
"Kal, ntar malem jadi kan?"
Egan bertanya pada Kala di telpon, sesaat setelah pulang sekolah.
"Jadi, lo nanti datang duluan aja." ujar Kala.
"Ntar gue nyusul, soalnya gue mau nyuci baju dulu bentar." lanjutnya kemudian.
"Ok, ntar kabarin aja kalau lo udah jalan." ujar Egan lagi.
"Sip, ntar gue kabarin." jawab Kala.
Telpon tersebut pun di sudahi.
Malam harinya sesuai janji, Kala menyambangi rumah sakit tempat dimana ayahnya dan juga ayah Egan bekerja.
Mereka ada rencana untuk membuat malam Philip dan juga Enrico menjadi mistis. Mereka ingin agar Philip dan Enrico percaya pada hal-hal gaib.
"Kal."
Egan memangil Kala dari suatu arah, Kala pun langsung mendekat ke arah sana.
"Lo nggak diliat bokap lo atau bokap gue kan tadi?" tanya Egan pada remaja itu.
"Santai, gue udah liat kesana sini koq. Nggak ada tanda-tanda mereka." ujar Kala lagi.
Egan pun menghela nafas.
"Pokoknya rencana awal kita adalah masuk ke ruangan mereka berdua, dan kita pasang alat ini." Egan menunjukkan sebuah benda pada Kala.
"Ini apaan, speaker?" tanya Kala kemudian.
"Yoi." jawab Egan.
Speaker yang dimaksud itu berbentuk pipih, seperti mini waffle dan bisa di tempel dimana saja. Ukurannya seperti sebuah sleep ataupun nicotin patch.
"Nanti ini tersambung ke handphone, tinggal kita keluarin suara serem aja. Suaranya bakalan kedengaran di ruangan bokap lo, maupun ruangan bokap gue." ujar Egan lagi.
"Tapi gimana caranya kita bisa masuk ke sana, terus narok ini barang?" tanya Kala lagi.
"Gini, ntar gue telpon bokap gue. Biar dia keluar dari ruangannya. Kan di ruangan mereka berdua, sinyal handphone kadang nggak jelas tuh di situ. Ntar gue arahkan keluar, lo masuk. Lo tempel dimana aja nih benda. Yang kira-kira suaranya bisa terdengar, tapi nggak ketahuan." ujar Egan.
"Ok deh." Kala sepakat.
"Nanti gantian, kayak gitu juga ke bokap lo. Lo yang nelpon dia, gue yang masuk ke dalam ruangan dia." ujar Egan.
"Ok." jawab Kala lagi.
Maka keduanya pun memulai rencana mereka yang pertama. Mula-mula Egan menelpon Enrico.
"Pa."
"Iya Egan, kenapa?" jawab Enrico dari ruangannya.
"Pa Egan mau ngomong sesuatu."
__ADS_1
"Iya ngomong aja." jawab Enrico.
"Pa, hallo." Egan berpura-pura tak mendengar suara ayahnya.
"Iya ini papa, kamu kenapa?. Mau ngomong apa kamu?" tanya Enrico lagi.
"Suara papa kresek-kresek, kayak lagi di dalam air." seloroh Egan.
"Ya udah-ya udah bentar, papa keluar dulu."
Tampak Enrico pun keluar dari dalam ruangannya. Dari tempat dimana ia mengintai, Egan bisa melihat semua itu.
"Hallo Gan?"
"Hallo pa, papa masih kresek-kresek."
Enrico lebih menjauh lagi dari ruangannya. Egan memberi kode pada Kala untuk segera masuk ke ruangan Enrico. Dengan cepat meski mengendap-endap, ia pun berhasil masuk dan berhasil menempelkan speaker tipis tersebut di suatu titik.
"Egan kamu tuh mau ngomong apa sama papa?"
"Nggak, Egan cuma mau bilang kalau Egan lagi sama temen di luar."
"Oh ya udah, jangan pulang malam-malam ya."
"Iya pa, dah papa."
"Jangan ngerokok kamu, apalagi mabok."
"Iya pa, nggak. Udah dulu ya pa."
"Ok."
"Yes, tinggal ke bapak lo." ujar Egan.
"Ok." jawab Kala.
Mereka pun berpindah ke bangsal psikiatri. Ada beberapa perawat yang lalu-lalang, Kala serta Egan mesti sedikit menyelinap layaknya ninja.
"Sekarang lo telpon bapak lo, usahakan dia mau keluar dari ruangannya. Bilang aja sinyal jelek dan lo nggak bisa denger suara dia." Egan memberi saran.
Kala mengangguk, lalu kemudian ia agak menjauh dan mulai menelpon Philip.
"Hallo yah." ujar Kala.
"Iya Kala, ada apa?" tanya Philip pada anaknya itu.
"Yah, suara ayah nggak kedengaran." ujar Kala berpura-pura. Padahal ia masih bisa mendengar suara ayahnya itu, meski agak sedikit terganggu.
Philip yang paham jika sinyal di ruangannya tak terlalu bagus tersebut pun, kini membuka pintu dan keluar.
"Udah kedengaran belum?" tanya nya kemudian.
"Yah, ayah."
Kala seolah masih tak mendengar suara ayahnya. Philip kemudian semakin menjauh. Egan bergegas masuk ke ruangan Philip dan menempelkan speaker tersebut di bawah meja yang ada di ruang periksa pasien. Kemudian ia buru-buru keluar.
__ADS_1
"Kala?"
Kala mematikan telpon dan mengirim pesan singkat pada Philip.
"Sinyal ayah jelek, yah. Kala cuma mau ngabarin kalau Kala lagi sama Egan."
Begitulah bunyi pesan tersebut.
"Ok, tapi jangan aneh-aneh kamu. Jangan biarkan Egan naik kendaraan om Rico tanpa izin lagi."
"Iya yah."
Philip kembali ke ruangannya. Kala dan Egan kini bernafas lega sambil cekikikan di suatu sudut. Tak disangka semua semudah ini ternyata.
"Ok Kal, rencana kedua. Ini giliran lo." ujar Egan.
"Ok."
Kala dan Egan mencari sebuah spot yang sepi dan sedikit berada di pojokan. Tempat dimana jarang perawat yang lalu-lalang. Ditempat itu Kala membuka tas dan mengeluarkan sebuah laptop.
"Lo beneran bisa Kal?" tanya Egan pada Kala dengan nada sedikit ragu.
"Bisa, tenang aja." ujar Kala berusaha meyakinkan.
Kemudian remaja itu berkutat dengan laptop tersebut dan sangat fokus. Tak lama kemudian lampu di atas mereka hidup dan mati berulang kali.
"Ini kerjaan lo kan?" tanya Egan pada Kala. Kala pun tersenyum.
"Bocil bangsat lo emang." ujar Egan seraya tertawa.
Lampu yang hidup mati tersebut adalah ulah Kala. Ia bisa menghack dan menyabotase listrik yang ada di rumah sakit tersebut, dengan laptop yang ada di hadapannya.
"Jangan berlebihan Kal, ntar kita malah jadi tersangka lagi."
"Iya, gue cuma ngehack listrik di atas kita sama yang ruangan mereka berdua doang. Trojan nya juga batal gue kirim koq ke komputer mereka. Takut ada data pasien yang ilang atau apa. Kita takutin mereka pake suara sama lampu yang hidup-mati aja." ujar Kala.
"Ok deh, lagian kalau tengah malem kan udah nggak ada orang konsultasi lagi tuh." timpal Egan.
"Kita tungguin pas tengah malem apa lewat dikit nih?" tanya Kala.
"Agak lewat dikit lah. Soalnya kalau tepat tengah malem itu, bokap lo sama bokap gue biasanya masih pada makan di nasi goreng yang depan. Terus masih lumayan banyak juga perawat yang seliweran."
"Ok deh, berarti kita tunggu disini dulu aja kali ya." ujar Kala.
"Iya, disini aja dulu."
"Oh ya, ini gue bawa minuman sama roti." ujar Kala.
"Gue juga bawa sih." Egan turut mengeluarkan apa yang ia bawa, sama seperti Kala.
Kedua remaja itu lalu menunggu lewat tengah malam sambil makan dan berbincang.
"Handphone silent Kal, ntar mereka tau-tau nelpon kita. Bunyi lagi. Ntar ketahuan deh kalau kita lagi di rumah sakit ini juga. Mereka tuh biasa keliling ngeliatin keadaan atau sekitar." ujar Egan.
"Ok."
__ADS_1
Kala mengaktifkan mode silent di handphone nya. Jam masih menunjukkan pukul setengah 12 malam, itu artinya mereka masih memiliki waktu cukup panjang untuk menunggu.