
"Ayah dimana?"
Kala mengirim pesan singkat pada Philip, ketika ia telah pulang dari sekolah.
"Ayah masih di rumah sakit, kamu jadi kan kesini?"
Philip balik bertanya pada Kala. Sebab ia memang ada menyuruh anak itu untuk datang. Saat ini Kala dijaga oleh bodyguard dan juga supir. Tetapi kedua orang itu tak mungkin mengikuti kehidupannya sampai ke unit apartemen.
Philip takut Kala tak akan merasa nyaman, jika selama 24 jam di awasi terus oleh orang lain. Bisa jadi ia akan stress dan hal tersebut bisa saja memperburuk kondisi psikisnya. Sedang Philip tak selalu punya waktu lebih untuk mengawasi sang anak, sebab ia harus bekerja.
Maka dari itu jika jadwal praktek tengah dijalani, ia mungkin akan menyuruh Kala untuk datang seperti hari ini. Untuk kemudian nanti mereka akan pulang bersama-sama.
Sebab apabila ditinggalkan sendirian di apartemen, Philip tidak tau apakah Kala akan mengalami lupa kembali atau tidak terhadap identitas diri dan juga kesadarannya.
"Kala masih di jalan yah, sebenernya Kala tuh mager banget. Kenapa Kala nggak boleh pulang aja ke apartemen?"
Kala memberikan jawaban yang berisi pertanyaan pada Philip. Ia protes lantaran di suruh mendatangi sang ayah di rumah sakit.
"Cuma bentar doang koq. Jadwal praktek ayah juga bentar lagi kelar. Nanti kita makan dulu aja dimana kek. Ayah khawatir kalau ninggalin kamu sendirian. Mau nyuruh bodyguard jagain kamu 24 jam kan nggak mungkin, takut kamu risih juga."
"Ya udah, ini Kala lagi di jalan koq." jawab remaja itu lagi.
"Ok!"
Philip menyudahi chat tersebut, sebab ia masih harus mengurus beberapa konsultasi. Para pasien sudah menunggu di luar.
Beberapa saat berlalu Kala tiba. Ia mengabari Philip via chat kemudian duduk di bagian samping rumah sakit, sambil di awasi oleh bodyguard.
Seperti suasana rumah sakit lainnya, meskipun megah dan bagus serta banyak orang yang lalu lalang. Tetap saja Kala merasa bosan. Berkali-kali ia pergi ke toilet hanya untuk membuang air kecil, saking stress dan malasnya ia terhadap tempat itu.
Lain halnya jika ia bersama teman seumuran seperti Egan. Pergi ke tempat paling bosan di dunia pun, ia masih punya teman untuk diajak bercanda atau main game online.
"Hhhhh."
Kala menarik nafas panjang kemudian mengambil handphone, dan membuka game-game favoritnya. Ia memasang headset lalu mengaktifkan suara pada salah satu game yang ia buka.
Namun ternyata remaja itu match dengan para bocil bermulut kotor. Ingin balas mengumpat, tapi ia tengah berada di rumah sakit. Takut ada yang mendengar dan juga merasa terganggu.
Akhirnya Kala menonaktifkan suara, namun kebosanan makin menyerang. Game online itu tak menolong banyak, sebab ia tak suka suasana sekitar.
"Lo main sendirian?"
Seorang remaja laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya datang menghampiri. Remaja itu duduk di sebuah kursi roda dengan kepala plontos dan tubuh kurus. Namun masih ada senyuman dan semangat di wajahnya.
"Iya." jawab Kala sambil memperhatikan remaja itu.
"Nama gue Joan." ujar si remaja.
"Degh."
Batin Kala bergemuruh. Sebab nama remaja itu sama dengan nama mendiang ayah kandung Egan.
__ADS_1
"Gue Kala." jawab Kala kemudian.
"Nama yang bagus." ujar Joan.
"Boleh gue disini?" tanya remaja itu pada Kala.
Kala yang masih memperhatikan remaja itu hanya mengangguk.
"Lo mau pinjem handphone gue?" tanya Kala padanya.
Joan menggelengkan kepala.
"Gue punya handphone sendiri koq, walau sebenarnya nggak boleh. Tapi gue bosen, jadi orang tua gue dan dokter ngebolehin." jawab remaja itu.
"Lo punya akun mobile legends?" Lagi-lagi Kala bertanya.
Joan mengangguk, dan memberikan ID akun yang ia miliki. Mereka kemudian bermain bersama. Rasa bosan yang semula Kala rasakan kini berkurang.
"Yeay."
Keduanya bersorak kegirangan ketika akhirnya mereka menang. Setelah melalui menit-menit yang cukup sengit.
"Yah elo yang MVP." ujar Joan pada Kala ketika melihat hasil pertandingan. Meski ia juga mendapat skor tinggi, namun Kala tetap lebih unggul.
"Oh iya, lo keluar kayak gini emang nggak dimarahin perawat?" tanya Kala pada Joan.
"Mmm, nggak. Karena gue udah cukup lama sering bolak-balik balik rumah sakit ini buat kemoterapi. Ada kali tepat setahun hari ini." jawabnya.
Untuk jenis kanker apa yang di derita Joan, Kala tak ingin bertanya lebih jauh. Bukan tak peduli ataupun simpati, hanya berusaha menjaga perasaan remaja itu.
"Lo harus istirahat, gue anterin ya?" ujar Kala kemudian.
Maka Joan pun tertawa.
"Serius lo mau nganterin gue?"
"Iya, gue anterin." Kala memastikan.
Joan yang tertawa kini menundukkan wajah cukup dalam.
"Lo baik banget, gue jadi kangen sama temen-temen sekolah gue." ujarnya dengan nada sedih.
"Emang mereka nggak pernah kesini?" tanya Kala.
"Sering, cuma gue kangen main sama mereka. Main bola bareng, mabar game online, bercanda saling toyor-toyoran kepala tanpa harus takut gue kenapa-kenapa. Sekarang mereka berkunjung dan bercanda dengan sangat hati-hati ke gue. Kadang gue nemuin salah satu dari mereka menjauh, cuma untuk nangis."
Kala diam, ia mengerti pastilah teman-teman Joan sedih melihat kondisi Joan yang seperti ini.
"Kala."
Mendadak dokter Philip muncul. Kala pun menoleh ke arah ayahnya itu. Dokter Philip tersenyum, Kala lega karena akhirnya sang ayah datang juga.
__ADS_1
"Sendirian kamu?" tanya Philip.
"Tuh om Ferdi."
Kala melirik ke arah bodyguardnya yang tengah mengobrol bersama seorang sekuriti. Dan ini,
Kala menoleh juga ke arah Joan namun,
"Degh."
Batin Kala berdetak. Bagaimana mungkin Joan bergerak meninggalkan tempat itu tanpa mengeluarkan suara. Kalaupun tidak pamit, pastilah ada suara kursi roda yang beradu dengan lantai.
"Kamu kenapa Kal?" tanya Philip seakan mampu menangkap sesuatu di wajah anaknya itu.
"Tadi ayah ngeliat ada anak seusia Kala yang pake kursi roda nggak disini?" Kala balik bertanya pada Philip.
"Maksud kamu pasien?"
"Iya pasien kanker yah, kepalanya botak." jawab Kala.
Philip makin mengerutkan kening. Sebab saat tadi ia datang, ia tak melihat siapapun di dekat Kala. Maka dari itu ia bertanya apakah Kala sendirian.
"Kamu sempat ngobrol sama dia?" tanya Philip pada Kala.
"Iya yah, namanya Joan. Kayak nama almarhum papanya Egan." tukasnya kemudian.
"Degh."
Hati Philip kini terusik.
"Ikut ayah!" ujarnya seraya beranjak.
Kala yang bingung atas sikap sang ayah, hanya mengikuti langkah pria itu. Philip berjalan tak begitu cepat, namun juga tidak lambat.
Hingga kemudian sampailah mereka pada sebuah ruangan, yang di bagian depannya di batasi oleh kaca tembus pandang. Tirai di kaca tersebut memang dibuka saat siang, untuk mendapatkan cahaya.
Kala memperhatikan baik-baik pasien yang terbaring dengan alat bantu di dalam.
"Degh."
Seperti ada yang memukul hati dan melemahkan jiwanya. Sekujur tubuh Kala merinding menyaksikan semua itu. Sebab pasien yang ia lihat itu adalah Joan.
"Yah, dia....?"
Kala tak percaya.
"Sudah satu minggu dia koma. Setelah menjalani operasi kanker otak."
Seluruh persendian Kala seperti hilang tenaga. Pernyataan Philip tersebut benar-benar menyentakkan relung batinnya. Ia masih tak percaya, sebab tadi ia dan Joan bermain game online bersama.
"Nggak mungkin yah, ini nggak mungkin." ujarnya kemudian.
__ADS_1