Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Balas


__ADS_3

"Pagi semuanya."


Sasono, suami Galuh. Yang tiada lain adalah adik dari ibu Kala, Gayatri. Tampak menyapa seluruh anggota keluarga dengan penuh semangat. Mereka semua kini tengah berkumpul di teras rumah. Karena ada sebagian yang hendak berangkat kerja, maupun kuliah.


"Rumah kita nyaman ya, semenjak si anak sial itu pergi." ujarnya kemudian.


"Siapa yang anak sial?"


Seseorang berujar di suatu arah. Sasono dan keluarganya yang lain pun sontak menoleh ke arah sumber suara itu. Tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi tampan, didampingi seorang laki-laki yang lainnya. Mereka melangkah mendekat ke arah Sasono sekeluarga, dengan tatapan yang tajam menghujam.


"Anda siapa?" tanya Sasono kemudian.


Keluarga itu menatap ke arah si pria yang baru datang tersebut.


"Saya ayahnya Kala."


Pria yang tak lain adalah Philip Imanuel itu berujar dengan tegas. Sasono dan keluarga tampak terkejut. Namun Sasono masih menunjukkan sikap yang menyebalkan.


"Ow, setelah belasan tahun baru muncul sekarang." ujarnya kemudian.


"Setelah anak anehnya itu menganggu ketenangan hidup orang." lanjutnya lagi.


"Buuuk."


Philip menghajar Sasono secara serta merta. Membuat semua orang terkejut dan berusaha memisahkan.


"Phil."


Enrico mencoba menahan Philip, namun Philip tampaknya sudah dikuasi emosi.


"Ternyata bapak sama anak sama aja, sama-sama nggak tau diri." teriak Sasono.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Kali ini Philip membabi buta, bahkan sampai tidak ada seorang lagi pun yang mampu menghalangi. Galuh, ibunya, dan Ghita hanya bisa berteriak. Sementara Ghandi tampak skeptis dengan semua itu. Tak lama tetangga pun mulai berkumpul dan bertanya-tanya perihal apa yang terjadi.


"Lo siksa anak gue Kala selama belasan tahun. Kalau memang nggak sanggup mengurus dia, kenapa nggak serahkan sama gue selama ini."


Philip berteriak. Hingga tanpa harus dijelaskan lagi, para tetangga pun akhirnya mengerti. Jika Philip adalah ayah kandung dari Kala.


"Lo selama ini kemana?. Hah?. Lo ngilang dan nggak mau bertanggung jawab kan?"


"Nggak usah playing victim, bangsat. Beberapa hari lalu lo kirim Kala ke gue. Darimana dia tau alamat gue, kalau kalian nggak ngasih tau. darimana kalian bisa ngasih tau, kalau kalian sendiri nggak mencari tau. Harusnya kalian bisa mencari tau sejak dulu, kalau memang mau. Saya nggak pernah pindah dari alamat saya. Bukan saya yang menghilang, tapi Gayatri yang pergi meninggalkan saya. Lantaran orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami. Saya nggak tau Gayatri hamil, dan tidak pernah ada yang memberitahu saya. Saya sudah berusaha cari dia selama bertahun-tahun."


Semua orang yang ada ditempat itu terdiam.


"Kenapa lo siksa Kala?." Philip berteriak.


"Karena anak lo aneh, bangsat."


"Dia nggak aneh."


Tiba-tiba Ghandi, adik bungsu Gayatri bersuara.


"Ghandi."


Sang ibu menegurnya, mungkin bermaksud menyuruhnya diam. Namun Ghandi tetap saja memilih untuk bicara.


"Dia nggak aneh, kalian lah yang menganggap dia aneh selama ini."

__ADS_1


"Ghandi."


"Cukup bu, sudah terlalu lama Ghandi diam atas sikap kalian terhadap Kala. Dia nggak aneh, di negara ini banyak anak yang modelnya kayak dia. Yang punya teman khayalan, yang bisa melihat apa yang nggak bisa orang lain lihat. Kalian aja yang terlalu membesar-besarkan masalah."


"Dia itu mengganggu ketenangan hidup kita semua." Galuh berteriak membela suami dan ibunya.


"Kenapa nggak di kasih ke saya?" Kali ini Philip kembali menimpali.


"Pak, bu. Mohon maaf."


Seseorang yang berdiri diantara warga berkata pada mereka.


"Saya ini kan ketua RT disini, ada pak RW juga kebetulan." Ia menunjuk pada seroang pria yang disinyalir adalah ketua rukun warga disitu.


"Ada baiknya, kita duduk bersama dan membicarakan hal ini dengan kepala dingin."


"Saya nggak mau." ujar Sasono.


"Saya mau, pak." ujar Philip.


"Saya rasa masih ada yang bisa mewakilkan, selain dari setan yang satu ini."


"Anak lo yang setan, bangsat."


Sasono menghampiri Philip dan hendak memukulnya, namun keburu ditarik oleh warga.


"Sabar pak Sasono, jangan kayak gitu."


"Dia yang muncul dan cari ribut dengan saya."


"Ya ini sudah mau dibicarakan baik-baik."


Para warga kompak menyudutkan Sasono.


Pak RT meminta pada Ghandi. Pemuda berusia 21 tahun itu pun menyanggupi.


***


"Saya masih berusia 6 tahun, saat Kala lahir. Mbak Gayatri, mbak Galuh dan Mbak Githa itu usianya jauh d atas saya semua."


Ghandi mulai bercerita perihal Kala, pada Philip, Enrico, dan juga pak RT berserta beberapa warga yang masih mengamankan lokasi. Mereka takut kalau Sasono akan datang dan membuat keributan.


Sebab Sasono terkenal sebagai warga yang suka membuat rusuh di lingkungan tersebut. Siapa saja pernah diajak berkelahi olehnya.


"Dari kecil Kala memang suka mengatakan, kalau dia melihat sesuatu yang menyeramkan. Dia bilang lihat tante bermuka hitam, monster mata merah dan lain-lain."


Ghandi melanjutkan.


"Dia kadang berteriak seperti orang kesurupan. Kadang juga dia tidur dan terbangun mendadak sambil nenangis. Saya ingat persis hampir semua kejadian yang dia alami."


"Termasuk saat dia di pukul dan disiksa?" tanya Enrico.


Ghandi mengangguk.


"Saya sering membela dia. Tapi setiap kali itu di lakukan, saya dapat hukuman. Saya takut, makanya kadang saya diam. Di rumah itu, mas Sasono dan mbak Galuh yang pegang kuasa."


"Apa kamu bersedia, kalau saya minta bersaksi di depan pihak yang berwajib. Seandainya saya melaporkan segala tindakan kekerasan, yang diterima anak saya selama ini?"


"Saya bersedia." Ghandi menjawab pasti.


Perbincangan itu pun kemudian di lanjutkan. Philip meminta beberapa data mengenai anaknya. Karena ia bermaksud memindahkan sekolah Kala ke Jakarta.


***

__ADS_1


"Brengsek."


"Brengseeek."


Sasono mengamuk di rumah, sementara kini ibu mertua, istri dan juga iparnya Githa masih terdiam.


"Kenapa laki-laki brengsek itu bisa tau rumah kita?" tanya nya kemudian.


"Siapa lagi kalau bukan anak sial itu mas." ujar Galuh.


"Bikin ribut aja pagi-pagi." Sasono kembali berujar.


"Pokoknya kita laporkan dia ke polisi, biar karirnya terancam. Kalau dia mau damai dan di cabut laporan, dia harus bayar ratusan juta ke kita. Sekalian buat ganti rugi, biaya selama kita mengurus anaknya."


"Bilang aja kalau mau duit, nggak usah pake ancaman segala."


Kali ini Ghandi nyeletuk. Pemuda itu telah kembali dari rumah pak RT, untuk mengambil berkas-berkas milik Kala. Seperti akte kelahiran, rapor dan data-data yang lainnya.


"Kamu nggak usah ikut campur, Ghandi. Kamu saja sudah memihak laki-laki itu, bukan malah memihak keluarga kamu sendiri."


Ibunya bersuara dan mencecar Ghandi.


"Silahkan aja kalau mau melaporkan mereka. Tapi mereka juga siap melaporkan kalian. Ghandi sudah kirim ke mereka termasuk ke handphone pak RT. Video-video saat kalian menyiksa Kala selama ini."


Petir laksana menyambar dengan keras, padahal tiada mendung pun tiada hujan. Satu keluarga itu tak menyangka, jika Ghandi merekam tindakan mereka terhadap Kala selama ini.


"Berani-beraninya kamu."


Sasono mendekat, namun Ghandi terlihat melawan.


"Apa?" ujarnya kemudian.


"Ghandi, berani kamu ya." ujar Galuh.


"Padahal mas dan mbak mu ini yang bantu membiayai sekolah kamu." lanjutnya kemudian.


"Dia membiayai kita, dengan mengelola perkebunan milik bapak. Dia yang numpang hidup sama kita."


"Kurang ajar kamu, kalau nggak ada dia nasib perkebunan kita itu bakalan hancur. Nggak ada yang ngurus sejak bapak meninggal."


"Halah, bela aja terus mbak. Bela dan jadilah semakin bucin. Bila perlu sembah nih suami mbak, jadiin berhala."


"Ghandi."


"Ibu juga sama aja. Ibu tuh jahat bu, jahat sama cucu sendiri."


"Diam kamu...!"


"Gayatri itu sudah membuat malu keluarga, dengan hamil di luar nikah."


Ghandi tersenyum sinis pada ibunya.


"Ibu lupa?. Hmm?. Ibu lupa saat dinikahi bapak, ibu itu sudah hamil mbak Galuh, tanpa di ketahui siapa bapaknya."


"Plaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Ghandi. Sang ibu menatapnya dengan penuh emosi.


"Ghandi udah lama pengen ngomong ini dari dulu. Ibu jahat sama mbak Gayatri, padahal ibu juga nggak suci."


Ghandi berlalu meninggalkan mereka semua, tanpa menghiraukan ibunya yang berteriak.


"Anak kurang ajar kamu, anak setan, anak sial."

__ADS_1


"Ibu menyesal melahirkan kamu Ghandi."


__ADS_2