
"Kenapa, Kal. koq kamu diem?"
Philip bertanya pada Kala yang mendadak diam, usai mereka makan.
"Arwah orang yang ditangisi di rumah sakit tadi, dia ada di belakang ayah."
Philip kaget mendengar semua itu dan menoleh, namun tak ada apapun yang terlihat disana. Sesaat kemudian ia menarik nafas dan ingat jika dirinya merupakan seorang dokter jiwa. Dan ia saat ini tengah menangani seorang anak yang tengah terganggu mental dan jiwanya.
"Dia ngapain ngapain di belakang ayah?" tanya Philip.
"Berdiri dan ngeliatin Kala." jawab remaja itu.
"Menurut kamu dia mau apa?" tanya Philip lagi.
"Mungkin dia mau meminta bantuan Kala, untuk membongkar kasus ini."
Lagi-lagi Kala menjawab. Kali ini Philip menghela nafas agak panjang dari sebelumnya.
"Kal, kalau kita nggak punya bukti. Kita nggak bisa membantu apa-apa. Lagipula kita nggak kenal sama orang itu. Kita nggak tau dia siapa, rumahnya dimana, apa masalah yang dia hadapi belakangan ini." ucap Philip.
Gantian Kala yang menghela nafas. Ia menundukkan sejenak pandangan ke atas meja, lalu kembali menatap Philip.
"Tapi kita bisa cari tau, kalau memang kita mau membantu." ujarnya kemudian.
Yang ia maksud dengan "Kita" itu adalah ia dan Philip. Sebab dirinya sudah bersedia namun Philip tampaknya tidak.
"Lebih baik kamu fokus sama diri kamu, sekolah, dan pengobatan. Biar itu jadi tugasnya pihak yang berwajib aja." ujar Philip lagi.
Kala tak bisa bersikeras lebih lama, karena ia pun tak akan bisa apa-apa tanpa bantuan dari ayahnya itu. Untuk menyelidiki sebuah kasus ia butuh dukungan dan juga akomodasi.
Sementara satu-satunya orang yang percaya penuh pada dirinya yakni Egan, saat ini tengah mengalami cidera kaki dan tak mungkin kemana-mana dulu. Sebab Enrico pun tak akan mengizinkan.
"Kita pulang aja ya." ujar Philip.
Kala mengangguk, tak lama kemudian mereka sudah terlihat meninggalkan tempat makan tersebut.
***
"Surprise!"
Kala kaget ketika membuka pintu apartemen sang ayah. Sebab di dalam sudah ada Andi, Ben dan juga Niko. Mereka memberikan kejutan guna menyambut kembalinya anak itu dari rumah sakit.
Kala tersenyum bahkan tertawa. Meski kurang Egan dan juga Heru, namun itu tak mengurangi kebahagiannya dalam menerima kebaikan tersebut.
"Dert."
"Dert."
__ADS_1
Handphone Kala berbunyi. Ternyata pesan dari Egan dan juga Heru.
"Bro maaf nggak bisa ikut, semoga makin baik untuk selanjutnya." tulis Egan.
"Kal, jangan kesurupan lagi. Lo harus sehat." Heru menyertakan emoticon nyengir di pesannya tersebut. Kemudian Kala membalasnya dengan,
"Thanks, bro. Kalian cepet sehat juga, nggak enak kalau personilnya kurang." tukasnya kemudian.
Tak lama mereka masuk ke dalam, mereka berbincang sambil minum minuman hangat di meja makan. Selang beberapa waktu berlalu teman-teman Kala pamit. Maka ia dan Philip pun mulai beristirahat.
"Kal, obatnya diminum dulu."
Philip membawakan obat untuk sang anak. Kala menatap obat-obatan itu lalu meminumnya.
"Habis ini kalau mau main handphone, sebentar aja. Lanjut tidur, oke?"
Kala mengangguk, Philip berbalik dan hendak berlalu.
"Yah."
Philip menghentikan langkah lalu menoleh.
"Ya." ujar pria itu kemudian.
"Makasih atas semuanya." ucap Kala.
Selang beberapa saat kemudian Philip kembali dan menilik ke dalam kamar tersebut. Ternyata Kala sudah tertidur lelap. Philip menaikan selimut hingga menutupi hingga ke bagian dada anak itu. Kemudian ia mematikan lampu dan kembali keluar.
***
Esok harinya Kala kembali ke sekolah, tapi Egan dan Heru belum. Mereka bilang mungkin lusa atau besoknya lagi. Kala bertemu dengan Andi, Ben dan juga Niko.
Dan pada saat mereka tengah bercengkrama, Chika melintas. Kala memanggil Chika, namun Chika hanya tersenyum dan berbicara sedikit. Terlihat jika ia sangat terburu-buru dan agak kurang respect pada Kala.
Kala sendiri menjadi bingung, sebab tak biasanya Chika bersikap demikian. Ia adalah teman yang sangat perhatian pada Kala.
"Chika kenapa sih?. Koq aneh?"
Kala berbicara pada Andi, Ben dan juga Niko. Ketika sahabat itu saling melirik satu sama lain. Mereka tau kejadian antara Chika dan Cindy tempo hari. Mereka belum akan memberitahukan hal tersebut pada Kala, sebab bisa jadi Kala akan runyam dibuatnya.
"Lagi PMS kali." Andi berseloroh.
"Iya, Kal. Cewek kan kalau lagi PMS suka gitu. Suka tiba-tiba cuek dan aneh nggak jelas." Niko menimpali, diikuti anggukan kepala Ben.
"Iya kali ya." ucap Kala.
"Udah, masuk yuk!. Apa mau ke kantin dulu?" tanya Andi.
__ADS_1
"Gue tau lo pasti kangen jajan di kantin." lanjutnya kemudian.
Kala tertawa.
"Iya sih, tapi ntar aja deh. Tunggu istirahat." tukas Kala.
"Oke, kita masuk aja gimana?" ajak Andi lagi.
Kemudian mereka pun sepakat lalu masuk ke kelas. Di kelas sendiri anak-anak menyambut kedatangannya dengan gembira. Banyak dari mereka yang mendekat dan menanyakan kondisi Kala.
Mereka juga meminta maaf tidak bis menjenguk secara langsung, karena sebagian dari mereka ada yang baru tau jika Kala masuk rumah sakit.
***
Malam hari.
"Gimana sus?"
Enrico yang dinas saat itu bertanya pada salah seorang perawat, yang menangani pasien di kamar bekas Kala. Pasalnya pasien itu histeris dan minta dipindahkan ke kamar lain. Sementara kamar lain sedang penuh.
Akhirnya pihak keluarga menyetujui bila pasien itu diberi obat penenang supaya dia bisa tidur.
"Pasien sedang tidur, dok." jawab perawat itu.
Enrico kemudian menilik ke dalam kamar rawat dan memeriksa kondisinya.
"Keluarganya sedang dimana?" tanya nya lagi.
"Tadi sedang keluar untuk ibadah, dok." jawab si perawat.
"Oke, baik."
Enrico segera keluar dan si perawat mengekor dari belakang.
"Dokter Enrico."
Terdengar suara seperti bisikan yang menyeramkan di telinga Enrico. Sontak ia menoleh dengan penuh keterkejutan.
"Suster panggil saya?" tanya nya ada si perawat yang ada di belakang.
Perawat tersebut mengerutkan dahi dan menatap sang dokter dengan penuh tanda tanya.
"Manggil?. Nggak tuh." jawabnya kemudian.
Enrico melihat pasien yang masih tertidur lelap.
"Mungkin saya salah dengar." ucapnya kemudian. Sesaat kemudian ia dan perawat itu benar-benar berlalu.
__ADS_1