Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Kami Tau


__ADS_3

Pagi hari, kala terbangun dan merasakan tubuhnya sudah sedikit lebih baik. Kaki remaja itu pun tak terlalu sakit lagi seperti semalam.


Ia kemudian menarik nafas lega. Namun seketika ia terdiam, tatkala mendapati Philip yang masih tertidur lelap di sisinya.


Kala memperhatikan ayahnya itu secara seksama. Ada sejumput perasaan haru yang mendadak muncul di dalam hatinya. Namun kala buru-buru menepis hal tersebut.


Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Philip. Sesaat sebelum ia melangkah meninggalkan kamar. Kala pergi ke dapur membuat sarapan, tak lama Egan menelpon.


Kebetulan kala memang tak terlalu bisa lepas dari perangkat tersebut. Setiap bangun pagi yang ia cari dan bawa pertama kali, memang adalah handphone.


"Bro, lo sekolah kan nanti?" tanya Egan pada Kala. Sejatinya kala tak ingin sekolah dulu sampai kakinya benar-benar pulih.


"Kenapa emangnya?" tanya Kala pada temannya itu.


"Ada yang mau gue bicarakan sama lo." jawab Egan.


"Soal?"


"Ya soal kaki lo lah, mau sembuh cepet nggak?"


"Emang lo tau caranya gimana?"


"Makanya sekolah dulu, ntar kita bicarakan disini. Kalau ngomong sama bapak lo dan bapak gue mah, nggak akan ada ujungnya. Pasti berdebat terus."


"Ok deh, tapi gue mandi dulu." tukas Kala.


"Ok, ketemu di sekolah ya." ujar Egan.


"Ok."


Kala bergegas menyelesaikan pekerjaannya dalam membuat sarapan. Tak lama ia pun pergi mandi dan berpakaian.


Beberapa saat berlalu, Philip terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia melihat tubuhnya tertutup selimut dan mendapati Kala yang sudah tidak ada di dalam kamar.


Philip melirik jam dinding, ia terkejut karena ini sudah siang. Bukan perkara ia terlambat kerja, sebab ia sediri memiliki jadwal praktek di siang hari. Tapi ini adalah soal mengantar Kala ke sekolah. Maka pria itu pun bergegas keluar dan mencari Kala.


"Kala."


"Kal."


Anak itu sudah tidak ada. Bahkan Philip hanya menemukan dua piring sarapan yang tak tersentuh sama sekali di meja makan. Ia kemudian kembali ke kamar untuk meraih handphone dan mencoba menelpon Kala, tetapi anak itu tidak menjawab.


"Kala udah berangkat?"


Ia mengirim pesan singkat di WhatsApp. Cukup lama ia menunggu, sampai kemudian Kala pun membalas.


"Iya yah, udah siang soalnya."

__ADS_1


"Kenapa nggak bangunin ayah?" tanya nya lagi.


"Ayah tidurnya nyenyak banget." jawab Kala.


"Tadi kamu udah bangunin ayah?. Tapi ayah nggak denger gitu?"


"Nggak, emang nggak kala bangunin sama sekali."


"Kenapa?. Terus kamu sekolah naik apa?"


"Nggak tega, yah. Ayah kayaknya capek banget."


Mendadak tubuh Philip menjadi lemah, demi membaca hal tersebut. Perasaannya kini seperti di aduk-aduk. Ia tersenyum penuh haru, tak disangkanya jika ia bisa meraih hati Kala dengan cara yang sederhana.


"Kala naik ojek tadi." balas Kala lagi kepada Philip.


"Tapi udah sampai kan?" Lagi-lagi Philip bertanya.


"Udah yah, ini mau masuk."


"Kaki kamu?"'


"Udah mendingan ketimbang semalem."


"Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin ayah ya."


Kala menyudahi percakapan itu, sedang kini mata Philip kembali tertuju ke meja makan. Tepatnya pada sarapan yang tadi sudah dibuat oleh Kala.


"Degh."


Batin Philip berdetak, ia tiba-tiba teringat pada Gayatri. Ibu dari anaknya tersebut dulu sangat sering membuatkannya sarapan di pagi hari. Ketika mereka tengah tinggal bersama-sama.


Meskipun sarapannya seputar telur mata sapi yang sedikit gosong plus roti. Namun saat itu Philip merasa bahagia dan memiliki humor di pagi harinya.


"Kenapa sarapan bikinan aku di ketawain?. Aku susah payah loh bikinnya."


Itulah perkataan wajib yang keluar dari bibir Gayatri. Setiap kali Philip tertawa pada apa yang disediakan perempuan itu.


Sejatinya Gayatri memang tidak bisa memasak sama sekali. Namun ia ingin belajar menjadi perempuan yang melayani pasangan dengan baik. Maka Philip pun menikmati hal tersebut, walau begitu lawak dan membuat harinya penuh warna.


"Phil."


"Hah?"


Philip terkejut dan menoleh. Pasalnya ia mendengar suara tersebut tepat di telinganya yang sebelah kanan. Nafas Philip naik turun, dan tampak sedikit tersengal. Ia kini berjalan ke tempat dimana ia biasa menyimpan obat.


Philip lalu meraih obat tersebut dan meminumnya. Perlahan jantungnya yang berdegup kencang kini berangsur normal.

__ADS_1


Philip menarik nafas sekali lagi, dan mencoba menetralkan perasaannya. Ia begitu rindu pada Gayatri, sehingga ia seolah mendengar suara perempuan itu.


***


Jam istirahat tiba. Kala dan Egan berbicara berdua di sudut sekolah yang sepi. Hanya mereka berdua saja dan tidak ada siapapun disana.


"Ke paranormal?" tanya Kala pada Egan, ketika mendengar saran ide dari temannya itu.


"Iya, kemana lagi coba selain kesana. Medis nggak akan bisa membantu elo, kalau kejadiannya kayak gini." ujar Egan lagi.


"Tapi emang ngaruh atau ngefek gitu?" tanya Kala.


"Emang sebelum itu, lo nggak pernah coba konsultasiin kemampuan lo yang bisa melihat hal gaib gitu ke paranormal?" tanya Egan pada Kala.


"Nggak pernah." jawab Kala.


"Keluarga emak gue aja pada nggak ada yang percaya, kalau gue kayak gini. Sama aja kayak ayah, om Rico. Yang nggak percaya kalau gue bisa ngeliat hal begituan. Tapi bedanya ayah sama om Rico masih mau ngurusin gue. Karena mereka dokter, satunya Psikiater. Di rumah keluarga nyokap gue dulu mana ada, gue cuma di kasarin doang tanpa di kasih solusi. Apa mau ke psikiater atau paranormal, nggak pernah gue diajak berobat kemanapun. Gue cuma dianggap gila dan dipukuli terus hampir setiap hari."


Egan menarik nafas seraya memperhatikan Kala. Ada bulir bening yang tertahan di mata remaja itu, ketika Kala menceritakan hal tersebut. Terlihat jelas jika Kala sejatinya masih menyimpan trauma yang besar terhadap perlakuan dari keluarga mendiang ibunya.


"Sorry, gue udah ngingetin lo ke arah sana." Egan merasa begitu bersalah.


"It's ok." jawab Kala.


"Sekarang lo aman disini. Lo punya gue, papa, om Philip, dan teman-teman yang nerima elo."


Kala mengangguk.


"Tapi jangan sampe teman-teman gue tau. Gue takut dijauhi kayak dulu." ujar Kala.


"Pletak."


"Buuuk."


"Aaaaw, sakit bangsat."


"Elu sih."


"Elah berisik banget, gue ini yang ketimpa."


Beberapa orang terjatuh secara bersamaan di dekat Kala dan juga Egan. Akibat salah satu orang dari mereka tanpa sengaja menginjak potongan kayu. Sehingga menyebabkan tubuhnya menjadi oleng.


Kala dan Egan sangat terkejut, pasalnya mereka adalah teman sekelas Kala. Dan sudah pasti mereka mendengar obrolan antara Kala dan juga Egan sedari tadi. Sebab mereka sepertinya dari mengintip dan menguping semua isi pembicaraan yang berlangsung.


"Berdiri bego, malah diem aja."


Andi yang tertimpa kini menggerutu. Pasalnya ia tadi berada di paling depan, namun kini tertimpa teman-temannya.

__ADS_1


Mereka pun mulai berdiri dan membersihkan pakaian yang terkena debu akibat jatuh. Sementara wajah Kala begitu pucat, Egan kini khawatir pada Kala.


__ADS_2