
Faraz masuk instalasi gawat darurat tepat di depan mata Philip yang baru saja kembali dari suatu arah. Mata Philip dan mata ayah Faraz bertemu tatap.
Ayah Faraz kemudian berlalu begitu saja dengan langkah yang tak ramah pada Philip. Philip bertanya pada dokter jaga, mengapa Faraz sampai di larikan ke rumah sakit. Berdasarkan informasi ternyata anak itu terjatuh dari tangga.
Keesokan harinya di sekolah, lagi-lagi Kala dan Heru absen. Kini juga di susul Egan dan Faraz. Namun yang paling mencuri perhatian Cindy sang bintang populer sekolah adalah Kala.
Ya, perempuan itu tak menemukan Kala selama dua hari ini. Maka ia pun bertanya-tanya dalam hati, kemana perginya remaja itu.
"Ntar siang kita jadi kan jenguk Kala, Heru, sama Egan?"
Ben bertanya pada Andi dan juga Niko, yang saat ini kebetulan tengah melintas di dekat Cindy dan teman-temannya.
"Jadi." jawab Andi.
"Tapi temenin gue beli bahan buat konten YouTube gue dulu bentar." lanjut remaja itu.
Diketahui belakangan Andi memang sedang mencoba menjadi seorang YouTuber.
"Iya, gue juga mau sekalian beliin sesuatu buat mereka bertiga." tukas Ben.
Cindy terdiam, apakah mungkin Kala sakit pikirnya. Tapi, sakit apa dia?. Mengapa berbarengan dengan kedua temannya sendiri?.
"Ben."
Akhirnya Cindy menemui Ben, beberapa saat setelah bel tanda masuk dibunyikan. Kebetulan saat itu Ben berlarian dari arah toilet dan melintas di muka kelas Cindy.
"Iya kak, kenapa?" tanya Ben pada gadis itu.
"Kala sakit ya?"
Cindy langsung to the point, dan hal tersebut mengundang perhatian serta kecurigaan dari Ben. Bagaimana mungkin kakak kelas yang populer seperti Cindy, tiba-tiba menanyakan perihal Kala. Adik kelas yang notabennya baru saja masuk.
"Iya kak." jawab Ben kemudian.
"Egan sama Heru juga?"
"I, iya kak." jawab Ben lagi.
"Koq bisa barengan gitu, kena cacar air atau gimana?"
Cindy berspekulasi secara sotoy, karena dia pikir ketiga anak itu terkena wabah.
"Nggak koq kak, bukan cacar air tapi sakit biasa aja. Memang saat ini mereka ada di rumah sakit yang sama." ujar Ben.
"Apa?. Mereka masuk rumah sakit?" tanya Cindy kaget.
"Iya, dirawat gitu kak. Kalau Egan dia patah kaki, karena jatuh dari lantai dua."
"Astaga." Cindy benar-benar terkejut.
__ADS_1
"Apa kakak boleh tau rumah sakitnya dimana?. Kali aja kakak sempat mampir."
Ben kembali menatap Cindy. Perempuan itu tampaknya sangat antusias ingin bertemu Kala. Apa mungkin Kala selama beberapa waktu belakangan ini bergerilya di belakang teman-temannya?.
"Boleh nggak?" tanya Cindy lagi.
"Ah iya, boleh koq kak." jawab Ben.
Kemudian ia memberitahu Cindy dimana Kala, Egan, dan Heru di rawat. Sejatinya Cindy lebih tertuju pada Kala dan Ben dapat merasakan hal tersebut.
Usai men-share lokasi, Ben pamit ke kelas. Sementara Cindy juga kembali ke kelasnya.
***
"Serius Cindy nanyain Kala?" tanya Niko pada Ben di hadapan Andi.
Hal tersebut terjadi usai Ben bercerita jika ia habis di cegat oleh Cindy di depan kelasnya.
"Iya serius, dia sih nanyain Heru sama Egan juga. Tapi gue yakin dia cuma mau tau info tentang Kala doang. Abisnya sikap dia mengarah kesana."
"Wah, Kala bener-bener ya." seloroh Niko diikuti tawa kecil dan tipis dari Andi.
"Gercep loh anaknya." ujar remaja itu lagi.
"Tapi Kala pernah cerita nggak, Ndi. Kalau dia lagi deket sama siapa?" tanya Niko pada Andi.
"Kalau masalah cewek kayaknya nggak deh. Tapi nggak tau kalau dia cerita sama Egan."
"Jangan-jangan Cindy kali yang suka sama Kala." ujar Ben menyimpulkan.
"Bisa jadi." jawab Andi diikuti senyuman dari Niko.
"Ditaksir kakak kelas, anjay." lanjutnya kemudian.
Tak lama setelah mereka berbincang, seorang guru masuk ke kelas dan mereka melanjutkan pelajaran.
***
Siang hari Ben dan Niko menemani Andi berbelanja keperluannya. Disana mereka juga membeli buah-buahan dan beberapa makanan lain, untuk kemudian di bawa ke rumah sakit.
Tak lama setelahnya mereka menyambangi rumah sakit. Banyak cerita yang mereka dengar. Termasuk pengakuan Egan yang mengatakan jika ia tak ingat apa-apa, dan merasa tertidur.
Mereka berkumpul di ruang kamar Egan, termasuk Kala dan Heru yang datang dengan menggunakan kursi roda. Meski sejatinya mereka bisa berjalan, namun perawat menyarankan seperti itu. Mereka menurut saja agar diizinkan.
"Gue yakin ini ulah setan yang sama." ujar Heru.
Ia kini telah yakin, sebab pada malam kejadian ia benar-benar melihat sebelum akhirnya kesurupan.
"Chika sendiri ada bilang apa nggak?" tanya Andi pada Egan.
__ADS_1
"Iya sih, dia ada bilang gitu ke gue di WhatsApp." tukas Egan.
"Sumpah ini tuh bahaya banget. Dirasuki terus loncat dari gedung atau mau menabrakkan diri kayak Kala tempo hari kan berabe." tukas Niko.
"Makanya kita bener-bener harus cari jalan keluar nih." timpal Heru.
Mereka terus berbicara mengenai hantu dan sebagainya. Tanpa mereka sadari di pintu, kini ada Cindy yang mendengarkan.
Beberapa saat yang lalu, gadis itu tiba di kamar Kala. Setelah sebelumnya bertanya pada bagian Informasi. Namun ketika masuk kesana, ia hanya menemukan dokter Philip yang tengah memeriksa handphone puteranya.
Cindy menanyakan soal Kala dan Philip menjawab jika Kala ada di kamar sebelah. Tepatnya di kamar Egan. Cindy minta izin ke sebelah dan Philip pun mengiyakan.
Kini di muka ruangan Egan, ia mendengar ketiga remaja laki-laki itu tengah berbicara mengenai hal gaib.
"Tok, tok, tok."
Kala, Egan, Ben, Niko, Andi dan Heru dikejutkan oleh ketukan pintu. Mereka semua menoleh dan makin terkejut lagi, ketika mendapati Cindy hadir di hadapan mereka.
"Boleh masuk nggak?" tanya Cindy kemudian.
Egan tak menyangka jika Cindy akan berkunjung ke kamarnya. Padahal sejatinya Cindy datang untuk Kala.
"Tadi aku ke kamar kamu, Kal." ujarnya kemudian.
"Kata papa kamu, kamu disini."
Heru dan yang lainnya menahan tawa. Kemudian ia dan Ben menepuk bahu Egan yang mendadak menjadi keki. Namun Egan pun akhirnya menertawai dirinya sendiri. Ia sudah mengira jika Cindy mengunjunginya, tapi ternyata untuk Kala.
"Kamu sendirian?" tanya Kala pada kakak kelasnya itu.
Ia tak begitu canggung sebab pernah berbicara sekali dua dengan Cindy. Kala bertanya apakah Cindy sendirian atau tidak, semata untuk mencari dimana Ningrum.
Apakah gadis cantik itu juga ikut Cindy. Sebab di hari-hari biasanya Ningrum selalu ada di sisi gadis itu.
"Iya sendiri, nggak enak kalau rame-rame. Takut pada terganggu."
Andi, Ben dan Niko merasa tersindir dan saling menyikut. Sebab mereka datangnya keroyokan.
"Oh ya, ini aku bawain buah buat kalian bertiga." ujar Cindy kemudian.
"Wah, kita kebagian nih kak?" tanya Heru.
"Iya." jawab Cindy sambil tersenyum.
"Kita nggak?" seloroh Ben.
"Kan kalian nggak sakit." jawab Cindy lagi.
Mereka pun kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Duduk sini."
Kala mempersilahkan kakak kelasnya itu untuk duduk di sebuah kursi. Maka Cindy pun lalu duduk disana.