
"Kenapa kamu lakukan ini sama papa?. Kenapa mesti bunuh diri?. Lantai dua rumah kita itu tinggi, Egan. Kalau sampai kepala kamu yang jatuh duluan, papa nggak bisa membayangkan kondisi kamu saat ini."
Enrico berkata dengan nada yang sangat menyayangkan tindakan sang anak. Saat ini Egan telah berada di ruang rawat rumah sakit, dan sudah mendapatkan penanganan. Kakinya juga sudah di pasang gift.
"Egan nggak tau pa, Egan pikir Egan tidur."
Enrico menatap anaknya itu lekat-lekat.
"Maksud kamu, kamu nggak sadar kalau melakukan hal tersebut?"
Egan menatap Enrico dan mengangguk. Enrico tak melihat satu kebohongan pun di mata anaknya itu.
"Hhhh."
Ia menghela nafas cukup panjang. Mata pria itu berkaca-kaca menahan tangis. Tak lama kemudian Philip pun muncul.
"Ric."
"Phil."
Keduanya saling bertatapan.
"Egan kondisi kamu gimana nak?" tanya Philip pada anak itu.
"Ya, gini deh om. Kata dokter Egan bakalan lama nggak bisa jalan."
Philip menghela nafas panjang.
"Gimana ceritanya sih?" tanya nya kemudian.
Enrico kini menatap Egan, sama halnya seperti Philip. Egan lalu menceritakan jika saat itu dirinya merasa seperti tengah tidur. Kemudian terbangun akibat hentakan tubuhnya yang mengenai sofa dan kakinya yang tiba-tiba patah.
Ia sama sekali tak mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi. Philip terus mendengarkan dan bertanya mengenai beberapa hal.
Sampai kemudian ditarik kesimpulan bahwa Egan kemungkinan mengalami hal yang sama seperti Heru. Yakni possession trance disorder, atau lazimnya di sebut kesurupan.
"Penyebabnya apa Phil?"
Enrico bertanya ketika ia dan Philip telah keluar dari kamar tempat dimana Egan dirawat. Saat ini sudah ada Kala dan Heru yang menemani anak itu. Kebetulan Kala dan Heru diizinkan oleh dokter yang menangani untuk bertemu Egan.
"Mungkin lo marahin dia terlalu keras. Sehingga muncul keinginan dalam dirinya untuk tidak berada di tempat itu. Dia mencoba lari dari kenyataan, tapi itu hanya berada dalam pikirannya sendiri. Sehingga dia mengalami hilangnya kesadaran secara penuh."
Enrico menghela nafas, jujur ia merasa sangat bersalah sekali.
"Gue emang keras banget marahin dia kali ini. Gue tuh kesel, Phil. Dia nggak bisa dibilangin. Kalau terjadi sesuatu yang lebih fatal gimana?. Ritual-ritual kayak gitu tuh banyak loh kadang memakan korban. Entahlah si pesertanya mengalami hal kayak tadi, bisa saling menyakiti satu sama lain."
"Iya, gue paham koq. Permasalahan ini juga ada di Kala. Gue akan jaga dia lebih baik lagi biar nggak membahayakan orang lain." ujar Philip.
Lalu kedua sahabat itu kini sama-sama terdiam.
__ADS_1
***
"Ayah, Kala pengen pulang aja ke rumah keluarganya ibu."
Kala berkata pada Philip ketika ia telah kembali ke kamar rawat.
"Loh, kenapa?" tanya Philip kemudian.
"Disana Kala nggak punya temen sama sekali. Kala lebih baik kayak gitu yah, daripada harus mengorbankan orang-orang yang udah mau berteman dengan Kala."
"Kamu ini ngomong apa sih?. Nggak ada yang menyalahkan kamu dalam hal ini."
"Tapi tetap aja Kala merasa nggak enak. Kemaren Heru kesurupan, hari ini Egan patah kakinya, besok dan lusa apa lagi, siapa lagi?"
Philip menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia duduk di pinggiran tempat tidur dan ditatapnya mata Kala dalam-dalam. Kemudian ia menarik anak itu ke dalam pelukannya.
"Ayah disini, ayah akan selalu ada buat kamu. Ayah janji kamu akan sembuh, nggak akan kayak gini lagi."
Kala membalas pelukan Philip. Bahkan ini kali pertamanya mereka berpelukan dalam perasaan yang begitu emosional.
"Maafin Kala, yah."
"Kamu nggak perlu minta maaf, ini semua bukan salah kamu. Ini diluar kendali kita semua."
Philip melepaskan pelukan dan kembali menatap Kala.
"Yang kita perlukan saat ini hanyalah keberanian. Kita harus berani menghadapi dan bekerja sama. Supaya masalah ini bisa dengan segera kita atasi."
"Ayah nggak benci kamu, Kala. Justru kalau kamu pergi, ayah jadi sendirian. Ibu kamu udah nggak ada, sekarang keluarga ayah marah sama ayah. Kalau kamu juga pergi, nanti ayah sama siapa?"
Kala makin mempererat pelukannya terhadap sang ayah. Begitu juga dengan Philip.
***
"Faraz."
"Faraz."
"Hah."
Faraz kaget dan terbangun di tengah malam yang sunyi. Entah mimpi atau apa, tapi ia yakin beberapa saat yang lalu telah mendengar suara seroang perempuan di telinganya.
"Wuuuz."
Terlihat gorden di kamar remaja itu berterbangan. Ternyata kaca jendela ke arah balkon terbuka. Padahal ia ingat betul sudah menutup dan menguncinya sebelum tidur.
"Wuuuz."
Faraz mendekat lalu menutup dan mengunci kaca jendela tersebut. Ditutupnya pula kembali gorden yang sempat terbuka karena tertiup angin.
__ADS_1
"Sreeek."
Gorden yang ditarik itu pun berbunyi. Namun tiba-tiba saja di tengah-tengah gorden membentuk sesosok seperti orang yang tengah berdiri. Faraz mendadak kaget dan langsung menyibak gorden itu kembali.
"Sreeek."
Ternyata tidak ada apa-apa disana. Faraz menarik nafas dalam-dalam, ia sudah ketakutan setengah mati. Kini ia berbalik menuju ke tempat tidur.
"Hihihi."
Terdengar suara perempuan tertawa cekikikan dari arah belakang. Faraz refleks menoleh dan terlihatlah sesosok perempuan berambut panjang disana. Wajah perempuan itu bahkan rata.
"Haaaaaa."
Faraz yang ketakutan berlari sekuat tenaga dan keluar dari dalam kamar, teriakannya memecah keheningan malam. Membuat beberapa orang penghuni rumah terjaga secara bersamaan.
"Haaaaaa."
"Haaaaaa."
Ia terus berlari, meniti anak tangga dan terus menoleh ke arah belakang. Sampai kemudian...
"Braaak."
Remaja itu jatuh menggelinding di tangga. Kepalanya membentur lantai, lalu kesadarannya pun perlahan hilang.
Beberapa saat berlalu, kedua orang tua dan asisten rumah tangga di rumahnya bangun. Mereka menemukan Faraz dalam kondisi pelipis berdarah serta pingsan.
Seisi rumah pun histeris dan langsung melarikan Faraz ke rumah sakit saat itu juga.
***
"Kalau nanti anak gue lahir, misalkan gue mati. Tolong jaga dia buat gue."
Enrico mengingat saat-saat terakhirnya dengan Joan, ayah kandung Egan. Sebelum akhirnya penyakit yang ia derita merenggut nyawanya.
"Lo kenapa putus asa gitu sih?. Kan lo bisa berobat ke luar negri. Warisan dari orang tua lo banyak, Jo."
Enrico berusaha membujuk Joan. Di saat-saat terakhirnya Joan menolak untuk diberikan pengobatan lebih lanjut.
"Percuma bro, ngobatin kanker itu capek doang. Ujungnya tetap akan mati."
"Lo terlalu pesimis. Banyak koq survivor kanker yang berhasil melewati masa suram mereka."
Enrico terlihat sangat sedih saat itu.
"Daripada uangnya habis, mending gue tinggalkan untuk anak gue nanti. Walaupun nggak terlalu banyak, setidaknya gue nggak jadi bapak yang mati-mati doang. Tanpa meninggalkan apapun untuk dia."
Air mata Enrico mengalir saat itu, bahkan hingga detik ini. Ia memandangi Egan dari ujung tempat tidur. Hati pria itu seperti di cabik-cabik.
__ADS_1
"Maafin gue, Joe. Kali ini gue gagal mencegah dia celaka." ujarnya kemudian.