Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Sidang


__ADS_3

"Kenapa lo nggak bilang, kalau lo bisa ngeliat begituan?"


Andi bertanya pada Kala. Diikuti tatapan mata teman-teman Kala yang lain. Sementara remaja itu hanya diam dan membuang pandangannya ke suatu sudut.


Egan sendiri masih setia mendampingi, walau kini Kala tengah di sidang oleh teman-temannya di sebuah ruang kelas yang kosong.


"Nggak semua orang bisa ngerti dengan kondisi gue."


Kala mulai bersuara, sambil menolehkan tatapan ke arah teman-temannya itu.


"Bokap gue pun nggak percaya dengan apa yang gue alami. Gimana gue bisa mengatakan itu semua ke kalian?. Dulu di tempat gue yang lama, gue di jauhi bahkan nggak ada yang mau temenan sama gue. Karena gue dianggap aneh."


Andi dan teman-teman Kala yang lain menatap ke arah remaja itu. Sedang Egan terlihat menghela nafas dan menundukkan mata ke arah lantai. Ia belum akan menengahi, dan hanya memberikan ruang bagi mereka semua untuk bicara.


"Kita kan bukan temen-temen lo yang disana." Ben menjawab ucapan Kala.


"Bener, Kal. Lo nggak bisa menyamaratakan orang." Timpal Niko.


"Justru seru anjir, punya temen yang bisa ngeliat setan. Kan gue jadi tau, kalau ada setan di dekat gue." Heru ikut-ikutan bersuara.


"Dibelakang lo tuh." ujar Andi.


"Huaaa."


Heru melompat ketakutan, hingga membuat mereka semua tertawa.


"Eh tapi tadi kita denger lo sama Egan ngomongin soal paranormal." ujar Ben.


"Ngapain lo berdua mau ke sana?" tanya nya lagi.


Kala melirik ke arah Egan, kebetulan Egan pun tengah melihat ke arah mereka semua.


"Kakinya Kala yang kanan itu sakit, gara-gara kita nyasar ke rumah sakit terbengkalai." ujar Egan.


"Udah di obatin ke dokter. Dokter bilang Kala tuh nggak apa-apa, harusnya nggak sesakit itu yang dia rasakan. Tapi Kala bilang kakinya itu sakit banget. Nah si Chika bilang, di kaki Kala itu ada makhluk yang nempel."


"Hah, beneran Kal?" tanya mereka semua secara serentak. Mereka kini memperhatikan kaki Kala.


"Kata Chika sih iya, tapi gue sendiri nggak ngeliat apa-apa dan nggak tau kenapa. Cuma semalem gue..."


Kala menjeda ucapannya dan mengingat kejadian semalam. Bahkan Egan pun belum ia beritahu mengenai hal tersebut.


"Kenapa semalem?" tanya Andi penasaran. Teman-temannya yang lain pun sama menunggu penjelasan lebih lanjut.


"Semalem pas gue nggak sengaja kebangun dari tidur. Gue ngeliat ada sosok item kayak berbulu gitu, duduk di kaki gue. Pas gue teriak, ayah gue dateng dan ngidupin lampu. Itu makhluk udah kagak ada."


Egan mendengarkan semua itu, sementara teman-teman Kala yang lain tampak sama-sama terperangah.


"Serius Kal?" tanya Heru sambil memegangi tengkuknya. Ia merinding mendengar semua itu.

__ADS_1


"Serius gue." jawab Kala.


"Eh si Chika itu emang bisa ngeliat juga?" tanya Niko sambil menatap Egan.


"Iya, dari kecil dia mah." jawab Egan.


"Terus ini rencananya kalian mau ke paranormal gitu?" tanya Andi lagi.


"Iya, abis mau gimana Ndi. Kala nggak akan sembuh kalau cuma di obati secara medis doang. Ini tuh dia ketempelan di bekas rumah sakit itu."


"Lagian lo berdua ngapain sih kesana, uji nyali gitu?" Heru yang penakut semakin penasaran.


Kala menghela nafas.


"Gue sama Egan tuh pengen nakutin bokap gue dan bokapnya dia, ditempat kerjaan mereka. Supaya mereka percaya sama hal gaib."


Ia mulai memberi penjelasan dan teman-temannya kini fokus mendengarkan.


"Sebelum itu gue sama Kala ada kecelakaan, kita lewat jalan alternatif karena macet. Dan dijalan itu kita nabrak cewek. Pas kita keluar cewek itu nggak ada, padahal gue kerasa banget kalau udah ngelindes dia." ujar Egan.


"Anjir, merinding gue." ujar Niko.


"Sama." timpal Ben.


Andi dan Heru juga merasakan hal serupa, namun Andi memilih kalem dan Heru memegangi tangannya sendir, karena bulu-bulu di tempat itu mendadak berdiri.


"Nggak ada sama sekali. Gue cek juga di sekitar, nggak ada. Akhirnya jalan lagi lah kita, tapi nggak sampe-sampe ke ujung jalan. Malah balik lagi, balik lagi. Nabrak lagi, ngelindes lagi."


"Anjir."


Ben dan Niko berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Sedang Heru kini menyentuh bahu Andi saking takutnya.


"Terus gimana akhirnya kalian bisa keluar?" tanya Andi.


"Tiba-tiba mobil mogok dan gue sama Egan pingsan pada akhirnya. Karena pas mogok itu, mobil kita kayak ada yang mengguncang dengan keras. Pokoknya kayak gempa bumi lah di dalam itu." timpal Kala.


"Kita pingsan, tau-tau udah di rumah sakit." lanjutnya lagi.


"Dan hasil CCTV menunjukkan kalau gue sama Kala itu jalan ngebut, terus nabrak pohon." ujar Egan.


"Keliatan nggak adegan berulang yang kalian nabrak orang itu?" tanya Heru.


"Nggak." Kala dan Egan menjawab di waktu yang nyaris bersamaan.


"Kita cuma nabrak sekali dan itu nabrak pohon bukan orang." ujar Kala.


"Lah terus kalau kalian berdua sama-sama mengalami. Berarti lo bisa ngeliat hantu juga dong, Gan?" tanya Andi.


"Nggak bisa tadinya. Pas sama Kala ini aja gue mengalami hal-hal aneh."

__ADS_1


"Terus yang di rumah sakit terbengkalai itu?" tanya Ben.


"Ya kayak yang tadi Kala bilang. Gue itu sama Kala mau nakutin bokap gue dan bokapnya dia. Supaya mereka percaya sama dunia gaib. Tapi ternyata gue sama Kala masuk ke rumah sakit yang salah."


"Koq bisa?"


Kali ini Niko lagi yang bertanya.


"Ya dalam penglihatan kita, itu rumah sakit adalah tempat dimana bokap gue dan bokapnya Egan kerja." ujar Kala.


"Kita udah ngerjain bokap gue, bokapnya Egan. Tapi ternyata kita ada di tempat yang berbeda. Dan apa yang kita lihat sebagai sosok bokap gue dan bokapnya Egan itu ya, makhluk-makhluk itu." lanjutnya kemudian.


"Anjrit, makin merinding gue." Heru terus mengusap-usap kedua lengannya.


"Parah sih." ujar Ben.


"Kalian bisa keluar dari situ gimana?" tanya Andi lagi.


"Di tolong sama sekuriti." jawab Egan.


"Tapi pas setelah kita keluar, tenyata sekuritinya juga gaib." lanjut pemuda itu.


"Bangsat."


Andi sepertinya mulai goyah dalam pertahanan. Sejak tadi hanya dirinya yang bersikap cukup santai. Namun mendengar soal sekuriti itu, ia jadi agak sedikit ngeri.


"Nah dari situlah kaki Kala tuh mulai sakit." ujar Egan lagi.


"Berarti ini makhluk masih ada di kaki lo nih Kal?" tanya Heru.


"Udah pindah ke punggung lo, nempel." ujar Andi.


"Lu mah parah Ndi. Gue takut, anjir." Seloroh Heru.


Mereka semua tertawa-tawa, meski masih berada dalam keadaan horor.


"Gue punya Kal, kenalan paranormal. Apa lo berdua mau kesana?" tanya Andi pada Kala dan juga Egan.


"Jauh nggak?" Kala balik bertanya.


"Kagak, gue bisa anterin koq." ujar Andi lagi.


"Gue ikut." ujar Heru.


"Gue juga."


"Gue juga."


Ben dan Niko tak mau ketinggalan. Kala kini menatap Egan dan Egan pun akhirnya mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2