
"Kamu..."
Philip hendak berujar, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Ia tak tau apakah hal ini harus di ceritakan atau tidak. Meski ia adalah seorang psikiater, tapi ia tak bisa berpikir cepat saat ini.
Semua seolah berkabut, sebab baru saja ia mengalami kejadian yang membuat jantungnya seperti hendak terlepas.
"Kala kenapa yah?" tanya Kala penasaran. Ia menatap Philip dan menatap teman-temannya pula.
"Lo mau bunuh diri, bro." ujar Andi.
"Lagi?" tanya Kala.
Sebab sebelum itu ia telah mengetahui dari teman-temannya, jika ia hendak bunuh diri dengan menabrakkan diri ke bus.
"Iya, lo tidur sambil jalan dan mau terjun dari atas gedung." timpal Ben.
Kala terkejut dan memperhatikan semuanya. Termasuk kembali menatap Philip. Ia benar-benar tak mengingat sama sekali kejadian itu. Sebab rasa-rasanya ia tidur dan baru bangun saat ini.
"Kamu istirahat." ujar Philip lalu beranjak.
"Om mau bicara sama kalian."
Philip berujar pada teman-teman Kala. Mereka kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut, dengan Kala yang masih tampak bingung. Kebetulan aman jika meninggalkannya sendiri di sana. Sebab kamar itu tak memiliki kaca ataupun balkon.
Balkon apartemen mereka ada di bagian lain. Kala sendiri masih bengong dan tak mengerti, dengan apa yang dikatakan Philip barusan.
Andi, Ben, Niko, dan Heru duduk di ruang makan, Philip kini ada di tengah-tengah mereka. Pria itu kemudian menjelaskan kondisi Kala secara detail. Di mulai dari pertemuan mereka hingga masa lalu Kala yang banyak mengalami kekerasan.
Keempat remaja itu pun kini tau cerita yang sebenarnya. Meski sempat mendengar dari Kala dan juga Egan sendiri. Tapi penjelasan Philip lebih lengkap dan bisa diterima dengan akal sehat.
"Om akan mengobati Kala, tapi om juga akan sangat butuh bantuan dari kalian."
Philip menatap para remaja itu dan meminta dengan sangat.
"Om mungkin akan memberikan pengawasan untuk dia. Tapi di dalam sekolah, om minta tolong sama kalian. Supaya kalau ada apa-apa, laporkan ke om."
"Om tenang aja, kami memang udah ada planning untuk terus mengawasi Kala. Meskipun itu nggak om minta." ujar Andi.
"Iya om, soalnya kita ngeliat sendiri pas Kala lagi kesurupan tadi." timpal Ben.
"Yang masih di mobil." lanjutnya lagi.
Philip menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Dia bukan kesurupan, itu kondisi psikis yang di sebut dengan possession trance disorder. Kala sakit, sebab dia memiliki banyak trauma dimasa kecil." ujarnya.
Andi, Ben, Niko, dan Heru saling bersitatap satu sama lain. Inilah yang dibicarakan oleh Egan maupun Kala pada mereka. Bahwasannya tak ada satupun dari orang tua Kala maupun Egan, yang percaya dengan fenomena kesurupan.
"Mmm, om kalau boleh tau. Pengertian possession trance disorder itu sendiri apa ya?" tanya Niko penasaran.
"Itu merupakan gangguan mental yang ditandai dengan hilangnya sebagian atau seluruh integrasi akan pikiran, memori, identitas diri, kontrol gerakan tubuh, serta lingkungan sekitar." jawab Philip.
"Tapi biasanya itu hanya berlangsung selama sementara, di waktu-waktu tertentu." lanjutnya kemudian.
"Penyebabnya om?" tanya Andi.
"Ya macam-macam, multifaktor biasanya." jawab Philip lagi.
"Kayak trauma masa kecil yang om bilang tadi?" Ben menimpali pertanyaan Andi.
"Iya, benar sekali. Tapi bisa juga karena faktor lingkungan, budaya, genetik, stress psikososial." lanjut Philip.
"Tapi om, apa om nggak percaya soal kemasukan makhluk halus?"
Heru membuat teman-temannya kian fokus memperhatikan. Philip menghela nafas sambil memperhatikan Heru. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Dia sakit, dan om akan mengobati dia dengan cara om sendiri."
"Oh ya, kalian makan dulu. Nanti makanannya dingin." ujar Philip mempersilahkan teman-teman anaknya itu untuk makan.
"Iya om." jawab mereka serentak.
Maka mereka pun mulai mengambil dan membuka makanan yang ada di hadapan mereka.
"Kala nggak makan, om?" tanya Ben.
"Coba om tanya dulu sama anaknya." ujar Philip.
Pria itu kemudian beranjak dan menuju ke kembali ke kamar Kala.
"Kreeek."
Ia membuka pintu kamar anak itu, dan Kala sudah tidak ada di tempat tidur. Mendadak rasa khawatir pun menyerbu, ia takut anak itu kembali hilang. Maka Philip buru-buru berjalan ke arah kamar mandi, yang terdapat di kamar tersebut.
"Kreeek." Philip membukanya.
Tampak Kala tengah berada di dalam shower room. Kaca shower room tersebut tidaklah bening, melainkan frosted. Tetapi bayangan Kala didalamnya tetap bisa dilihat. Ia tampak seperti berdiri di bawah terpaan air shower.
__ADS_1
Philip bernafas lega karena Kala ternyata ada disitu. Maka ia pun keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
"Braaak."
Philip berbalik, namun kemudian ia terdiam dengan tubuh yang gemetar. Pasalnya kini ia melihat Kala yang tengah tertidur lelap dia atas tempat tidur.
Jantung Philip berdegup dengan kencang. Sebab sebelumnya ia melihat Kala berada di shower room. Sedang kamar mandi tersebut hanya memiliki satu pintu dan Philip masih berdiri di dekatnya.
"Kreeek."
Philip kembali membuka pintu kamar mandi tersebut, namun tak ada seorang pun di dalam shower room. Karena begitu penasaran ia pun mendekat dan membuka ruangan itu.
"Degh."
Batin Philip tersentak. Sebab lantai kamar mandi itu basah, seperti baru di gunakan. Tapi bagaimana mungkin Kala keluar dari kamar mandi dan berganti baju dengan begitu cepat. Dan lagi tadi ia berada di muka pintu itu, mustahil pergerakan anaknya sendiri tak ia ketahui.
Philip memejamkan mata dan menarik nafas dalam berkali-kali. Mungkin ia berhalusinasi pikirnya. Maka pria itu pun kini mendekat ke tempat tidur, lalu mencoba membangunkan Kala.
"Kala."
"Kal."
"Hmmm?" Kala membuka mata.
"Bangun nak, makan dulu ya. Tadi ayah bawa makanan untuk kamu."
Kala yang masih mengantuk itupun hanya diam. Namun tak lama ia mengangguk.
"Temen-temen Kala mana?" tanya nya kemudian.
"Ada, lagi pada makan." jawab Philip.
"Ya udah deh, Kala kesana aja." tukas remaja itu.
"Sana!" ujar Philip.
Kala mengangguk, sebelum itu ia pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Tak lama ia pun keluar dan menghampiri teman-temannya di meja makan. Mereka makan bersama, sementara Philip kini masuk ke dalam kamar.
Pria itu pergi mandi. Namun ketika ia masih berada di tengah-tengah aktivitas tersebut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Tok, tok, tok."
Philip diam dan mencoba mematikan shower. Ia mengambil handuk lalu melilitkan handuk tersebut di pinggangnya. Tak lama ia berjalan lalu membuka pintu. Ia pikir itu Kala, namun ternyata tak ada siapa-siapa disana.
__ADS_1