
Kala mulai menjalani psikoterapi sesi pertama. Ia berbaring pada sebuah tempat yang nyaman sambil memejamkan mata. Saat itu Philip mulai mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada anaknya itu.
Sebagai seorang psikiater, tentu saja Philip bersikap tenang dan menanggapi segala apa yang diceritakan sang anak dengan baik.
Namun sebagai ayah, jujur ia merasa begitu sedih. Rasa-rasanya ia ingin menyerahkan sesi psikoterapi ini pada rekanya yang sesama dokter jiwa. Ia tak kuat setiap kali mendengar penyiksaan yang dialami oleh Kala selama ini.
Dan setiap kali kesedihan itu terasa, setiap itu pula wajah Gayatri melintas di dalam benaknya. Menjadikan rasa sakit yang ia rasakan kian bertambah parah.
"Kamu merasa lebih baik?"
Philip bertanya pada Kala ketika sesi pertama itu telah selesai. Kala mengangguk dan memang tampaknya ia lebih memiliki energi serta semangat. Ketimbang tadi saat sesi belum berjalan. Terlihat jelas ia lega sebab bebannya kini sedikit berkurang.
"Oh iya, hari ini kita pulang." ujar Philip lagi.
"Tapi nanti barengan sama ayah, tunggu jam kerja ayah selesai." lanjut pria itu.
Kala pun kembali mengangguk.
"Iya yah." ucapnya kemudian.
Maka Kala kembali dibawa ke kamar tempat dimana ia dirawat. Sedang Philip melanjutkan pekerjaan.
***
"Philip masih juga sibuk dengan anak itu?"
Ibu dari Philip bertanya pada sang suami yang saat ini tengah meminum kopi di ruang kerjanya, yang ada di rumah.
"Kamu sebagai ibu mestinya lebih tau. Kamu kan paham kalau aku sibuk kerja dan nggak sempat untuk selalu tau keadaan dia."
"Hhhhh."
Ibu Philip menarik nafas panjang.
"Kita harus melakukan sesuatu, pa. Sebelum Philip makin tenggelam dengan anak itu. Dia harus menikah, berkeluarga, tidak boleh hidup seperti ini terus. Lagipula anak itu tidak jelas asal-usulnya. Apa kata orang nanti, kita tau-tau menikah tanpa pernah menikahkan anak sebelumnya."
Sang suami terdiam, dan tampaknya agak sedikit berpikir. Tak lama ia menelpon seseorang dan menyuruh untuk menyelidiki siapa Kala sebenarnya.
"Saya mau tau asal-usul anak itu secara jelas. Bila perlu data tentang keluarganya bawa semua ke hadapan saya." ucap pria itu.
Kemudian orang yang berbicara padanya di telpon pun sepakat, bahwa ia akan memenuhi apa yang ayah Philip minta. Sementara sang ibu kini bernafas lega.
***
"Kal, ayo pulang!"
Philip berkata pada sang anak ketika jam kerjanya telah usai, dan urusan administrasi telah di bayar oleh pria itu.
Mereka kemudian berjalan melintasi koridor rumah sakit, guna menuju lobi dan halaman parkir.
__ADS_1
Mereka melangkah sambil mengobrol biasa saja, layaknya ayah dan anak pada umumnya. Sampai kemudian langkah Kala terhenti, ketika ia menyaksikan seorang perempuan yang menangis di muka sebuah kamar.
Disisi perempuan tersebut ada beberapa petugas kepolisian. Tampaknya sebuah kasus serius baru saja terjadi.
"Kenapa, Kal?" tanya Philip pada sang anak.
"Orang yang nangis itu, dia pelakunya yah." jawab Kala kemudian. Philip terkejut dengan pernyataan anak itu.
"Dia membunuh dan Arwah korbannya ada di dekat dia. Lagi menatap si perempuan dengan penuh kebencian." lanjutnya lagi.
Salah satu anggota kepolisian mendengar dan menoleh pada Kala. Philip tak mau anaknya itu terlibat dalam urusan orang lain.
"Serahkan semuanya sama penyidik. Kita orang lain dan nggak berhak ikut campur." ucap Philip.
"Ayo!" ujar pria itu lagi.
Kala masih melihat ke arah perempuan yang menangis itu, namun ia kini mengikuti langkah sang ayah untuk menjauh.
"Kita makan dulu yuk, ayah laper." ujar Philip pada Kala.
Remaja itu pun mengangguk, kemudian Philip mulai menghidupkan mesin mobil. Tak lama setelahnya mereka mulai bergerak meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
Philip mengajak Kala untuk mampir ke sebuah tempat makan lesehan. Mereka memilih sebuah saung dengan pemandangan taman serta kolam ikan koi.
"Disini ikan bakarnya enak." ujar Philip ketika mereka telah duduk.
"Kala nggak suka ikan bakar, tapi di goreng dan kering." jawab Kala.
"Ya udah, kala mau ikan goreng." ujar Kala.
"Suka cumi nggak?" tanya Philip lagi.
Kala mengangguk. Lalu Philip memesan ikan bakar, ikan goreng, cumi saos Padang dan juga cah kangkung. Tentu saja dengan di lengkapi nasi.
Ketika pesanan tiba di meja, Philip mengambil piring dan menyendok nasi. Kemudian piring berisi nasi itu ia serahkan pada Kala.
"Segini cukup atau mau tambah lagi?" tanya nya kemudian.
Kala sedikit terdiam. Bahkan belum pernah ada satu orang yang dituakan dirumah ibunya, yang melayani ia seperti layaknya seorang anak.
"Kurang?" tanya Philip lagi.
"Mmm, nggak koq yah. Cukup, segini aja dulu." jawab Kala.
Philip lalu menyerahkan piring berisi nasi tersebut dan Kala pun menerimanya. Mereka kemudian makan bersama sambil berbincang. Tetapi Philip tak ada sama sekali membahas soal masa lalu Kala maupun tentang dunia gaib.
Obrolan mereka hanya membahas soal sekolah dan apa yang saat ini tengah viral di sosial media.
Kala adalah anak yang pintar dan update dengan segala yang terjadi di sekitar. Sehingba obrolan mereka selalu nyambung, bahkan di beberapa sesi ada yang mengundang tawa.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu nggak suka ikan bakar?" tanya Philip pada anaknya itu.
"Nggak tau, kayak ada bau yang aneh." ucap kala kemudian.
"Kalau di goreng emang baunya hilang?"
"Hilang." jawab Kala.
"Nih ayah cobain."
Anak itu mengambil lalu menyiapkan ikan goreng yang ada di piringnya kepada Philip.
"Enak." ucap pria itu kemudian.
"Tapi ayah masih nggak ngerti soal bau yang kamu maksud."
Kala tertawa.
"Mungkin cuma Kala yang paham soal itu." ujarnya kemudian.
Philip pun ikut tertawa dan mereka melanjutkan makan.
***
Seorang perawat membawa pasien baru ke ruang bekas di mana Kala di rawat. Ruang tersebut sudah melalui pembersihan menyeluruh tentunya.
"Nah, kamar kamu disini." ucap perawat itu seraya memindahkan pasien dan meletakkan infus ke holder yang telah ada sebelumnya.
"Keluarga saya belum datang sus?" tanya pasien itu.
"Mmm, sepertinya belum mbak. Nanti saya coba cari info dan mbaknya bisa menghubungi. Atau kalau mau minta tolong saya yang menghubungi bisa, kasih ke saya aja nomornya."
Pasien itu diam, ada raut kesedihan di wajahnya.
"Gimana mbak?" tanya si perawat sekali lagi.
"Nanti aja, sus." jawabnya.
"Baik, mbak istirahat dulu aja ya. Nanti kalau ada apa-apa panggil saya.
"Terima kasih sus." jawab si pasien.
"Sama-sama."
Perawat itu pamit, dan semuanya biasa saja. Sampai ketika malam tiba, si pasien baru terdengar berteriak histeris dari dalam kamar. Perawat yang sudah berganti shift jaga kini berlarian mendekat.
"Ada apa mbak?" tanya mereka kepada pasien.
"Ada hantu perempuan dan dia masuk ke kamar mandi."
__ADS_1
Pasien itu berteriak dengan wajah penuh ketakutan. Para perawat kemudian membuka pintu kamar mandi, dan tak ada apa-apa disana.