Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Kini Terlihat


__ADS_3

"Kal."


Egan menghampiri Kala yang kini tengah di papah oleh ayahnya, untuk dibawa pulang. Ini terjadi pada beberapa jam berikutnya, disaat jadwal praktek Philip pun telah selesai.


"Kenapa Gan?" tanya Kala heran.


"Aaaa...."


Remaja itu ingin mengatakan apa yang telah ia dengar dari Chika. Namun kini tersadar jika Philip ada diantara mereka.


"Ee, sorry ya soal ini. Gara-gara gue, lo jadi celaka terus." Egan mengalihkan topik pembicaraan.


"Udah, Kala sama om nggak nyalahin kamu koq." jawab Philip.


"Iya, lo santai aja." timpal Kala.


"Egan mau bareng Kala?" tanya Philip.


"Nggak usah om, Egan udah order taksi online soalnya. Bentar lagi sampe. Sorry ya Kal, nggak bisa nganter."


"Iya nggak apa-apa." jawab Kala lagi.


Philip lalu membawa anaknya itu ke mobil. Sedang Egan kini menunggu taksi nya datang. Enrico sendiri tak ikut pulang, sebab ada jadwal mengoperasi pasien.


***


"Kal, kata Chika di kaki lo itu ada yang bergantung. Makanya kaki lo sakit."


Egan akhirnya memberitahu Kala melalui chat di laman WhatsApp. Belum lagi ia dan Philip sampai ke apartemen. Kini ia sudah harus dihadapkan pada sebuah kenyataan yang membuat bulu kuduk merinding.


"Kal, makan yuk...!" ajak Philip pada anaknya.


"Di apartemen aja, yah."


"Nggak nyaman ya?" tanya Philip.


Kala mengangguk.


"Nanti minum obat yang tadi udah ayah ambil ya. Biar kamu bisa tidur." ujar Philip lagi dan lagi-lagi Kala mengangguk.


Setibanya di apartemen, Kala segera masuk ke kamar, sementara Philip mengorder makanan. Kala sendiri kini jadi memperhatikan dirinya di kaca. Ia antara percaya dan tidak, mengenai sesosok makhluk yang kini menggantung di kakinya.


Pasalnya makhluk itu sama sekali tak menampakkan diri. Kala tak melihat ada yang aneh dengan dirinya. Baik itu menggunakan mata telanjang, ataupun pantulan di dalam kaca.


"Lo serius Chika bilang gitu?" tanya Kala kepada Egan di chat.


"Iya, kalau nggak percaya lo chat aja anaknya langsung." balas Egan lagi.


Kala diam, kini ia membuka laman pencarian google dan mencari tau fenomena apa yang tengah ia alami saat ini.

__ADS_1


"Setan bergelayut di kaki."


Itulah kata kunci yang ia masukkan. Artikel yang keluar cukup banyak. Namun artikel-artikel tersebut hanya membahas berbagai bagian tubuh yang bisa saja dihuni oleh bangsa jin. Tidak ada satupun yang menggambarkan kondisi Kala saat ini.


"Hhhhh."


Kala menghela nafas gusar, usai mencari dengan berbagai kata kunci. Ia tetap tak menemukan jawabannya.


"Chik, kalau emang di kaki gue ini ada makhluk astralnya. Gue harus gimana, supaya dia pergi?"


Kala bertanya pada Chika melalui pesan singkat di WhatsApp.


"Lo nggak boleh takut dan harus tegaskan itu badan lo. Dalam artian pikiran lo harus menolak makhluk itu. Kalau pikiran lo menolak, otomatis tubuh lo juga akan menolak. Energi kalian jadi nggak sama." balas Chika.


Kala kini memandangi kakinya yang terasa sakit. Lalu muncul dalam benaknya jika ia harus melawan, tidak boleh membiarkan makhluk apapun menguasai dirinya.


"Kala, makan dulu."


Philip berujar pada Kala sambil membuka pintu kamar anaknya itu.


"Iya yah." ujar Kala.


"Atau mau ayah bawa kesini?"


"Nggak usah yah, Kala masih bisa jalan koq." ujar remaja itu lagi. Kini ia pun berjalan, Philip hendak membantunya namun Kala menolak.


"Yakin bisa?" tanya Philip.


"Ok." jawab Philip.


Maka dengan bersusah payah Kala melangkah sendiri menuju ruang makan.


***


Malam hari, Kala tertidur dengan lelap. Namun tiba-tiba saja ia merasa gelisah. Pasalnya kaki remaja itu kembali terasa sakit, Kala pun membuka mata. Namun ia terkejut melihat seseorang yang duduk di atas kakinya.


"Yah?"


Kala mengira itu Philip, sebab lampu kamar kini sudah dimatikan. Sehingga sosok tersebut samar di matanya.


"Yah?"


Panggil Kala sekali lagi. Namun kemudian sosok itu mengeluarkan suara-suara aneh. Disitulah Kala tersadar jika itu bukanlah Philip.


"Ayaaaah, yaaaah."


Teriaknya memecah keheningan malam. Ia tidak bisa berlari bahkan bergerak. Sebab makhluk itu seolah mengunci pergerakan tubuhnya, terutama di bagian kaki.


"Ayaaaah."

__ADS_1


"Braaak."


Philip membuka pintu dan segera menghidupkan lampu, tampak Kala ketakutan dengan tubuh yang sudah di banjiri keringat.


"Kala."


Philip menghambur ke arah sang anak.


"Kamu mimpi buruk, hah?"


Kala menggeleng.


"Kala nggak tau itu tadi mimpi apa bukan, yah. Ada orang disini." ujarnya menunjuk ke arah kakinya.


"Tunggu disini...!"


Philip kemudian beranjak, dan kembali dengan segelas air putih. Kala meminum air tersebut hingga setengah. Sementara Philip terus memberikan perhatian padanya.


"Kamu udah nggak apa-apa kan?" tanya Philip setelah beberapa saat berlalu.


Kala mengangguk, Philip lalu memberinya tablet obat. Kala meminum obat tersebut, lalu kembali berbaring.


"Kala takut yah." ujarnya kemudian.


"Ayah temenin kamu disini."


"Jangan pergi ya yah."


"Nggak, ayah tidur disini." ujar Philip.


Kala memejamkan mata, kemudian dalam hitungan menit ia pun terlelap. Philip melangkah untuk mematikan lampu, setelah itu ia kembali ke arah tempat tidur Kala. Namun tiba-tiba ia terkejut, lantaran melihat pantulan cermin yang mengarah ke kaki Kala.


Di dalam cermin tesebut seperti ada sosok yang tengah duduk di kaki anaknya itu. Buru-buru Philip menghidupkan lampu, namun tak ada siapa pun di atas tempat tidur kecuali Kala sendiri.


Pria itu kembali mematikan lampu dan mengecek hal tersebut ke dalam kaca. Namun di pantulan kaca sudah tak terlihat apa-apa. Philip menghela nafas, mungkin ia lelah pikirnya. Akhirnya pria itu turut berbaring di samping sang anak.


Tanpa ia ketahui bahwa sejatinya tampilan di kaca, kini berubah seperti tadi. Sesosok makhluk itu tetap duduk di kaki anaknya.


***


"Pa, kayaknya kita mesti bawa Kala ke alternatif deh." ujar Egan pada Enrico, ketika pagi telah menyapa menggantikan malam. Saat ini ia dan ayahnya tersebut tengah menikmati sarapan pagi di ruang makan.


"Alternatif." ujar Enrico seraya menarik salah satu sudut bibirnya.


"Egan tau papa nggak akan percaya soal itu. Tapi kata Chika teman Egan, di kaki Kala tuh ada makhluk yang menggelayuti. Makanya kaki dia yang seharusnya nggak apa-apa, malah jadi sakit kayak gitu."


Enrico menghela nafas.


"Egan, udah paling bener yang kayak gitu itu dibawa ke medis. Banyak loh kasus keseleo, patah, atau cidera kaki lainnya dibawa ke alternatif tapi malah berakibat fatal. Ada yang sampe osteosarkoma atau kanker tulang ganas. Gara-gara di pijat sembarangan sana-sini. Lagian juga nanti Kala pasti sembuh, kalau dia benar-benar mengikuti anjuran dokter."

__ADS_1


Enrico mulai memakan sarapannya. Sementara Egan terdiam, ia agaknya harus bergerak sendiri sekali lagi bersama Kala.


__ADS_2