Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu

Ayah Percayalah Aku Bisa Melihat Hantu
Chika Cemburu


__ADS_3

Cindy mendorong Kala kembali ke kamarnya. Saat perawat mengatakan jika remaja itu harus beristirahat. Begitupula dengan Egan dan Heru.


Sedang Andi, Ben dan Niko pamit untuk makan dan ngopi sejenak di kantin rumah sakit. Mereka berjanji akan kembali guna menjaga ketiga teman mereka itu.


"Sini, aku bantu."


Cindy membantu Kala untuk kembali berbaring di tempat tidur, meski sejatinya Kala bisa melakukan hal tersebut tanpa bantuan siapapun. Cindy meletakkan infus Kala ke holder yang ada di samping. Kemudian menarik selimut dan sedikit menyelimuti remaja itu.


"Kamu nanti kalau pulang, hati-hati ya."


Kala berujar pada kakak kelasnya tersebut. Cindy begitu tersipu dengan perhatian Kala. Meski remaja itu agak sedikit aneh menurutnya.


Mereka beberapa kali bertemu, akrab, lalu kadang seperti tak kenal jika bertemu. Dan hari ini, ia bersikap sedemikian perhatian terhadap Cindy.


Tentu saja Cindy bahagia. Sebab semenjak masuk ke sekolah, ia belum pernah tergetar hatinya ketika melihat seorang laki-laki. Baru pada Kala ia seperti itu.


Bukan tak banyak siswa tampan dan populer di angkatannya. Namun hanya Kala yang berhasil mencuri perhatian gadis itu.


"Nanti kalau kita ketemu di sekolah, jangan cuek lagi ya Kal. Aku sedih loh, kalau kamu bersikap kayak gitu. Egan aja boleh temenan sama kamu, masa aku nggak."


Cindy berujar sambil tersenyum. Kala sendiri agak bingung dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Pasalnya ia tak pernah merasa cuek pada Cindy. Malah kadang saat ia hendak tersenyum pada Cindy. Gadis itu malah terlihat melengos dan acuh tak acuh.


"Janji ya, Kal." ujar Cindy sekali lagi. Kala pada akhirnya hanya mengangguk.


Mereka lalu lanjut berbincang, sampai kemudian Cindy pamit. Karena ia ingin agar Kala beristirahat. Saat keluar dari kamar Kala, Chika yang baru saja tiba melihat Cindy. Namun Cindy tak melihat Chika, sebab ia kini membalas pesan dari taxi online yang menjemputnya.


Entah mengapa hati Chika serasa terbakar. Ia seperti tidak rela jika Kala dikunjungi oleh seorang gadis. Apalagi yang cantik seperti Cindy.


Chika berlalu hendak menuju ke kamar Kala. Namun entah mengapa kekesalan di hatinya terhadap Cindy kian bertambah besar. Ia ingin memeringatkan kakak kelasnya itu untuk tidak menggangu Kala.


Akhirnya ia pun berbalik dan menyusul Cindy. Namun anehnya gadis itu sudah tak nampak. Padahal jika melihat kecepatan saat ia berjalan tadi. Cindy harusnya saat ini masih berada di lobi utama rumah sakit. Namun Chika sama sekali tak melihat gadis itu, meski matanya telah menjelajahi kesana-kemari.


Chika lalu mengurungkan niatnya untuk berbicara pada Cindy. Ia berbalik dan hendak kembali ke tujuan awal. Namun kemudian langkahnya terhenti.


Tatkala ia melihat sosok Cindy yang tengah berdiri di suatu titik sambil memperhatikan dirinya. Chika terdiam, Cindy memberikan tatapan dan senyuman paling aneh yang pernah ia lihat.


"Chik."


Terdengar suara dari suatu arah. Ternyata Ben yang baru dari kantin, memanggil dirinya. Cindy menoleh pada Ben dan juga Niko serta Andi. Ia kemudian kembali menatap ke arah Cindy, namun gadis itu sudah raib.

__ADS_1


"Lo ngapain disini?" tanya Ben ketika mereka telah mendekat.


"Iya, Chik. Kata lo, lo dimarahin sama kakak lo dan nggak dibolehin kemana-mana." timpal Niko.


"Kakak gue lagi nggak ada di rumah, makanya gue kesini. Gue khawatir sama Kala." ujarnya kemudian.


"Ya udah, kedalam aja yuk." Kali ini Andi yang bersuara.


Mereka semua pun kembali ke dalam. Ben menemani Egan. Heru bersama dengan Niko, sedang Kala ditemani oleh Andi dan juga Chika.


***


"Bu, Kala tadi di pukul oleh tante. Kata tante Kala anak setan. Apa ibu sekarang jadi setan?. Kala mau ketemu ibu, ibu dimana?"


Hati Philip serasa di sayat-sayat ketika membaca tulisan tersebut. Kemarin ia meminta Kala menuliskan apa saja yang pernah ia alami selama tinggal dengan keluarga ibunya.


Philip dan rekan sejawatnya yang juga sesama psikiater. Telah sepakat untuk mempelajari kasus yang menimpa Kala dan juga teman-temannya.


Ia ingin mencari solusi untuk anak itu. Namun kala mengatakan, jika ia tak perlu lagi menulis apa-apa. Sebab ia memiliki sebuah buku, yang telah ia tulis sejak ia masih di TK O besar. Saat ia baru bisa menulis dan mengungkapkan perasaannya.


Kala menyerahkan buku itu pada Philip, dan baru membuka halaman pertama saja hati Philip sudah hancur.


"Bu, tapi kata orang-orang. Kalau ada yang mati, pasti masuk surga. Apa ibu di surga?. Boleh nggak Kala kesana nyusul ibu?"


Air mata Philip mendadak merebak di pelupuk mata. Tulisan tangan Kala itu sebenarnya tanpa titik dan juga koma. Tentu saja sebab ia belum mengerti akan hal tersebut. Namun begitulah kira-kira isi pesan yang ia tulis saat itu. Meski ada beberapa yang bahkan tersambung tanpa spasi.


Di usia 5 tahun ia sudah sangat lancar menulis, dibanding teman-teman seusianya. Ia dibungkam ketika bersuara. Dianggap anak nakal dan juga aneh. Tetapi itu justru membuat ia memendam segalanya dalam hati, dan menjadikan ia memiliki bakat menulis. Philip membalik halaman berikutnya.


"Dear ibu, tadi teman Kala ada yang ulang tahun di sekolah. Dia di cium oleh mama dan papanya. Ibu bisa pulang nggak untuk cium Kala. Ajak ayah juga ya, bu. Mereka bilang Kala nggak punya ibu-ayah. Kala bilang, ada. Tapi mereka nggak percaya."


Air mata Philip benar-benar jatuh Kali ini. Andai Gayatri mengatakan padanya jika ia hamil. Pasti Kala tak akan mengalami semua hal buruk tersebut. Philip akan mengasuh anak itu dengan baik. Ia pasti tumbuh menjadi anak yang bahagia.


***


Di rumah orang tua Gayatri, pukul 01:00 dini hari.


"Sreeet."


"Sreeet."

__ADS_1


"Sreeet."


Sebuah langkah yang diseret terdengar menuju ke arah belakang. Galuh sang tante yang sering menyiksa Kala terbangun, akibat pintu kamar yang ternyata tak ia kunci. Ia mendengar suara langkah tersebut dan penasaran.


Karena takut ada maling yang masuk. Ia sendiri tak percaya pada hantu dan makhluk gaib lainnya. Maka dengan berani ia pun keluar dari kamar.


"Sreeet."


"Sreeet."


"Sreeet."


Langkah itu kembali terdengar. Mata Galuh tertuju pada kamar anak bayinya, yang terbuka sedikit. Sama seperti pintu kamarnya tadi. Galuh melangkah ke arah sana dan sekalian ingin mengecek kondisi sang anak.


"Kreeek."


Ia makin membuka Lebar pintu tersebut. Namun, ia tak melihat anaknya di dalam box."


Galuh pun mendadak panik. Ia mencari kesana-kemari, sampai kemudian ia melihat sang ibu melintas.


"Sreeek."


"Sreeek."


"Sreeek."


Ternyata yang sedari tadi berbunyi adalah seret langkah kaki ibunya. Galuh menyusul, apalagi setelah ia melihat bayinya yang berada di gendong oleh sang ibu.


"Bu, dia kenapa bu. Nangis ya?"


Galuh bertanya pada sang ibu. Namun wanita itu tak menjawab dan terus saja melangkah.


"Bu." panggil Galuh sekali lagi.


Sang ibu menoleh dengan tatapan kosong, dan ternyata di punggung bayi itu tertancap sebilah pisau.


"Aaaaaaaaaaaaa."


Jerit Galuh kemudian terdengar hingga membangunkan seisi rumah.

__ADS_1


__ADS_2