
"Wah songong tuh anak."
Faraz berujar. Ketika ia tengah makan di kantin dan menemukan Kala tengah menatap ke arahnya. Wajah Kala menyeringai, di sertai dengan senyum sinis dari salah satu sudut bibirnya yang sengaja ditarik.
Hal tersebut juga di saksikan oleh kedua teman Faraz yakni Lucky dan Reza. Kedua remaja itu kebetulan duduk di dekat Faraz.
"Minta di kasih pelajaran tuh bocah. Dia kira abis menyerang lo waktu itu, dia bisa menguasai sekolah ini." Lucky menjadi kompor bagi Faraz.
"Lo nggak boleh diem aja, bro. Nama lo taruhannya." Reza menimpali.
Faraz balas menatap Kala dan Kala masih belum berubah, sama seperti tadi. Kemudian Faraz mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk Kala. Ia lalu beranjak, seakan memberi tanda pada Kala jika ia telah siap berkelahi.
Lucky dan Reza mengerti akan hal ini. Mereka menghentikan makan dan mengikuti Faraz. Jika Kala tidak menyusul berarti dia pengecut.
Faraz melangkah dengan pasti menuju ke sebuah gudang atau ruang kosong di bagian paling pojok sekolah. Sebuah tempat yang sangat jarang di lalui atau didatangi oleh siswa, bahkan nyaris tidak pernah.
Tempat tersebut berdebu, dan juga memiliki pencahayaan yang minim. Faraz menuju ke tempat itu dan,
"Braaak."
Lucky dan Reza membuka pintu.
"Degh."
Ketiganya terkejut, ketika melihat Kala sudah berdiri di dalam sana sambil membelakangi. Faraz, Lucky dan Reza terdiam. Pasalnya jalan menuju tempat itu cuma satu lorong, sedang tadi Kala ada di belakang mereka. Entah mengikuti langkah mereka atau tidak.
Tapi kini remaja itu berdiri dihadapan ketiganya. Dan ia menoleh pada detik kemudian. Wajah Kala begitu dingin, sekaligus seperti menantang. Membuat emosi Faraz dan teman-temannya seketika memuncak.
Kala tersenyum sinis sama seperti tadi. Faraz yang sudah tersulut emosinya itu mendadak langsung menyerang Kala. Dan perkelahian tiga lawan satu pun tak dapat dihindari lagi.
"Baaak."
"Buuuk."
"Baaak."
"Buuuk."
Kala sangat sulit dihadapi. Seperti memang ia terlatih untuk menghadapi siapapun. Ia memukul, menendang, membanting Lucky dan Reza ke dinding.
Tiba-tiba Faraz memukulnya dengan balok kayu dari belakang.
"Buuuk."
Kala sedikit sempoyongan. Kebetulan di dalam ruangan itu banyak bangku usang yang telah patah mematah, hingga memungkinkan bagi siapapun untuk menggunakannya sebagai senjata.
Kala hampir terjatuh akibat pukulan itu. Namun ia kini berbalik dan tersenyum menyeringai menatap Faraz.
"Buuuk."
Faraz kembali memukulnya, namun ia tak gentar. Bahkan tak terusik sedikitpun. Seolah sekujur tubuhnya mendadak menjadi kuat.
__ADS_1
"Baaak."
"Buuuk."
Faraz kembali memukul, sementara Kala terus tersenyum dan mendekat. Lalu...
"Hkkkkk."
Ia mencekik Faraz dengan satu tangan dan mendorongnya ke dinding.
"Hkkkkk."
Faraz mencoba mengambil nafas, sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Kala di lehernya.
Namun tangan remaja itu begitu kuat, seakan Kala memiliki kekuatan yang benar-benar besar. Sementara Lucky dan Reza sudah setengah terkapar dan tak dapat lagi menolong Faraz.
"Hkkkkk."
Kala mencekik Faraz dan mengangkat tubuh remaja itu hanya dengan satu tangan. Lucky dan Reza tercengang sekaligus takut menyaksikan hal tersebut.
"Hkkkkk."
Faraz makin tak bisa bernafas. Tak lama kemudian,
"Buuuk."
Kala menjatuhkan Faraz ke lantai. Remaja itu batuk dan berusaha mendapatkan udara. Sementara kini Kala keluar dan menghilang entah kemana.
Beberapa saat kemudian, seisi sekolah heboh. Lantaran mereka melihat Faraz, Lucky, dan Reza yang penuh luka serta berantakan menuju ke arah ruang guru.
Suasana makin heboh lagi ketika ada siswa yang menguping dan mendengar bahwa Faraz serta teman-temannya telah dianiaya oleh Kala.
Berita pun dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, serta melalui pesan broadcast di grup WhatsApp sekolah maupun kelas masing-masing.
Berita tersebut juga merambat dan menyebar di kelas Kala. Seluruh teman-temannya yang menerima broadcast, kini kompak menatap Kala. Kala yang tengah membaca buku itu pun bingung.
"Ada apaan sih?" tanya nya kemudian.
"Kal."
Egan muncul di pintu kelas Kala bersama Andi, Ben, Niko, dan juga Heru. Tadi teman-temannya itu masih berada di luar entah untuk hal apa. Wajah Egan cemas, begitupula dengan teman-teman Kala.
"Ada apaan sih?" tanya Kala heran seraya menatap mereka semua.
"Lo dipanggil guru BP." jawab Egan.
"Kenapa gue?" ia kembali bertanya, lantaran merasa tak ada urusan apapun.
"Katanya lo gebukin si Faraz lagi sama temen-temennya."
Kala mengerutkan kening,
__ADS_1
"Gue dari tadi disini anjay." ujarnya kemudian.
"Nah itu dia makanya, mending lo menghadap guru BP dulu deh." ujar Egan.
Kala menghela nafas, lalu ia berjalan ke arah ruang BP. Didampingi oleh Egan dan teman-temannya.
Sesampainya di ruangan tersebut sudah ada Faraz beserta kedua temannya yakni Lucky dan juga Reza dalam keadaan cukup mengenaskan. Tak hanya guru BP saja, ada juga guru-guru yang lain di tempat tersebut. Sebagian menatapnya biasa saja, sebagian lagi sinis.
Sebab yang sebagian itu adalah yang pro terhadap Faraz. Mungkin pernah menerima kebaikan dari orang tua Faraz atau apa. Yang jelas tampak jelas sekali di mata sebagian guru itu, mereka tak suka pada Kala dan juga teman-teman Kala.
"Kala, duduk."
Guru BP menyuruh Kala untuk duduk, maka Kala pun duduk dihadapan guru tersebut. Berdampingan dengan Faraz dan yang lainnya, namun terpisah sedikit jarak.
"Ada apa ya pak?" tanya Kala kemudian.
"Nanya lagi kamu ada apa?" Salah seorang guru yang mendukung Faraz emosi.
"Bu Afni, tenang dulu." ujar sang guru BP tersebut.
"Baik, pak."
Maka situasi pun kembali kondusif.
"Kala, apa benar kamu memukul Faraz, dan kedua temanya ini di bekas ruang di ujung koridor 51. Arah dekat laboratorium lama." tanya sang guru BP.
Kala diam sambil mengerutkan kening.
"Koridor 51 aja saya nggak tau pak, ada dimana. Jangankan mukulin mereka, untuk kesananya pun, harus lewat mana saya bingung."
"Nggak usah bohong lo, lo nyekek gue dan mukulin temen gue tadi." Faraz emosi.
"Faraz, ini giliran bapak yang bicara." ucap sang guru BP lagi. Faraz lalu diam.
"Kala." Guru BP tersebut kembali pada Kala.
"Saya bener-bener nggak tau pak, bapak boleh cek di CCTV sekolah." ujarnya kemudian.
"Bisa banget loh, mentang-mentang disitu nggak ada CCTV nya." Faraz kembali emosi.
"Dadi mana gue bisa tau disana nggak ada CCTV, sedangkan gue siswa baru disini. Dan kenapa juga lo ke tempat itu?. Kenapa lo bisa ada disana?" Kala bertanya pada Faraz. Kini semua mata tertuju pada remaja itu.
"Bisa aja kan lo memfitnah gue udah mukulin lo dan kedua teman lo ini. Lantaran disana nggak ada CCTV nya. Jadi seenaknya lo nuduh gue."
"Kala, mereka ini korban ya. Nggak usah memutar balikkan fakta kamu."
Salah seorang guru di kubu Faraz membela anak itu. Sementara yang tampaknya membela Kala masih diam.
"Jaman sekarang banyak orang sakit, bu. Demi dapat perhatian. Bisa aja kan Faraz yang mukulin kedua temannya ini, terus suruh mereka ngaku kalau dipukuli sama saya. Karena kan mereka sangat setia sama Faraz. Mungkin disuruh mati sama Faraz pun, mau. Lagipula mereka punya dendam terhadap saya, karena saya pukuli di kantin tempo hari."
Faraz dan kedua temannya menatap Kala, dan Kala balas menatap mereka dengan penuh keberanian.
__ADS_1