Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Kembali


__ADS_3

Kala dan Egan masih di cekam ketakutan. Nafas Kala kini memburu, begitupula dengan Egan. Namun keduanya berusaha untuk sama-sama tak mengeluarkan suara. Sebab sosok yang mirip dengan Philip itu kini berjalan semakin mendekat ke arah keduanya.


"Tap, tap, tap."


Kala dan Egan menunduk seraya memejamkan mata. Sampai kemudian mereka benar-benar terkejut saat kembali membuka pandangan. Pasalnya sosok Philip itu wajahnya sudah ada di hadapan mata mereka.


"Haaaaa."


Kala dan Egan berteriak, lalu kedua remaja itu sama-sama keluar dari persembunyian dan berlari tak tentu arah.


"Ini pintunya dimana sih?"


Egan berteriak gusar sekaligus cemas dan masih dipenuhi ketakutan. Mereka kini panik karena merasa jika mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.


Kala menoleh kesana-kemari, dengan nafas yang juga terasa putus-putus. Remaja itu mencoba mencari dimana jalan keluar.


Tiba-tiba terdengar seperti orang berlari dari arah belakang. Kala dan Egan menoleh namun tak ada siapa-siapa di sana. Lalu sebuah bola mendarat di kaki Kala, Egan ingat bola ini tadi sempat muncul ketika ia masih berada di dalam.


"Kak main yuk...!"


Sebuah suara tanpa rupa terdengar, Kala dan Egan kembali berlari meski sejatinya mereka sudah sangat lelah.


"Buuuk." Kala terjatuh.


"Kala?"


Egan yang berlari terlebih dahulu akhirnya berhenti dan menoleh ke belakang. Tampak Kala meringis kesakitan karena kakinya terkilir.


"Kal, lo masih bisa berdiri nggak?" tanya Egan cemas.


Kala mengangguk dan mereka kini berusaha. Kala berusaha berdiri dan Egan berusaha membantu temannya itu.


"Tap, tap, tap."


Sebuah langkah horor kembali terdengar. Saat ini Egan telah berhasil membantu Kala untuk kembali berdiri.


Tiba-tiba sosok mirip Enrico muncul di hadapan mereka, dengan wajah dingin yang menyeramkan. Secara serta merta sosok itu melangkah lebih cepat bahkan nyaris berlari ke arah mereka. Kala dan Egan berteriak, lalu sama-sama berlari. Egan tetap memapah Kala yang kakinya masih terasa sakit tersebut.


"Hhhhh."


"Hhhhh."


"Hhhhh."


Kala dan Egan berhenti di suatu titik, sebab nafas mereka jadi sedemikian pendek serta tersengal. Mereka benar-benar butuh istirahat, namun baru saja mereka mendapatkan sedikit udara. Tiba-tiba sosok Philip yang gantian muncul di hadapan keduanya.


Sontak mereka pun kembali berlari, apalagi tak lama setelah itu muncul lagi sosok anak kecil, wanita berbaju putih yang melayang, suster yang tampak mengesot di salah satu koridor dan juga tempat tidur yang terdorong dengan sendirinya.


Kala dan Egan terus berteriak dalam ketakutan dan kepanikan, sampai kemudian dua orang sekuriti tampak memanggil mereka dari arah pintu pagar.

__ADS_1


"Hei sini...!"


Sekuriti tersebut berujar, Kala dan Egan berlarian ke arah sana dan mereka berhasil keluar.


"Kalian ngapain sih disini malam-malam begini?. Sudah tau ini bekas rumah sakit dan terkenal angker."


Salah seorang sekuriti tersebut memarahi mereka. Disitulah Kala dan Egan menoleh dan kemudian menyadari, jika mereka tadi telah masuk ke rumah sakit yang salah. Rumah sakit tempat dimana Philip dan Enrico berkerja, ada sekitar 300 meter dari situ. Sedang rumah sakit yang ada di belakang mereka tampak tua dan usang di makan usia.


"Sana, jalan. Kalian pasti mau ke rumah sakit yang di sana kan?" ujar salah satu dari sekuriti itu lagi.


"Iya pak." jawab Egan masih mengatur nafas.


"Ayo, Kal...!" ajak remaja itu kemudian.


Kala mengangguk, keduanya kini melangkah. Egan masih memapah Kala. Namun ketika beberapa langkah telah mereka ambil, mereka mulai menyadari sesuatu.


Ya, seragam sekuriti itu seperti seragam lama dan kotor. Nafas Kala dan Egan semakin memburu. Tak lama kemudian keduanya pun menoleh.


Tampak kedua sekuriti tersebut telah membelakangi mereka, namun kemudian mereka menoleh dengan memperlihatkan wajah mereka yang hitam gosong seperti habis terbakar.


"Haaaaa."


"Kala dan Egan kembali berteriak, mereka kemudian sama-sama berlari dan sampailah mereka di muka rumah sakit yang sebenarnya.


Kala terjatuh di depan gerbang, karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang mendera di kakinya. Beruntung saat itu ada salah satu rekan kerja Philip dan Enrico yang mendapati mereka. Kala dan Egan pun di bawa ke instalasi gawat darurat, untuk diberikan pertolongan.


Di rumah.


Beberapa saat setelah kejadian itu berlangsung. Enrico tampak cemas, ia berada di telpon dan berbicara pada Philip yang juga tak kalah khawatirnya.


"Phil ini anak-anak kemana ya?" tanya Enrico pada Philip.


Keduanya tadi sempat bertukar pesan lewat WhatsApp dan saling mempertanyakan keberadaan anak mereka.


"Gue juga bingung, Ric. Terakhir tadi Kala bilang dia sama Egan." jawab Philip.


"Tapi tadi Egan bilang dia lagi sama temannya. Nggak tau temannya yang mana."


"Lo ada kontak temanya nggak?" tanya Philip.


"Ada sih beberapa."


"Ya udah, lo hubungi dulu. Gue akan coba telpon lagi mereka berdua, mudah-mudahan di angkat."


"Ok." jawab Enrico.


Lalu panggilan telpon tersebut pun disudahi. Enrico mulai mencoba menghubungi nomor teman-teman Egan yang ia ketahui. Namun tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Egan.


Sementara di kediamannya Philip terus mencoba menghubungi Kala dan Egan. Ia juga mengirimkan pesan singkat di WhatsApp berkali-kali pada kedua remaja itu.

__ADS_1


"Please kabarin ayah kalau kamu baca ini, ayah khawatir banget sama kamu."


Itu adalah bunyi pesan yang ia kirim untuk Kala. Sedang pada Egan, ia menyuruh anak itu untuk segera menelpon Enrico.


"Phil."


Enrico kembali menelpon Philip, kali ini nada suaranya lebih cemas ketimbang tadi.


"Iya Ric, gimana?" tanya Philip pada Enrico.


"Teman-temannya nggak ada yang tau Phil, gue khawatir banget sama mereka. Takutnya mereka kenapa-kenapa."


"Ok, ok. Gini aja, gue akan cari mereka sekarang dimana pun itu." ujar Philip.


Pria itu bergegas mencari kunci mobil.


"Gue juga ikut." ujar Enrico seraya mengambil kunci mobil yang masih terletak di atas meja.


"Ntar berkabar aja di jalan." ujar Philip.


"Ok."


Baru saja keduanya hendak bergegas, tiba-tiba. Kala dan Egan sudah muncul di pintu depan.


"Kala, dari mana aja kamu?"


Philip yang khawatir langsung memeluk anaknya. Hal yang sama juga terjadi pada Egan. Saat remaja itu masuk, Enrico secara serta merta memeluknya.


"Kamu itu kemana aja sih?. Bikin orang tua jadi khawatir tau nggak?"


Kala dan Egan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Mereka juga sudah berpesan pada. teman Philip dan Enrico di rumah sakit tadi, agar dokter itu tak mengatakan apa-apa pada ayah mereka.


"Maaf yah, handphone Kala mati. Nggak bawa power bank." ujar Kala.


Egan pun mengemukakan alasan yang sama.


"Dari mana kamu tadi?" tanya Philip pada Kala.


"Dari tempat temen kita, yah. Anak sekolah lain."


Egan pun sama saja dengan Kala. Ketika ditanya ia mengatakan habis dari rumah temannya.


"Ya sudah mandi sana, abis itu makan."


Philip dan Enrico sama-sama menyuruh anak mereka mandi dan juga makan.


"Iya yah."


Kala menjawab lalu masuk ke dalam kamar. Sedang kini Egan menaiki tangga di rumahnya, untuk menuju ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2