesalahannya selama ini.
Kala menderita hidupnya, baik secara fisik maupun mental. Dan berapapun uang yang Philip keluarkan, tak akan pernah bisa menebus semua itu.
__ADS_1
Usai membeli pakaian mereka lanjut menuju grocery dan membeli berbagai keperluan rumah, termasuk bahan makanan. Ditempat itu Philip mengajari anaknya bagaimana cara memilih produk yang baik, dan juga sehat. Ia merasa itu sangat perlu diajarkan, karena mereka hanya tinggal berdua.
Tak ada seorang perempuan ataupun sosok ibu yang bisa menghandle semua hal, yang berhubungan dengan rumah serta kesehatan para penghuninya.