
"Kenapa sih pa, nggak ada yang percaya sama Egan?"
Egan marah ketika ia dan Enrico telah berada di dalam mobil. Tadi sempat Enrico meninggalkan remaja itu sejenak, untuk melanjutkan jadwal praktek yang masih tersisa. Tapi kini akhirnya mereka bisa pulang bersama.
"Gan, dunia gaib itu ada dan papa percaya. Sebab Tuhan kita aja nggak terlihat. Tapi mengenai makhluk tak kasat mata yang bisa mengganggu atau merasuki manusia itu belum tentu benar. Siapa tau setannya nggak ngapa-ngapain, tapi malah di tuduh merasuki oleh manusia. Manusianya ternyata sakit secara psikis dan medis."
Enrico menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas. Kini mereka bergerak meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
"Papa tau kamu kesal, karena baik papa maupun om Philip nggak percaya dengan hal semacam itu. Tapi nanti kalau kamu udah kuliah. Katanya kan kamu mau ngambil jurusan psikologi. Kamu akan tau kalau apa yang kamu anggap benar saat ini, adalah salah. Kamu nggak akan ngotot kayak gini lagi, percaya sama papa."
Egan menunduk, dalam hatinya ia masih sangat marah. Mengapa orang tuanya begitu keras dan kaku pada hal yang sebenarnya familiar di mata masyarakat Asia.
Bagaimana kalau pendapatnya benar, bagaimana jika Kala memang di rasuki makhluk astral. Apa yang akan terjadi padanya nanti jika tidak segera di tangani.
"Udahlah, kamu nggak usah khawatir. Om Philip tau cara menangani anaknya. Yang penting kamu jagain Kala, kalau kamu lagi sama dia." lanjut Enrico lagi.
Egan memilih untuk tetap bungkam dan menyimpan kekesalannya dalam hati. Karena jika ia ngotot melanjutkan perdebatan, maka hanya kekalahan yang akan ia terima.
***
Philip pulang di atas jam 8 malam hari itu. Ketika ia tiba Andi, Ben, Heru dan Niko tampak telah tertidur di sofa depan. Mereka terbangun oleh suara pintu yang dibuka oleh Philip.
"Sorry, sorry. Om ganggu kalian ya?" tanya Philip pada mereka.
"Nggak apa-apa koq om, kita udah mau pulang. Soalnya udah malem juga." jawab Andi.
"Kalau kalian mau nginep disini nggak apa-apa." ujar Philip lagi.
"Kita janji ke orang tua kalau kita pulang, om." Ben menimpali.
"Ya sudah kalau begitu, tapi makan dulu. Om bawain makanan buat kalian. Kala mana?"
__ADS_1
"Tidur di kamar." jawab Heru.
Maka Philip pun membuka pintu kamar anaknya. Ternyata tidak di kunci, namun Kala sendiri tidak ada. Philip bergerak ke arah pintu kamar mandi dan mencoba membukanya pula. Ternyata anak itu juga tidak ada di kamar mandi.
"Dia udah bangun?"
Philip kembali ke teman-teman Kala dan bertanya. Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka bergegas menuju kamar Kala dan memang Kala tidak ada di tempat itu.
Melihat teman-teman Kala yang tampak khawatir, Philip kini mulai mencari ke ruangan lain.
"Kala."
"Kal?"
Namun Kala tidak ada. Philip pun mengecek cctv ruangan dan melihat Kala yang sepertinya bergerak sambil tertidur. Ia lalu membuka pintu dan keluar. Philip pun ingat jika tadi ia masuk dalam keadaan pintu yang tidak terkunci.
Sontak saja ia dan teman-teman Kala langsung berhamburan dan mencari kesana kemari. Terutama di area tangga darurat. Namun Kala tidak ada.
Philip memikirkan kondisi terburuk. Ia memencet lift lalu naik ke lantai paling atas di apartemen tersebut. Ia mencari Kala di sana, namun Kala tidak ada. Ia juga melihat ke bawah kalau-kalau ada seorang anak yang terjatuh, namun tak ada tanda-tanda.
Maka dirinya segera pergi ke bawah, tepatnya bagian informasi untuk melapor pada sekuriti dan meminta rekaman CCTV. Teman-teman Kala pun turut turun ke bawah dan dua diantaranya langsung mencari ke sekitar.
"Pak tolong pak, anak saya tidur sambil berjalan pak. Tolong cek CCTV!" pinta Philip dengan sangat. Andi dan Ben ada di dekatnya. Sementara yang langsung mencari Kala.adalah Niko dan juga Heru.
Sekuriti pun mengecek CCTV. Kala terlihat keluar dari unit di menit-menit sebelum kepulangan ayahnya. Philip terkejut, begitupula dengan Ben dan juga Andi. Terlihat lift tersebut menuju ke atas.
Sekuriti segera mengecek lantai-perlantai. Ternyata Kala terlihat di satu lantai sebelum rooftop. Ia kini berada di tangga darurat menuju ke atas. Tadi Philip terlalu cepat turun, sebelum anak itu sampai.
Segera saja ia bergegas diikuti sekuriti, Ben dan juga Andi. Andi ada sempat menghubungi Heru dan juga Niko. Ia mengabarkan dimana Kala saat ini.
"Om maaf om, kita bener-bener nggak denger kalau Kala bangun dan keluar dari unit." Andi benar-benar merasa bersalah.
__ADS_1
Philip mengangguk, namun tak bisa menyembunyikan kepanikan serta kecemasan di wajahnya.
Lift tersebut sengaja dibuat naik terus dan tak berhenti. Dari dalam dan luar terlihat tanda darurat. Beberapa penghuni melihat hal tersebut dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi.
Ketika lift tiba di lantai paling atas. Mereka buru-buru berpindah ke tangga darurat untuk mencapai rooftop. Sebab lift hanya sampai ke lantai itu dan tak dibuat sampai ke rooftop.
"Braaak."
Pintu tangga darurat yang mengarah ke lantai paling atas tersebut terbuka. Mata Philip melihat kesana kemari dan tampak Kala tengah naik ke pinggir bibir gedung.
Dengan sekuat tenaga Philip berlari lalu menangkap tubuh anaknya itu. Tepat sesaat sebelum Kala menjatuhkan diri.
"Buuuk."
Philip terjatuh sambil memeluk anaknya ke bagian lantai rooftop. Kala tak terbangun sedikitpun, ia malah terlihat sangat nyenyak sekali. Sementara Philip tampak lemas dan berusaha menarik nafas. Pria itu bahkan hampir menangis saking takutnya terjadi apa-apa terhadap Kala..
Heru dan Niko tiba kemudian. Mereka sama lemasnya dengan Ben dan juga Andi yang kini seperti tak bisa berkata apa-apa lagi. Meski tak melihat secara langsung kejadian tadi, tapi mereka yakin bahwa Kala telah berada dalam situasi yang berbahaya.
Philip membawa tubuh anaknya kembali ke unit. Sekuriti akhirnya mengunci pintu yang mengarah ke tempat itu.
Namun tadi sebelum masuk ke pintu tangga darurat. Heru ada sempat melihat sebuah bayangan hitam melintas di belakang sekuriti.
Heru memperhatikan area rooftop itu secara seksama. Namun kemudian sekuriti menyuruhnya masuk, sebab pintu akan segera dikunci.
Beberapa saat berlalu, Kala terbangun dari tidurnya. Semua tampak biasa dan normal bagi remaja itu, namun ia kaget melihat Philip yang berada di sisi tempat tidur dan menatapnya dengan lemas.
Ia juga kaget melihat teman-temannya yang tampak terdiam lesu di pojok kamar. Bahkan Heru dan Niko terlihat membenamkan wajah mereka diantara kedua kaki yang tertekuk.
"Yah, kalian ngapain disini?" tanya Kala heran.
Philip menatap puteranya itu. Andi, Ben, Niko dan Heru juga melakukan hal yang sama. Membuat Kala semakin bingung.
__ADS_1