Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Move


__ADS_3

Kala menjalani pemeriksaan pada keesokan harinya di rumah sakit. Philip meminta pada rekan sesama dokter, untuk memeriksa kondisi anaknya tersebut secara menyeluruh.


Awalnya rekan sejawat terkejut mendengar Philip sudah memiliki anak sebesar itu, padahal selama ini ia belum menikah sama sekali. Namun Philip dengan jujur mengakui kesalahannya di masa lalu.


Rekan-rekan Philip pun akhirnya mengerti dan mereka tak ambil pusing. Toh itu adalah urusan pribadi Philip, yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Mereka kemudian membantu secara profesional.


"Secara fisik dia nggak apa-apa."


Enrico berujar usai melihat laporan medical checkup milik Kala. Ini terjadi setelah beberapa jam pemeriksaan usai.


"Ya, dia baik-baik aja." jawab Philip.


"Tapi lo liat kan kondisi kejiwaannya?" tanya Enrico.


Philip menghela nafas lalu mengangguk. Ia teringat pembicaraannya dengan Kala semalam. Itu terjadi usai Kala histeris dan membanting semua barang ke arah gorden. Sebelum anak itu akhirnya terlelap dalam pengawasan.


"Kamu kenapa tadi, Kala?"


Begitulah bunyi pertanyaan Philip malam itu. Kala sudah setengah terbaring di tempat tidur, Philip juga sudah menyelimuti sebagian tubuh anaknya itu agar ia merasa hangat dan tenang.


"Ada orang di balik gorden." jawab Kala sambil menunduk. Enrico menoleh ke arah gorden kamar dan tak ada siapa-siapa di sana.


"Sekarang masih?" tanya nya lagi.


Kala menggelengkan kepala, meski masih menunduk.


"Boleh ayah tau wujudnya gimana?"


"Kala nggak tau, dia ketutup gorden." jawab Kala.


Enrico menghela nafas lalu memegang kepala anaknya itu. Meski Kala agak menghindar dan menarik kepalanya agar sedikit menjauh. Ia masih belum nyaman pada Philip.


"Ya sudah kamu tidur sekarang."


Kala diam dan tak bergeming.


"Kala?"


"Kala takut." ujar anak itu kemudian.


"Ayah disini, ayah akan jaga kamu."


Remaja itu lalu beralih posisi, dari setengah duduk menjadi rebah sepenuhnya. Lalu ia coba memejamkan matanya.


***


"Jadi Kala nggak akan tinggal sama kita lagi, pa?"

__ADS_1


Egan bertanya pada Enrico dengan nada penuh kekecewaan. Sore itu ia diberitahu jika Philip akan membawa Kala untuk tinggal bersamanya.


"Iya, dia akan tinggal sama om Philip." jawab Enrico.


"Yah, nggak seru. Egan nggak punya temen main game online lagi dong kalau malam."


"Kan mainnya online, masih bisa terhubung dimana pun." ujar Enrico.


"Tetap aja, Pa. Kalau papa lagi dinas malam tuh, Kala nolong banget biar Egan nggak bete. Egan jadi punya temen sharing, mabar, cerita hal-hal seru."


"Kamu bakal ketemu Kala setiap hari koq. Dia akan sekolah di sekolah kamu."


"Oh ya?"


Egan mendadak sumringah. Ekspresi wajahnya langsung split seperti orang berkepribadian ganda. Enrico sedikit tertawa melihat semua itu. Kadang tingkah Egan mengingatkan kembali Enrico pada mendiang sahabatnya Joan, yakni ayah kandung Egan. Egan benar-benar adalah fotokopian Joan. Cara dia bicara, tertawa, marah, dan lain sebagainya. Sangat mirip sekali dengan Joan.


"Iya, mulai besok Kala akan jadi adik kelas kamu."


Egan pun tersenyum dan bernafas dengan lega. Setidaknya mereka masih bisa membicarakan tentang hantu, yang menjadi salah satu minat Egan.


Tiba-tiba Philip dan Kala sudah terlihat menuruni anak tangga. Tadi Philip membantu anaknya itu membereskan barang.


"Sekarang banget om, pulangnya?" tanya Egan.


"Iya, besok kan mesti bangun pagi. Kala akan masuk ke sekolah kamu." ujar Philip sambil tersenyum pada Egan. Sedang Kala hanya diam saja.


Kala masih bingung bersikap, lantaran ia tak punya orang tua sejak kecil. Dan tentu saja Philip pun tak kalah bingung, karena ia juga tak pernah mengurus anaknya dari sejak anak itu dilahirkan. Ia ragu apakah dirinya bisa menjadi ayah yang baik atau tidak.


"Hati-hati Phil, di jalan."


Enrico berkata pada Philip.


"Yak." jawab Philip kemudian.


"Marahin aja Kala, kalau ayah ngebut. Ayah kamu itu suka kesetanan kalau lagi nyetir." lanjut Enrico.


Philip tertawa, sementara Kala mencoba tersenyum meski sangat-sangat tipis. Bahkan nyaris tak terlihat sama sekali.


"Ya udah gue jalan dulu." ujar Philip.


Enrico dan Egan mengantar kedua orang itu hingga ke mobil. Tak lama setelahnya, mereka pun mulai bergerak dan menjauh.


"Kunci pagarnya, Egan" ujar Enrico sambil bergerak ke arah pintu.


Egan pun lalu mengunci pintu pagar tersebut. Keadaan di kompleks perumahan mereka memang terbilang sepi. Sehingga pintu pagar memang harus di tutup rapat-rapat, karena takut jika ada pencuri atau apapun itu. Sebab sekuriti sendiri tak mungkin mengawasi satu rumah saja, ada banyak rumah yang harus di perhatikan.


"Dimana Kala."

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara orang berisik di sisi kanan telinga Egan. Refleks remaja itu pun menoleh dan melihat ke sekitar halaman. Namun tak ada siapa-siapa di sana.


Egan kembali memastikan pintu pagar tersebut telah tertutup rapat. Namun kemudian tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya.


"Haaah."


Egan terkejut dan menoleh, ternyata bik Marni. Remaja itu pun lalu menghela nafas agak panjang.


"Bik, ngagetin aja." ujarnya kemudian.


"Sudah sini bibik yang kunci, bibik nggak tenang kalau nggak ngecek langsung."


"Iya bik." jawab Egan.


Remaja itu lalu masuk ke dalam.


***


Beberapa saat berlalu, Philip dan anaknya pun akhirnya tiba di apartemen. Di sepanjang perjalanan tadi mereka tak banyak bicara, dan Philip membiarkan saja hal tersebut.


Ia ingin memberikan ruang pada Kala agar bisa merasa nyaman dengan dirinya sendiri, sebelum merasa nyaman dengan orang lain. Kini keduanya masuk ke dalam lift, dan tetap saja bungkam satu sama lain.


"Ini kamar kamu."


Philip menunjukkan sebuah kamar yang cukup besar kepada Kala.


"Ini nggak pernah ditempati siapapun, tapi ayah selalu bersihkan tiap hari. Seluruh ruangan di apartemen ini ayah bersihkan setiap hari. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal kebersihannya.


Kala mengangguk, kemudian remaja itu menyeret kopernya ke dalam.


"Ini kamar mandi, ini remote AC. Gunakan energi ditempat ini dengan bijak, ok?"


Kala kembali mengangguk. Tak lama kemudian Philip pun meninggalkan kamar tersebut. Kala meletakkan tasnya ke atas tempat tidur, ia lalu bergerak ke arah lemari dan membukanya.


Lemari tersebut benar-benar kosong dan tampaknya sudah di bersihkan pula. Kala lalu membuka koper, dan mulai menyusun pakaiannya satu persatu.


"Ric, ajarin gue caranya ngurus anak gimana?"


Philip mengirim pesan singkat pada Enrico. Tentu saja sahabatnya itu tertawa membaca pesan tersebut.


"Pertama-tama, lo harus punya stok aspirin dulu." jawab Enrico.


"Buat apaan gue aspirin?"


"Karena ngurus anak itu dijamin pusing, wkwkwkwk."


"Bangsat, gue pikir kenapa." jawab Philip lagi.

__ADS_1


Enrico pun tertawa, ia sudah tidak sabar melihat Philip berubah menjadi bapak-bapak yang menyebalkan.


__ADS_2