Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Mencoba


__ADS_3

"Egan."


Enrico menghampiri Egan yang duduk di kursi depan ruang prakteknya. Saat ini adalah jam istirahat bagi dokter tersebut.


"Kamu udah lama nungguin papa?" tanya pria itu.


"Lumayan." jawab Egan.


"Sambil makan yuk, papa laper."


"Ok."


Egan mengikuti langkah ayahnya sampai ke kantin rumah sakit. Disana mereka memesan makanan dan minuman, lalu duduk pada sebuah tempat yang berada di pojokan.


"Kamu mau ngomong apa sama papa?. Tumben sampe datang kesini." ujar Enrico sambil makan.


"Papa harus bicara sama om Philip." ujar Egan.


"Mengenai?"


"Kala, pa."


"Kala kenapa? tanya Enrico.


"Dia..."


Egan menarik nafas.


"Dia mulai kesurupan, pa." lanjut remaja itu.


"Kesurupan?" Enrico mengerutkan keningnya.


"Iya, tadi waktu Andi mau nganter kita pulang."


Egan berdusta soal itu. Padahal sejatinya mereka baru kembali dari tempat paranormal. Namun demi menjaga agar Enrico tidak marah besar, ia mengatakan saja hal tersebut.


"Kenapa dia?" tanya Enrico lagi.


"Kala tiba-tiba ketawa sendiri, terus dia diem dan nunduk. Minta stop di jalan, katanya mau pipis. Terus pas udah stop, dia keluar. Dia mendadak lari kenceng banget, sampe Egan dan yang lainnya kualahan buat ngejar dia. Tiba-tiba ada bus lewat dan bus itu ngebut. Kala yang tadinya lari, malah belok mau nyebrang. Kayak mau bunuh diri."


Enrico menghentikan makan dan menatap lekat ke arah puteranya itu.


"Terus?" tanya nya cemas.


"Untung Egan cepet tangkap dia, dan itu dikit lagi kita ketabrak pa. Kalau Egan nggak tepat waktu."


Enrico menarik nafas lalu meminum air mineral yang ada di depannya.


"Kejadiannya tadi?" tanya nya kemudian.


"Iya." jawab Egan.


"Terus Kala nya sekarang dimana?" tanya Enrico lagi.


"Udah pulang, tapi lagi dijagain sama Andi dan yang lainnya. Takut kalau dia kesurupan lagi dan terjun dari apartemen." jawab Egan.


Enrico segera mengambil handphone dari dalam saku, kemudian ia pun menghubungi nomor Philip.


"Phil."


"Iya Ric." jawab Philip.


"Lo, udah istirahat?" tanya Enrico.

__ADS_1


"Ini baru mau keluar."


"Ke kantin sekarang, gue di pojok dekat yang jual gado-gado. Penting!"


"Ok, ok." jawab Philip.


Enrico menyudahi telpon tersebut, tak lama kemudian Philip tiba. Ia memesan makanan terlebih dahulu sebelum menyambangi Enrico di mejanya.


"Loh ada Egan." Philip sedikit kaget melihat Egan ada. disitu. Tadi dari jauh, ia tak begitu menyadari.


"Om." sapa Egan kemudian.


Philip memegang kepala remaja itu sejenak. Layaknya perlakuan ke anak sendiri.


"Phil, Egan mau ngomong soal Kala." ujar Enrico.


Philip lalu duduk diantara keduanya.


"Kenapa Kala dan dimana dia?" tanya Philip pada Egan.


"Bukannya tadi kalian bareng?" lanjutnya lagi.


"Iya om, tapi Kala udah pulang. Saat ini lagi dijagain sama Andi, Ben, Niko, dan Heru.


"Kenapa harus di jagain, emangnya Kala kenapa?" tanya Philip heran.


"Kala, tadi kesurupan om." jawab Egan.


"Kesurupan?"


Philip bertanya seraya menatap Egan, lalu menatap Enrico secara bergantian. Egan kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Kala. Philip sangat terkejut, ia kini terlihat begitu cemas dan melirik ke arah arlojinya. Masih ada jadwal praktek yang harus ia jalani setelah ini.


Kemudian pria itu meraih handphone dan mencoba menelpon Kala. Namun tak diangkat sama sekali.


"Ada nomornya Andi." jawab Egan.


"Coba telponin Andi, om mau bicara. Soalnya Kala nggak angkat telpon om."


"Ok."


Egan bergegas menelpon Andi dan untungnya diangkat oleh remaja itu.


"Ndi, ini ayahnya Kala mau ngomong." ujar Egan.


"Ok." jawab Andi.


Egan lalu menyerahkan handphonenya kepada Philip.


"Halo, Ndi"


"Iya om."


"Kala mana?" tanya Philip


"Lagi buang sampah ke janitor, sama Heru dan Niko." jawab Andi.


"Dia baik-baik aja kan?" tanya Philip lagi.


"Iya om baik koq."


"Om minta tolong boleh, Ndi?"


"Minta tolong apa om?" Andi balik bertanya.

__ADS_1


"Jagain Kala dulu sampe om pulang."


"Om udah denger ceritanya dari Egan?"


"Iya, om minta tolong ya Ndi."


"Iya om, nggak masalah koq. Andi sama yang lain udah izin juga ke orang tua."


"Ok, maaf ya Ndi jadi ngerepotin kalian. Om akan pulang setelah jam praktek selesai."


"Iya om."


"Kalian udah pada makan?"


"Udah om."


"Ya udah, makasih ya Ndi."


"Iya om, sama-sama."


Philip menyudahi telpon tersebut, dan kini ia terlihat kacau. Bahkan ia mendiamkan saja makanannya ketika makanan tersebut tiba di meja.


"Sampai terjadi apa-apa sama Kala, gue akan balas semua perbuatan jahat keluarganya Gayatri selama ini." Philip berkata dengan penuh kemarahan.


Enrico dan Egan memperhatikan pria itu.


"Lo harus segera ambil tindakan, sebelum makin parah." ujar Enrico.


"Trauma yang dialami Kala sejak kecil itu, bisa jadi lebih besar dari apa yang dia ceritakan ke kita." lanjutnya kemudian.


Philip memejamkan mata sejenak, seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Pa, om. Apa nggak sebaiknya kita obati Kala dengan cara lain juga." Egan yang masih remaja itu memberi saran.


"Pengobatan yang bagaimana, Egan?" tanya Enrico diikuti tatapan Philip.


"Ya alternatif kek misalnya, paranormal gitu."


Enrico menghela nafas.


"Egan, berapa kali papa bilang. Kondisi yang dialami Kala itu kondisi psikis dan medis."


"Tapi pa, apa salahnya kita mencoba. Papa sama om Philip belum ngeliat kesurupannya Kala itu kayak apa. Itu bahaya banget buat dia. Apa salahnya kita ngobatin di dengan banyak cara. Siapa tau ada yang bikin dia sembuh."


Enrico menatap Philip dan begitupun sebaliknya.


"Egan, percaya sama papa kamu dan om. Kami berdua akan berusaha menyembuhkan Kala." ujar Philip kemudian.


"Kalian tuh kenapa sih, nggak mau percaya banget sama anak yang punya kemampuan kayak Kala?"


Egan bertanya dengan nada lesu sekaligus kecewa. Sebab sedari tadi baik Enrico maupun Philip seolah tak percaya pada ucapannya.


"Egan, papa dan om Philip percaya kalau Kala benar mengalami hal yang kamu sebut kesurupan itu. Tapi itu adalah kondisi psikis dan juga medis. Om Philip belajar tentang itu dalam kuliah yang dia jalani selama ini. Kita nggak bisa secara serta-merta mengatakan seseorang itu kerasukan setan. Sementara dia punya begitu banyak trauma masa lalu."


Egan menunduk.


"Om tau kamu peduli sama Kala, om juga terima kasih karena kamu selalu mau jagain dia. Om janji akan berusaha menyembuhkan Kala, supaya dia bisa jadi anak yang normal dan diterima semua orang." Philip menimpali ucapan Enrico.


"Pokoknya yang penting Egan udah menyampaikan ke kalian. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Kala akibat kelalaian kalian, Egan nggak akan memaafkan kalian."


Philip dan Enrico kembali saling bersitatap satu sama lain.


"Kita janji." ujar Enrico.

__ADS_1


"Kala akan segera sembuh." lanjutnya kemudian.


__ADS_2