
"Gan, lo mau kemana?"
Kala bertanya pada Egan, di siang hari. Ketika melihat Pemuda yang baru pulang sekolah itu, kembali bersiap untuk pergi.
"Gue sama Chika dan Ferdi mau hunting lokasi, buat pemotretan hari minggu nanti."
"Kalian mau ada pemotretan lagi?" tanya Kala.
"Iya, ntar barengan nih sama komunitas ghost photography dari beberapa kota."
"Gue ikut dong." pinta Kala.
"Lo kan udah janji mau ketemuin gue sama Chika." lanjutnya kemudian.
"Ntar kalau papa tau gimana?. Yang tempo hari aja, gue dimarahin. Kalau ke tempat hangout kayak kafe atau tempat hits gitu, gue pasti ajakin lo. Tapi ini tempat serem, Kal. Kalau lo kenapa-kenapa lagi gimana?. Bisa di pepes gue sama bapak gue."
Kala sedikit terdiam dan menunduk, membuat Egan menjadi tidak tega.
"Ya udah deh, tapi janji jangan kesurupan."
"Iya, kalaupun gue kesurupan, gue nggak akan ngadu ke om Rico."
"Ya udah, ayo...!"
Kala sumringah, ia pun lalu mengambil tas dan handphone miliknya. Mereka berdua berjalan ke arah garasi.
"Bik."
"Iya mas."
Bik Marni mendekat ke garasi.
"Jangan bilang papa kalau Egan bawa mobil."
"Iya tapi hati-hati. Kalau kenapa-kenapa, nanti bibik yang dimarahi sama bapak."
"Iya." jawab Egan.
Bik Marni kembali ke dalam. Egan sempat menatap wanita tua itu cukup lama.
"Kenapa?" tanya Kala.
"Nggak, takut berubah." ujar Egan lalu tertawa.
Kala pun jadi ikut tertawa, tak lama kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
"Emang kita nggak apa-apa bawa mobil kayak gini?. Lo kan masih 16 tahun, Gan."
Kala berujar ketika mobil yang mereka kendarai telah keluar dari halaman rumah.
"Kalau ketahuan ya, pasti kenapa-kenapa lah. Apalagi ketahuan polantas. Tapi ya santai aja, diam-diam. Lo bisa bawa mobil?" tanya Egan.
Kala menggeleng.
"Ntar kapan-kapan gue ajarin." ujar Egan lagi.
Mobil mereka pun melaju kencang. Hingga dalam waktu yang tak begitu lama, keduanya bisa mencapai tujuan.
Tempat itu merupakan sebuah gedung, yang konon katanya adalah gedung bekas pembantaian.
Setelah memarkir mobil, Egan mengajak Kala untuk keluar. Mereka dihampiri oleh dua orang laki-laki dan perempuan.
"Kal, ini Ferdi, ini Chika."
Egan memperkenalkan kedua temannya.
"Hai, Ferdi."
"Kala."
"Ini yang lo ceritain?" Chika bertanya pada Egan, seraya menjabat tangan Kala.
"Iya." jawab Egan.
"Kal, Chika ini yang gue ceritain waktu itu. Yang gue bilang bisa ngeliat juga. Nah kalau Ferdi, dia bisa ngerasain hawanya suatu tempat. Ada atau nggak penunggunya."
"Oh, ok." jawab Kala.
"Ya udah kita pada ke penjaga gedungnya dulu yuk, minta izin." ujar Egan.
Mereka pun kemudian melangkah. Usai mendapatkan izin dari pihak penjaga gedung, mereka pun diperbolehkan untuk masuk.
Kesan pertama ketika masuk adalah, merinding. Padahal di bagian depan gedung itu tampak masih seperti biasa. Karena gedung itu adalah gedung peninggalan jaman revolusi, dimana pada saat itu terjadi pembantaian dimana-mana.
Gedung ini adalah bekas markas pemberontak, dan pernah dialihfungsikan sebagai kantor dan juga universitas. Namun kemudian tidak dipakai lagi. Universitas dan kantornya sudah pindah.
__ADS_1
Konon menurut cerita Egan, orang kantor dan anak kampus itu kerap diganggu. Maka dari itu pihak kampus dan kantor memindahkan lokasi mereka ke tempat lain.
"Lo ngeliat sesuatu nggak Kal." tanya Egan ketika mereka telah berada di lantai dua.
"Nggak, nggak ngeliat apa-apa." ujar Kala.
"Iyalah lo nggak ngeliat, orang dibelakang lo." Chika berujar.
Seketika bulu kuduk Kala pun merinding.
"Serius Chik, dia di belakang gue?" tanya Kala dengan wajah yang dipenuhi ketakutan. Namun remaja laki-laki berusia 15 tahun itu berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Serius, cewek." ujar Chika.
Egan dan Ferdi saling bersitatap satu sama lain.
"Nggak deng bohong." Chika mengaku sambil tertawa.
"Hhhh."
Kala menghela nafas, sambil memejamkan mata. Namun kemudian,
"Kal?"
Egan mendapati wajah Kala yang mendadak ketakutan. Egan tau Kala tidak sedang berpura-pura di hadapannya.
"Kala?"
"Di belakang lo, Gan."
"Kenapa?" tanya Egan mulai panik. Remaja itu kini dilanda ketakutan.
"Ada yang tergantung."
"Apaan Kala?"
"Gue nggak berani ngeliat ke atas, cuma kakinya doang yang keliatan."
"Beneran Chik?" tanya Egan.
Chika terlihat menarik nafas sambil menundukkan pandangan.
"Gan, gue belum pernah ngeliat yang seserem ini." ujar Chika.
Chika mengangguk.
"Sebaiknya kita pergi, jangan disini terus." ujar Ferdi.
"Gue ngerasain energinya Egan kesedot sama makhluk ini." lanjutnya.
"Ayo Gan."
Egan mengangguk, terlihat wajahnya berubah pucat. Tak lama mereka pun meninggalkan lantai tersebut dan menuju ke bawah.
Mereka semua beristirahat, sambil meminum air mineral. Egan pun sudah terlihat lebih baik.
"Gimana Gan, masih mau lanjut?" tanya Ferdi.
Egan mereguk air mineralnya sekali lagi dan mengangguk.
"Lanjut lah, udah disini. Sisa beberapa lantai lagi. Biar kita tau sekokoh apa lantainya, bahaya nya dimana aja. Jadi pas anak-anak nanti kumpul, kita nggak membahayakan mereka." ujar Egan.
"Iya sih." Ferdi menyetujui.
"Lo yakin?" tanya Kala pada Egan.
"Gue aja masih deg-degan loh ini." lanjutnya kemudian.
"Kan gue nggak ngeliat." jawab Egan sambil terkekeh.
"Yang ngeliat lo sama Chika." lanjutnya.
Kala melebarkan bibir, lalu menghela nafas.
"Ya udah deh, yang penting jangan pingsan aja lo." ujar Kala.
"Iya, males gue ngangkatnya." timpal Ferdi.
"Tendang aja udah, dari atas." Chika ikutan nimbrung.
Mereka pun lalu tertawa-tawa. Tak lama kemudian mereka lanjut meninjau lokasi.
***
"Egan."
__ADS_1
Tiba-tiba Enrico menelpon Egan, ketika ia masih berada di lokasi. Egan menempelkan jari telunjuk di bibir, agar teman-temannya tak bersuara.
"Iya pa." ujarnya kemudian.
"Kamu dimana?"
"Di, di kamar pa. Lagi main mobile Legends." Egan berdusta.
"Enemy has been slain."
Ferdi berujar, Egan menendang kaki temannya itu sambil menahan tawa.
"Beneran kamu nggak kemana-mana?"
"Telpon aja bik Marni di bawah kalau nggak percaya."
"Iya deh, papa percaya. Papa mau minta tolong dong."
"Tolong apa pa?"
"Bentar ini om Philip mau ngomong."
Enrico menyerahkan handphone pada Philip.
"Egan."
"Iya om."
"Kamu ke apartemen om, ambil map plastik warna biru di atas meja di, di kamar om. Bawa ke rumah sakit, kasih ke dokter Dani Salim."
"Lah terus Egan naik dan masuk pake apa?. Kan Egan nggak punya akses."
"Ada satu yang om titip di bagian informasi. Om udah telpon mereka, untuk kasih ke kamu."
"Oh ya udah, ntar Egan kesana deh."
"Agak buruan ya, nak. Soalnya penting."
"Iya om, ok, ok. Segera."
"Makasih ya."
"Iya om."
Philip menyudahi telpon tersebut, kebetulan mereka sudah selesai meninjau lokasi. Akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk pulang.
Usai saling berpamitan, Egan dan Kala masuk ke mobil. Mereka kemudian menyambangi apartemen milik Philip.
Philip dan Enrico tak menduga jika Egan akan mengajak Kala. Tadi juga keduanya lupa berpesan. Usai mendapat akses, Kala dan Egan bergegas masuk ke dalam lift.
Egan pun tak terpikir apa-apa. Ia hanya ingin segera menyelesaikan semua ini.
"Kita mau ngapain Gan?" tanya Kala.
"Ngambil file nya om Philip, buat dibawa ke rumah sakit."
Kala pun tak lagi bertanya.
Ketika pintu apartemen Philip dibuka, Kala sedikit takjub. Karena ternyata apartemen tersebut sangat besar. Ia baru melihat pertama kali, isi dalam sebuah apartemen mewah.
Sementara Egan santai saja, karena ayahnya juga memiliki apartemen. Egan langsung mencari kamar Philip. Sementara Kala melihat-lihat sekitar.
Remaja itu melangkah dari satu ruang ke ruang lain. Hingga kemudian, ia tiba di suatu ruangan yang membuatnya tersentak kaget.
"Ibu?"
Kala melihat ada foto ibunya sedang memeluk dan mencium Philip.
"Ah mungkin memang mereka berteman seakrab itu." pikir kala.
Sebab banyak persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang sampai sebegitu dekatnya. Kala berbalik arah, karena takut Egan mencarinya. Namun kemudian mata pemuda itu tertuju ke suatu arah. Tepatnya pada sebuah foto masa SMA seseorang.
Tubuh Kala gemetaran, sebab orang tersebut wajahnya sama persis dengan dirinya saat ini. Orang tersebut bukan dirinya, karena dua teman yang berpose dengannya tak ia kenal sama sekali. Namun kemudian salah satu dari wajah temannya itu bisa diingat oleh Kala.
"Ya, dia adalah Enrico. Ia pernah melihat foto Enrico masih remaja yang terpajang di salah satu dinding rumah."
Kalau salah satu remaja itu adalah Enrico, berarti yang berwajah sangat mirip dengannya itu adalah.
Hati Kala mendadak terpukul. Pantas saja setiap kali melihat Philip, ia merasa ada kemiripan dengan pria itu. Ternyata Philip adalah orang yang telah menelantarkan dirinya selama ini. Setidaknya itu yang ia dengar dari keluarganya selama ini.
"Kala."
Egan tiba di dekat Kala, saat remaja itu terpaku dengan tubuh yang gemetar. Ia mendekat, lalu melihat foto yang dipegang oleh Kala.
Seketika Egan pun terpukul, ia memang sudah tau siapa Philip. Tapi ia tidak mengira jika Kala akan mengetahuinya dengan cara ini.
__ADS_1